23 June 2021, 19:23

Sidang Bansos Juliari, Sadapan KPK Ungkap Nama Ketua dan Wakil Komisi VIII

daulat.co – Rekaman sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap nama Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto dan Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily. Nama itu terungkap dalam percakapan Dirjen Linjamsos Kemensos Pepen Nazaruddin dan Ketua Sekretariat Komisi VIII DPR Sigit Bawono Prasetyo.

Nama Yandri, Ace, dan Sigit itu muncul dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap bantuan sosial (bansos) COVID-19 untuk wilayah Jabodetabek di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin 10 Mei 2021.

Awalnya, Jaksa mengonfirmasi Pepen Nazaruddin yang duduk sebagai saksi untuk terdakwa bekas Mensos Juliari Peter Batubara terkait komunikasinya dengan pihak eksternal. Dimana Jaksa mencecar apakah Pepen pernah menjalin komunikasi dengan pihak eksternal Kemensos terkait masalah bansos.

“Kalau dengan DPR tidak membahas itu, kalau dengan DPR membahas penganggaran saja. Dengan DPR atas usulan-usulan kita, kemudian anggota DPR klarifikasi atas usulan kita. Secara resmi dalam rapat dengar pendapat,” ujar Pepen saat bersaksi.

Jaksa kemudian menutar rekaman sadapan percakapan telepon antara Pepen dengan seseorang yang merujuk pada Sigit Bawono Prasetyo. Dalam rekaman yang diputar itu disebut nama Yandri.

“Hallo.. Pak Yandri nanyain pak Pepen,” kata lawan bicara Pepen dalam sambungan telepon yang diperdengarkan jaksa.

Namun setelah kalimat itu, suara rekaman yang diperdengarkan tidak jelas. Jaksa kemudian mengonfirmasi sosok lawan bicara Pepen dalam sambungan telepon tersebut. Pepen mengakui lawan bicaranya saat itu adalah Ketua Sekretariat Komisi VIII DPR Sigit Bawono Prasetyo.

“Saya dengan Sekretariat Komisi VIII, pak Sigit,” ucap Pepen.

Kemudian jaksa kembali menutar rekaman sadapan itu. Dalam percakapan yang terjadi pada November 2020 itu muncul pembicaraan yang diduga terkait jatah bansos. Berikut transkrip percakapan tersebut :

Pepen: hari H hari-hari Selasa atau apa habis dari itu aku nanti kita ketemulah sengaja di situ

Sigit: ketemu sama saya?

Pepen: heeh

Sigit: iya tapi…. A… Adi

Pepen: ee…eee..ee

Sigit: Wahyono bawa sekalian itu, saya tadi ee…. ee…. buat Januari jangan dikasih lagi

Pepen: oh gitu? Heeh boleh

Sigit: paling bagus saya, punya saya itu kemarin buat percontohan, kurang ajar Adi Wahyono

Pepen: apanya yang bagus? Itunya?

Sigit: barang-barangnya…

Pepen: yang ada di Wahyono

Sigit: yang kemarin yang bansosnya…

Pepen: oh.

Sigit: yang dari saya yang paling bagus, berasnya premium, susunya bendera, buat percontohan ini baru bener kaya gini, ke PT-PT yang lain

Pepen: heeh

Pepen: Kang Ace habis pulang itu bos, soalnya nggak bisa ditinggal ruang menteri. Masuk.

Sigit: (suara tidak jelas) nanti sama Adi Wahyono panggil. Adi Wahyono wes nakal

Pepen: ha…

Sigit: kita minumin aja dia

Pepen: ya nanti si Adi suruh hubungi si itu ya?

Sigit: hah?

Pepen: (suara tidak jelas), Adi

Sigit: Adi

Pepen: ndak lah nanti Adi

Sigit: nggak. Gini, ye its eee suruh-suruh diplotingin dulu saya suruh dikasih. Katanya saya kasih 25 atau berapa untuk Adi itu ngomong. Halo

Pepen: yaudah nanti kasih tau si Adi ya

Sigit: yaya yaya

Pepen: yo yo yo

Kemudian Jaksa mengonfirmasi beberapa nama yang disebut dalam percakapan telepon antara Sigit dan Pepen. Kepada jaksa, Pepen mengklaim Komunikasi itu membahas rapat dengar pendapat (RDP).

“Saksi tadi ada disebut nama Pak Yandri sama Pak Ace, siapa itu bisa dijelaskan?” cecar jaksa.

“Itu Ketua Komisi VIII dan Wakil Ketua,” ungkap Pepen.

Pepen mengklaim pembicaraan telepon itu bukan terkait bansos, tetapi hanya membahas RDP. Tak percaya begitu saja, jaksa lantas menyambungkan transkrip percakapan itu dengan pernyataan Sigit, di mana dalam percakapan itu tidak sama sekali membahas RDP.

“Ya mereka mungkin komplain ke Adi, mungkin udah menyampaikan akan diplot sekian tapi ternyata oleh Pak Adi…,” ujar Pepen yang langsung dipotong jaksa.

“Saksi yang tadi disebutkan antara saksi dengan Pak Sigit ya, ada Pak Adi Wahyono disebut namanya, buat Januari jangan dikasih lagi, yang kemarin buat percontohan kurang ajar Adi Wahyono, bisa dijelaskan pembicaraan ini terkait apa?” cecar jaksa.

“Saya kurang tahu persis, tapi sepertinya ini kekecewaan beliau (Sigit) terhadap Pak Adi,” kata Pepen.

Diketahui, Juliari didakwa menerima suap sebesar Rp 32 miliar dari para pengusaha yang menggarap proyek pengadaan bansos untuk penanganan COVID-19. Uang tersebut diterima Juliari lewat dua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos yakni Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso.

Uang dugaan suap untuk Juliari itu berkaitan dengan penunjukan sejumlah perusahaan penggarap proyek bansos COVID-19. Di antaranya yakni, PT Pertani, PT Mandala Hamonganan Sude dan PT Tigapilar Agro Utama.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Jaksa Tuntut Pembobol Kas BNI Rp 1,2 Triliun Maria Lumowa 20 Tahun Bui

Read Next

Praperadilan Ditolak, Kuasa Hukum Kakek Henky: Hakim Tak Menghargai Fakta Sidang