16 June 2024, 12:07

Status Hukum Sekretaris MA Hasbi Hasan Tinggal Menunggu Waktu

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Hasbi Hasan turut terlibat dalam sengkarut suap pengurusan perkara di MA. Upaya lembaga antikorupsi meminta pertanggungjawaban hukum terhadap Hasbi tinggal menunggu waktu.

Terlebih dalam temuan awal KPK dan fakta persidangan dengan terdakwa hakim agung nonaktif Sudrajad Dimyati dkk, Hasbi diduga turut serta menerima uang pengurusan perkara di MA. KPK memastikan bakal menindaklanjuti setiap nama yang muncul dalam peraidangan dan surat dakwaan, tak terkecuali Hasbi Hasan.

“Saya kira beberapa fakta yang menarik memang ada dugaan turut serta di dalam rangkaian besar bagaimana dugaan pengurusan perkara di Mahkamah Agung. Di surat dakwaan jaksa yang sudah dibacakan dan saat ini masih berproses di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung saya kira teman-teman silakan ikuti,” ungkap Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri, Selasa (21/3/2023).

Dari fakta yang terungkap dalam persidangan, KPK selanjutnya akan menganalisa dan menentukan langkah selanjutnya. Hal ini seperti kasus dugaan korupsi pekerjaan pembangunan Stadion Mandala Krida pada Pemerintah Daerah Istimewa (DIY) Yogyakarta. Di mana KPK menetapkan tersangka baru berdasarkan fakta persidangan.

“Nanti berikutnya sama seperti Yogyakarta kemarin ketika sudah putus kemudian dianalisis ternyata ditemukan fakta hukum untuk pihak lain dipertanggungjawabkan, pasti kami tetapkan tersangka,” ujar Ali.

Kasus yang disinggung Ali tersebut yaitu dugaan korupsi pekerjaan pembangunan Stadion Mandala Krida pada Pemerintah Daerah Istimewa (DIY) Yogyakarta.

Dalam penyidikan kasus dugaan suap dengan tersangka hakim agung nonaktif Gazalba Saleh dkk, Hasbi Hasan sudah diperiksa KPK sebagai saksi. Hasbi dicecar penyidik KPK mengenai aliran uang dalam pengurusan perkara di MA.

Tak hanya itu, ruang kerja Hasbi pun telah digeledah KPK. Dari penggeledahan itu, KPK menyita sejumlah dokumen terkait putusan diduga berkaitan dengan kasus yang sedang diusut.

Merujuk surat dakwaan yang dibacakan tim jaksa KPK di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Rabu (18/1/2023), Hasbi disebut ikut membantu pengurusan perkara di MA. Adapun pihak yang menghubungkan Theodorus Yosep Parera dan Eko Suparno dengan Hasbi Hasan yaitu Dadan Tri Yudianto, Komisaris Independen PT Wijaya Karya (Wika) Beton Tbk.

Disebutkan, pada 25 Maret 2022 bertempat di Rumah Pancasila Jalan Semarang Indah Nomor 32, Tawangmas, Kecamatan Semarang Barat, Kota
Semarang, advokat Yosep Parera dan Debitur Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Intidana Heryanto Tanaka bertemu dengan Dadan Tri Yudianto (swasta) yang merupakan penghubung Hasbi. Saat itu, mereka membicarakan pengurusan perkara nomor: 326 K/Pid/2022 atas nama Budiman Gandi Suparman (pengurus KSP Intidana).

“Terdakwa I (Yosep) dan Heryanto Tanaka bertemu dengan Dadan Tri Yudianto yang merupakan penghubung dengan Hasbi Hasan (Sekretaris MA) membicarakan terkait pengurusan perkara Nomor 326 K/Pid/2022 atas nama Budiman Ganti Suparman,” kata
jaksa KPK dalam surat dakwaan Yosep dan Eko Suparno, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, Rabu (18/1/2023).

Yosep keesokan harinya mengirimkan surat tertanggal 23 Maret 2022 tentang permohonan kepada majelis hakim yang memeriksa perkara Budiman. Dadan meminta uang kepada Heryanto atas pengurusan perkara itu.

“Selanjutnya Heryanto Tanaka memerintahkan Na Sutikna Halim Wijaya untuk mentransfer uang dengan total Rp 11,2 miliar,” kata jaksa KPK dalam surat dakwaan Yosep dan Eko Suparno.

Majelis hakim kasasi pada 4 April 2022 mengabulkan kasasi dari penuntut umum Kejaksaan Negeri Semarang dan menjatuhkan pidana lima tahun penjara terhadap Budiman. Putusan itu diwarnai pendapat berbeda atau dissenting opinion dari hakim agung Prim Haryadi.

Pengurusan perkara itu menyeret hakim agung Gazalba Saleh sehingga dia diproses hukum oleh KPK. Gazalba masuk ke dalam majelis hakim kasasi yang memvonis Budiman dengan pidana lima tahun penjara.

Pengacara penyuap hakim agung, terdakwa Yosep Parera sebelumnya pernah mengungkapkan lobi pengurusan perkara dilakukan melalui Dadan Tri Yudianto dan Hasbi Hasan. Pernyataan tersebut Yosep kemukakan saat menjalani sidang kasus dugaan suap pengurusan perkara KSP Intidana.

Yosep yang duduk di kursi terdakwa mulanya membenarkan bahwa ialah yang memberi tahu PNS pada Kepaniteraan MA, Desy Yustria, bahwa Ketua Pengurus KSP Intidana Budiman Gandi Suparman divonis lima tahun penjara di tingkat kasasi.

“Karena saya mendapatkan informasi tersebut dari Saudara Dadan yang didapat dari Sekretaris Mahkamah Agung yaitu Pak Hasbi,” kata Yosep dalam persidangan, Rabu (22/2/2023).

Yosep lantas mengungkapkan bahwa alur ‘lobi-lobi’ dalam mengurus perkara di MA dilakukan melalui kliennya, Heryanto Tanaka. Kemudian Heryanto Tanaka berkomunikasi dengan Dadan Tri Yudianto. Dadan selanjutnya berkoordinasi dengan Hasbi Hasan selaku Sekretaris MA untuk membantu mengurus perkara.

“Lobinya adalah melalui Dadan. Itu langsung dari klien saya, Dadan, dan Pak Hasbi,” kata Yosep.

Usai persidangan, Yosep memastikan bahwa informasi yang didapatkan Dadan terkait perkembangan perkara di MA bersumber dari Hasbi. Pasalnya, Dadan merupakan pihak yang berkoordinasi dengan Hasbi terkait pengurusan perkara tersebut.

“Iya Dadan pasti tahunya dari Hasbi karena dia koordinasinya sama Hasbi. Waktu mereka video call kan ada saya” ujar Yosep.

Dia juga kembali menyebut bahwa alur pengurusan perkara di MA dilakukan melalui Dadan dan Hasbi. “Klien saya menghubungi Saudara Dadan. Saudara Dadan ini kemudian ini yang menghubungi Saudara Hasbi untuk ikut membantu,” kata Yosep.

(Rangga)

Read Previous

Ciptakan Guru PAUD Asyik, Dinas Pendidikan Pemalang Gelar Seminar Nasional

Read Next

Bukhori Yusuf Bersyukur RUU PPRT jadi Inisiatif DPR RI