20 May 2024, 22:29

Terdakwa Bansos Ungkap Perintah Juliari Berikan Jatah Kouta Paket ke Ihsan Yunus

Ihsan Yunus

Ihsan Yunus

daulat.co – Mantan kuasa pengguna anggaran (KPA) Kementerian Sosial (Kemensos) Adi Wahyono menyatakan pernah diperintahkan Juliari Peter Batubara saat menjabat Menteri Sosial (Mensos) untuk memberikan kuota bantuan sosial (bansos) sembako terkait penanganan Covid-19 kepada Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Ihsan Yunus.

Kuota bansos untuk Ihsan yang saat itu menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI disebut sebanyak 400 ribu paket.

Pengakuan itu disampaikan saat Ihsan Yunus bersaksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap pengadaan bansos Covid-19 dengan terdakwa Adi dan Eks Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos, Matheus Joko Santos, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (29/6/2021).

Adi menyampaikan hal tersebut saat diberikan kesempatan oleh majelis hakim menanggapi kesaksian Ihsan Yunus.

“Saudara saksi pak Ihsan Yunus, saya diperintah pak menteri untuk memberikan kuota 400 ribu,” ucap Adi yang duduk di kursi terdakwa.

Ketua Majelis Hakim Muhammad Damis sempat memotong lantaran pengakuan yang disampaikan Adi dinilai terlalu tercepat. “Bagaimana-bagaimana? Pelan-pelan. Saudara diperintahkan oleh..,” kata hakim Damis.

“Pak Juliari untuk memberikan kuota sebanyak 400 ribu,” sambung Adi.

Bukan tanpa sebab Adi menyampaikan hal tersebut. Pasalnya, Ihsan Yunus dalam kesaksiannya kerap membantah menerima jatah kuota tersebut. Dalam keterangannya, Adi lantas menyeret nama Agustri Yogasmara alias Yogas. Yogas disebut-sebut salah satu operator Ihsan Yunus terkait jatah paket bansos.

“Jadi menurut saya ada ketidakjelasan komunikas antara Yogas dengan saudara saksi, jadi tidak bisa tergambarkan pemberian kuota itu kepada saudara saksi,” tutur Adi menambahkan.

Merespon pengakuan Adi, Ihsan Yunus bersikukuh atas keteterangan yang sudah disampaikanya dalam persidangan. Dia bersikukuh tak pernah mendapatkan jatah kouta paket bansos.

“Saya tetap pada keterangan saya,” ujar Ihsan Yunus menanggapi.

Sebelum itu, Adi dalam persidangan sempat mencecar Ihsan Yunus. Adi mencecar soal jatah kouta Ihsan dan korelasi kouta tersebut dengan PT Andalan Pesik International. Perusahaan tersebut merupakan salah satu vendor pengadaan bansos Covid-19.

“Apakah anda kenal PT Andalan Pesik?,” tanya Adi ke Ihsan Yunus.

“Tidak kenal,” jawab Ihsan Yunus.

“Apakah saudara pernah mendapatkan laporan dari Yogas bahwa Andalan Pesik adalah kouta milik saudara saksi?,” tanya Adi.

“Tidak pernah,” jawab Ihsan Yunus.

Sebelumnya, Direktur PT Andalan Pesik International, Rocky Josep Pesik saat bersaksi mengaku pernah diminta fee sebesar 5 persen. Permintaan itu datang dari adik politisi PDIP Ihsan Yunus, Iman Ikram dan Yogas.

Rocky mengaku mendapatkan tiga paket pengadaan bansos, Yakni DKI 1, Bodetabek 1, dan DKI 3 dengan total 115 ribu paket senilai Rp 30 miliar. Dari nilai pengadaan, Rocky mengambil keuntungan 12-13 persen.

“Karena saya dapat tiga tahap, jadi saya diminta berikan 5 persen dari nilai proyek yang didapat jadi nilai satu paket bansos Rp 270 ribu dikurangi pajak sekitar Rp 250 ribu,” ucap Rocky saat bersaksi untuk terdakwa Juliari, Rabu (9/5/2021).

“Tapi tidak saya berikan karena tidak berani. Saya sejak awa hanya tahu harus beli tas (goodybag) ke Pak Iman dan Pak Yogas, jadi hanya tas ke mereka dan tidak berhubungan langsung dengan pejabat Kemensos,” ditambahkan Rocky.

Rocky hanya memberikan Rp 670 juta kepada Iman dan Yogas sebagai kompensasi lantaran tidak membeli “goodybag” dari Iman dan Yogas merek PT Sritex.

“Saya berikan ke Pak Joko dan tim, tidak ada permintaan tapi Pak Joko dan tim saya berikan tiap tahap Rp 50 juta jadi total yang diberikan Rp 150 juta. Saya berikan ke salah satu staf Pak Joko, namanya Pak Yoki di parkiran,” ujar Rocky.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Pedagang Pasar Comal Tanggapi Jam Operasional: Kita Cuma Rakyat Yang Bisa Menerima

Read Next

Setjen DPR Indra Iskandar Lepas 8 Pegawai Purnabakti