23 September 2021, 18:46

Wawan Didakwa Suap 2 Kalapas Sukamiskin

Tubagus Chaeri Wardana

Tubagus Chaeri Wardana

daulat.co – Bos PT Bali Pasific Pragama (BPP) Tubagus Chaeri Wardana didakwa menyuap mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas 1 Sukamiskin, Deddy Handoko dan Wahid Husen. Suap itu untuk mendapat ‘kemudahan’ dan ‘kelonggaran’ keluar dari Lapas Sukamiskin yang diberikan Deddy Handoko dan Wahid Husen.

“Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yaitu
memberi sesuatu,” ucap jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan, di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Senin (6/9/2021).

Modus yang digunakan untuk keluar dari Lapas Sukamiskin yakni berobat ke rumah sakit dan Ijin Luar Biasa (ILB). Untuk mendapat kemudahaan dan kelonggaran, kata Jaksa, Wawan memberikan Deddy Handoko berupa satu unit mobil Toyota Kijang Innova Reborn G Luxury 2.0 G AT dan uang yang jumlah seluruhnya sebesar Rp 29.000.000. Pemberian itu terjadi saat Deddy menjabat Kalapas Klas 1 Sukamiskin periode bulan Oktober 2016
sampai dengan bulan Maret 2018.

“Bahwa Terdakwa merupakan warga binaan atau narapidana yang sedang
menjalani hukuman penjara sejak tahun 2015 di Lapas Klas 1 Sukamiskin Bandung atas beberapa kasus tindak pidana korupsi. Terdakwa memiliki asisten pribadi yang membantu mengurus kebutuhannya di dalam Lapas, yaitu Ari Arifin yang juga merupakan warga binaan Lapas Sukamiskin,” kata Jaksa.

“Setelah selesai menjalani masa hukuman, Ari Arifin masih mengurus kebutuhan Terdakwa di Lapas Sukamiskin, termasuk mengurus persetujuan ijin keluar Lapas untuk Terdakwa berupa ijin berobat ke rumah sakit dan Ijin Luar Biasa (ILB) yang diajukan permohonannya kepada Kalapas Sukamiskin melalui bantuan Hendry Saputra selaku staf umum merangkap sopir dan ajudan Kalapas,” ujar jaksa.

“Bahwa sekitar bulan Oktober 2017, Hendry Saputra menyampaikan kepada Ari Arifin adanya permintaan dari Deddy Handoko yang berkeinginan membeli sebuah mobil Toyota Kijang Innova bekas (second) keluaran tahun 2016. Ari Arifin kemudian menyampaikan keinginan Deddy Handoko tersebut kepada Terdakwa di Lapas Sukamiskin, sehingga Terdakwa pada tanggal 28 Oktober 2017 memberikan uang sebesar Rp 270.000.000 kepada Ari Arifin untuk dibelikan mobil sesuai yang diminta Deddy Handoko,” ditambahkan jaksa.

Adapun pemberian uang kepada Deddy melalui rekening Hendry Saputra
berlangsung dua kali, dengan rincian Rp 19 juta pada 21 Desember 2017 dan Rp 10 juta pada tanggal 23 Februari 2018.

Sementara kepada Wahid Husen melalui Hendry Saputra, Wawan melalui Ari memberikan uang secara bertahap hingga seluruhnya sebesar Rp 63.390.000. Misalnya, sebesar Rp 20.000.000 pada tanggal 9 Mei 2018.

“Bahwa terkait dengan kemudahan ijin keluar, kelonggaran pengawalan maupun kelonggaran waktu kembali ke dalam Lapas yang diberikan Wahid Husen selaku Kalapas Sukamiskin tersebut, Terdakwa melalui perantaraan Ari Arifin memberikan uang dengan jumlah seluruhnya sebesar Rp 63.390.000 kepada Wahid Husen yang diterima melalui Hendry Saputra,” ucap jaksa.

Atas perbuatannya, Wawan didakwa dengan Pasal 5 ayat (1) huruf b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 65 ayat (1) KUHP.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Kemenpora-PP Perbasi Bahas Persiapan Kompetisi Basketball 2022

Read Next

Berikut Harapan Menteri PANRB Bagi Insan Seni Budaya