23 May 2024, 23:34

Suap Mensos Asal PDIP, KPK Sita Sejumlah Dokumen Pengadaan Bansos Covid-19

Mensos Juliari P Batubara

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sejumlah dokumen terkait kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) wilayah Jabodetabek untuk penanganan Covid-19 yang menjerat mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara. Dokumen tersebut diamankan dari hasil upaya paksa penggeledahan di sejumlah tempat.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, ada empat lokasi berbeda yang disatroni penyidik pada Selasa (8/12/2020). Empat lokasi berbeda itu yaitu rumah pribadi dan rumah dinas mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara serta 2 kantor perusahaan yang diduga bekerjasama dengan Kemensos dalam penyaluran Bansos.

“Adapun barang-barang yang ditemukan dan diamankan diantaranya berbagai dokumen yang terkait dengan perkara ini,” ungkap Ali, Kamis (10/12/2020).

Ali membenarkan 2 kantor perusahaan itu merupakan vendor yang mengerjakan paket bansos. Namun, Ali saat ini belum mau mengungkapknya. Selanjutnya, kata Ali, tim penyidik akan menganalisa beberapa dokumen dimaksud.

“Untuk selanjutnya segera melakukan penyitaan,” ujar Ali.

Diketahui, KPK telah menjerat Menteri Sosial Juliari P. Batubara dan empat orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait bantuan sosial (bansos) untuk wilayah Jabodetabek tahun 2020.

Selain Wakil Bendum PDIP itu, KPK menjerat Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono selaku pejabat pembuat komitmen di Kemensos serta dua pihak swasta Ardian IM dan Harry Sidabuke sebagai tersangka.

Dugaan suap ini diawali dari pengadaan bansos penanganan Covid-19 berupa paket sembako di Kemsos tahun 2020 dengan nilai sekitar Rp 5,9 triliun dengan total 272 kontrak dan dilaksanakan dengan 2 periode.

Untuk memuluskan itu, Juliari diduga menerima fee Rp 10 ribu per paket bansos dari nilai Rp 300 ribu per paket bansos. Dari paket bansos itu, Juliari diduga menerima suap dengan total Rp 17 miliar.

Matheus dan Adi Wahyono selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemsos pada Mei sampai dengan November 2020 membuat kontrak pekerjaan dengan beberapa suplier sebagai rekanan yang di antaranya Ardian I.M, Harry Sidabuke dan juga PT Rajawali Parama Indonesia (RPI) yang diduga milik Matheus.

Penunjukkan PT Rajawali Indonesia sebagai salah satu rekanan tersebut diduga diketahui Juliari dan disetujui oleh Adi Wahyono.

Pada pelaksanaan paket Bansos sembako periode pertama, diduga telah menerima fee sebesar Rp 12 miliar yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh Matheus kepada Juliari melalui Adi Wahyono dengan nilai sekitar Rp 8,2 miliar.

Pemberian uang tersebut selanjutnya dikelola oleh Eko dan Shelvy N selaku orang kepercayaan Juliari, untuk digunakan membayar berbagai keperluan pribadi Juliari.

Pada periode kedua pelaksanaan paket Bansos sembako, terkumpul fee dari Oktober 2020 sampai dengan Desember 2020 sekitar Rp 8,8 miliar yang juga akan digunakan untuk keperluan Juliari. 

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Matheus dan Adi Wahyono disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (i) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Sementara itu, Juliari disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Sementara Ardian I.M dan Harry Sidabuke yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Iskandar Juga Legowo & Sampaikan Selamat Kepada Agung – Mansur, Ini Katanya

Read Next

Ucapkan Selamat ke AMAN, Purwoko Hadibroto Apresiasi Sikap Ksatria Junaedi & Agus Sukoco