30 May 2024, 08:00

Uang Suap Eksportir Benur Dipakai Edhy Prabowo untuk Beli Tanah

dok KPK

dok KPK

daulat.co – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (EP). Edhy diduga membeli tanah dari hasil suap izin ekpor benih lobster atau benur di Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP). Diduga sumber uang untuk pembelian tanah itu dari para ekspoktir benur yang mendapatkan persetujuan izin ekspor dari tim khusus yang dibentuk oleh Edhy.

Pembelian tanah dari hasil dugaan rasuah itu didalami penyidik saat memeriksa seorang pensiunan bernama Makmun Saleh. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Makmun mengetahui soal pembelian dan sumber uang untuk membeli tanah tersebut.

“Makmun Saleh di dalami pengetahuannya terkait adanya dugaan transaksi pembelian tanah oleh tersangka EP. Di dalami juga terkait pengetahuan saksi mengenai dugaan sumber uang untuk pembelian tanah tersebut dari para ekspoktir benur yang mendapatkan persetujuan izin ekspor dari tim khusus yang dibentuk oleh EP,” ucap Ali Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Jumat (29/1/2021).

Namun, Ali enggan merinci lebih lanjut lokasi dan luas tanah yang dibeli itu. Pun termasuk apakah tanah tersebut telah disita penyidik KPK.

Yang jelas, lembaga antikorupsi memastikan akan mengembangkan kasus yang menjerat  Edhy Prabowo. Termasuk menjerat Edhy dan tersangka lainnya dengan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Tidak menutup kemungkinan dapat diterapkan tindak pidana lain, dalam hal ini TPPU, sepanjang berdasarkan fakta yang ada dapat disimpulkan adanya bukti permulaan yang cukup,” ujar Ali.

Selain itu, tim penyidik juga tengah mendalami adanya penerimaan uang terhadap istri Edhy Prabowo, Iis Rosita Dewi. Iis yang merupakan anggota Komisi V DPR Fraksi Gerindra itu diduga turut menikmati uang haram dari suap ekspor benur.

Pendalaman terhadap penerimaan aliran suap yang diterima Iis diketahui juga dari pemeriksaan terhadap salah seorang tenaga ahli Iis di DPR, Alayk Mubarrok, pada Rabu, 27 Januari 2021 kemarin. Alayk diduga merupakan pihak yang menyerahkan uang dari Edhy dan tersangka Amiril Mukminin kepada Iis.

“Peran istri EP (Edhy Prabowo) dalam perkara dugaan suap EP dan kawan-kawan masih dalam proses pendalaman dengan mengonfirmasi saksi-saksi,” tutur Ali.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tujuh tersangka. Ketujuh tersangka itu yakni, Edhy Prabowo, tiga staf khusus Edhy, Andreau Pribadi Misanta, Safri serta Amril Mukminin; Siswadi selaku Pengurus PT Aero Citra Kargo; Ainul Faqih selaku Staf istri Menteri KP; dan Suharjito selaku Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama.

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Andre Rosiade Bilang, Sandiaga Uno Tidak Bermaksud Framing Negatif ke X DPR RI

Read Next

Setelah Gubernur Rohidin, Giliran Kepala Bappeda Provinsi Bengkulu Diperiksa KPK