23 September 2021, 18:57

Stempel Azab Pura-Pura Miskin Penerima Bantuan Dinilai Sebagai Sumpah Serapah

daulat.co – Anggota DPRD Kabupaten Pemalang, Turah Raharjo, menyoroti stempel miskin pada rumah penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) PKH dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada rapat penanggulangan kemiskinan di Gedung DPRD Pemalang, Selasa, 3 Agustus 2021.

Dalam penilaiannya, stempel miskin pada tembok penerima PKH maupun BPNT tersebut bak ‘sumpah serapah’. Karena itu ia meminta Pemkab Pemalang melalui Dinas Sosial untuk menghapus stempel miskin tersebut.

“Dengan adanya tulisan-tulisan yang terpampang di tembok-tembok masyarakat, itu seakan menjadi sumpah serapah kita,” kata politisi PKB asal Ulujami tersebut.

Tulisan yang dimaksud Anggota Komisi B DPRD Pemalang itu adalah stempel di tembok rumah penerima PKH/BPNT dengan tulisan sebagai berikut:

Keluarga sangat miskin/miskin
Penerima bantuan PKH/BPNT

Ya Allah
Sejahterakanlah saudara kami yang miskin ini
Tapi apabila mereka pura-pura miskin, azabmu amatlah pedih.

Turah Raharjo juga menyampaikan kegelisahan sekaligus kekhawatirannya, karena belakangan stempel makin banyak ia temui di rumah-rumah warga penerima bantuan. Apalagi, jika sebelumnya banyak stempel dirumah biasa-biasa saja, belakangan stempel juga tertera di rumah yang bagus.

“Mula-mula rumah yang jelek, lama-lama yang dindingnya keramik pun ada stempel seperti itu,” katanya.

Ia berharap ada pertimbangan dari Dinsos mengenai pemasangan stempel tersebut. Jika itu program dari Dinsos Pemalang sendiri, maka diharapkan dihapus.

“Karena tidak menutup kemungkinan, dari rumah tersebut lahir anggota DPRD, bupati, atau Kepala Dinas,” kata Turah.

Sementara, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pemalang, Slamet Masduki, menerangkan, tulisan itu karena seringkali bantuan yang diberikan pemerintah kepada keluarga kurang mampu acapkali tidak tepat sasaran.

“Banyak orang kaya menerima (bantuan), sehingga kami tulis. Itu yang di-stempel yang kaya, kalau miskin enggak,” papar Masduki.

Stempel seperti itu dipasang juga dipasang di daerah lain, seluruh Indonesia. Dengan adanya stempel itu, kata Masduki, dampaknya luar biasa.

“Banyak yang graduasi karena mereka malu,” terang Masduki.

(Rizqon Arifiyandi)

Read Previous

Hari Ini Pelaksanaan Vaksinasi Bagi Keluarga Pegawai Kemenag Dimulai

Read Next

Kemenangan Greysia-Apriyani Jadi Kado Terindah HUT Kemerdekaan RI ke-76