23 May 2024, 16:28

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko Enggan Beri Keterangan Kasus Gratifikasi

Dewanti Rumpoko

Dewanti Rumpoko

daulat.co – Wali Kota Batu, Dewanti
Rumpoko enggan memberikan keterangan kepada tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal, hari ini Rabu (24/3/2021), Dewanti sedianya diperiksa terkait kasus dugaan penerimaan gratifikasi di lingkungan Pemkot Batu.

Plt Jubir KPK, Ali Fikri mengatakan, Dewanti memenuhi panggilan pemeriksaan di Balai Kota Batu. Namun, Dewanti menolak memberikan keterangan kepada tim penyidik yang memeriksanya.

“Yang bersangkutan (Dewanti Rumpoko) hadir, namun tidak bersedia untuk memberikan keterangan sebagai saksi,” ucap Ali Fikri dalam keterangannya.

Dalam mengusut kasus gratifikasi di lingkungan Pemkot Batu ini, tim penyidik pada hari ini memeriksa sopir Dewanti bernama Yunedi dan Direktur PT Tiara Multi Tekni bernama Yusuf. Kedua saksi dicecar penyidik mengenai aliran dana gratifikasi.

“Dikonfirmasi terkait dengan dugaan penerimaan gratifikasi diantaranya dalam bentuk sejumlah uang kepada pihak yang terkait dengan perkara ini,” ujar Ali.

Selain tiga nama diatas, penyidik juga hari ini mengagendakan pemeriksaan terhadap  Direktur PT Borobudur Medecon, Ferryanto Tjokro. Namun, Ferryanto mangkir dari pemeriksaan penyidik.

“Yang bersangkutan tidak hadir dan tidak memberikan konfirmasi,” ungkap Ali.

Sejauh ini, lembaga antokorupsi belum menyampaikan pihak yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi di lingkungan Pemkot Batu ini. Adapun kasus gratifikasi ini merupakan pengembangan dari kasus suap yang telah membuat mantan Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko yang juga suami Dewanti.

Disebutkan dalam Pasal 168 KUHAP, terdapat tiga kategori pihak yang tidak didengar keterangannya atau dapat mengundurkan diri sebagai saksi, yakni keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga; dan suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.

Eddy sendiri telah divonis 5,5 tahun penjara. Eddy divonis bersalah karena terbukti menerima suap senilai Rp 295 juta dan satu unit mobil Toyota Alphard senilai Rp 1,6 miliar dari pengusaha Filiput Djap, Direktur PT Dailbana Prima. Suap itu terkait proyek belanja modal dan mesin pengadaan meubelair di Pemkot Batu tahun anggaran 2017 senilai Rp 5,26 miliar yang dimenangkan PT Dailbana Prima.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Cecar Istri Rudy Hartono, KPK Dalami Pengadaan Tanah di Munjul Yang Berujung Rasuah

Read Next

Sisihkan 200 Peserta, Berikut 50 Finalis MHQH Amir Sultan 2021