16 May 2021, 23:27

Sebut Kabareskrim, Napoleon Dapat Restu Azis Syamsuddin Cek Red Notice Djoko Tjandra

daulat.co – Mantan Kadiv Hubinter Polri, Irjen Napoleon Bonaparte menyeret nama Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Listiyo Sigit dan Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin saat bersaksi dalam sidang kasus pengurusan red notice terpidana kasus hak tagih Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra dengan terdakwa Tommy Sumardi, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (24/11/2020). Napoleon dalam kesaksiannya buka-bukaan soal kedekatan Tommy Sumardi dengan Listiyo Sigit dan Azis Syamsuddin.

Napoleon awalnya bercerita soal kedatangan Tommy Sumardi dengan Brigjen Prasetijo Utomo ke ruangannya di TMMC Polri pada April 2020. Diketahui, pengusaha Tommy Sumardi didakwa menjadi perantara suap dari Joko Tjandra kepada Napoleon dan Brigjen Prasetijo Utomo selaku Kabiro Kordinator Pengawas PPNS Bareskrim Polri.

Saat menghadap dirinya, kata Napolen,  Tommy hadir bersama Brigjen Prasetijo Utomo. Sesaaat berselang, Tommy meminta Brigjen Prasetijo Utomo meninggalkan ruangan Napoleon lantaran hendak berbincang ’empat mata’ terkait status red notice Djoko Tjandra. Dalam ruangan tersebut, Tommy kemudian meminta kepada Napoleon untuk mengecek status red notice Djoko Tjandra.

“Awal April 2020 dikenalkan dengan Brigjen Pol Prasetijo Utomo. Dia datang ke kantor saya di TMCC lantai 11 bersama dengan terdakwa. Maksud dan tujuannya adalah memperkenalkan terdakwa pada saya,” ungkap Napoleon saat bersaksi untuk terdakwa Tommy.

“Kemudian, setelah dikenalkan tidak berapa lama pada saat itu, terdakwa mengatakan pada Brigjen Prasetijo, silahkan bintang satu keluar dari ruangan ini urusan bintang tiga, sehingga Brigjen Prasetijo menunggu di ruang sepri (sekretaris pribadi) saya, sehingga saya berada di ruangan dengan terdakwa, pada saat itu terdakwa menjelaskan maksud dan tujuan, untuk minta bantuan mengecek status red notice Djoko Tjandra,”

Napoleon sempat heran, Tommy bisa membawa Prasetijo Utomo yang berpangkat Brigjen. Kata Napoleon, Tommy selanjutnya bercerita hingga bisa membawa Prasetijo.

“Lalu saya bertanya kepada terdakwa, saudara ini siapanya Djoko Tjandra?  Lawyernya? Bukan. Keluarga? Bukan. Saudara apa joko? saya temannya jawab terdakwa,” ujar Napoleon.

“itu juga menjadi pertanyaan saya. Kok bisa ada orang umum membawa seorang brigjen pol untuk menemui saya, dan Brigjen ini mau,” ucap Napoleon.

Menurut pengakuan Tommy, kata Napoleon, Tommy dan Brigjen Prasetijo sudah atas restu Kabareskrim Polri Listiyo Sigit sebelum menemuinya. Bahkan, sambung Napoleon,  saat itu Tommy menawarkan diri untuk menelepon Kabareksrim.

“Lalu dia bercerita, terdakwa yang mengatakan, ini bukan bahasa saya, tapi bahasa terdakwa pada saya, menceretikan kedekatan beliau, bahwa ke tempat saya iini sudah atas restu Kabareskrim Polri. Apa perlu telepon beliau? Saya bilang tidak usah,” kata dia.

Lantaran bisa membawa orang sekelas Brigjen Prasetijo Utomo, kata Napoleon, dirinya sedikit yakin dengan Tommy. Namun, Napoleon mengklaim saat itu masih sedikit tidak percaya dengan gerak gerik Tommy.

“Saya bilang Kabareskrim itu junior saya, tidak perlu. Tapi saya yakin bahwa kalau seorang Brigjen Pol Prasetijo Utomo dari Bareskrim dibawa ke ruangan saya, ini pasti ada benarnya,” ujar Napoleon.

Untuk lebih meyakinkan, Tommy saat itu sempat menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya. Ternyata, kata Napoleon, Tommy saat itu menghubungi Ketua DPR RI Azis Syamsuddin.

“Tetapi saya kembali tidak mudah percaya lalu melihat gestur saya kurang percaya. Terdakwa menelpon seseorang. Setelah sambung, terdakwa seperti ingin memberikan teleponnya pada saya. Saya bilang siapa yang anda telepon mau disambungkan pada saya? terdakwa mengatakan bang Ajis, Ajis siapa? Azis Syamsuddin. oh Wakil Ketua DPR RI? Ya,” tutur Napoleon.

Setelah itu, telepon genggam Tommy diserahkan ke Napoleon. Dalam pembicaraan dengan Azis, Napoleon sempat meminta arahan terkait kedatangan Tommy Sumardi ke ruangannya.

“Karena dulu waktu masih pamen saya pernah mengenal beliau, jadi saya sambung, asalamualaikum, selamat siang pak Ajis, eh bang apa kabar. Baik. Ini di hadapan saya ada datang Pak Haji Tommy Sumardi. Dengan maksud tujuan ingin mengecek status Red Notice. Mohon petunjuk dan arahan pak,” ungkap Napolen.

Kepada Napoleon, Azis lantas menyampaikan “Silahkan saja, pak Napoleon,”. “Baik,” sahut Napoleon menimpali Azis.

Setelah itu, sambung Napoleon, percekapan dengan Azia tersebut diakhiri dan kemudian menyerahkan telepon genggam kepada Tommy. “Kemudian telepon ditutup, saya serahkan kembali. Menggunakan nomor hape terdakwa,” ujar dia.

Kata Napoleon, Tommy dalam pertemuan itu juga bercerita banyak soal kedekatannya dengan Kabareskrim Listiyo. Termasuk saat menjadi koordinator pelaksana dapur umum yang digelar Bareskrim di enam titik. 

“Beliau banyak menceritakan saya tentang kedekatannya dengan Kabareskrim. Termasuk bagaimana di menjadi coordinator 6 dapur umum di. Jadi saya lebih mafhum tetapi pada saat itu saya. Kalau ingin mengecek status red notice saya tidak punya posisi yang kuat. Pengecekan hanya bisa dilakukan atas hak asasi subyek red notice,” kata Napoleon.

Jaksa Penuntut Umum sebelumnya mendakwa Pengusaha Tommy Sumardi menjadi perantara suap terhadap kepada Irjen Napoleon Bonaparte sebesar S$200 ribu dan US$270 ribu, serta kepada Brigjen Prasetijo Utomo senilai US$150 ribu.

Jaksa penuntut umum juga mendakwa Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri Irjen Pol Napoleon Bonaparte menerima suap sebesar S$200 ribu dan US$270 ribu dan
Brigjen Pol Prasetijo menerima US$150 ribu dari terpidana kasus cessie Bank Bali Djoko Tjandra alias Joko Soegiarto Tjandra.

Tommy Sumardi menjadi perantara suap dari terpidana kasus hak tagih Bank Bali, Djoko Tjandra. Suap itu ditujukan agar nama Djoko Tjandra dihapus dalam red notice atau Daftar Pencarian Orang Interpol Polri.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Tetapkan Tersangka Baru Korupsi Asuransi Jasindo

Read Next

KPK Tangkap Menteri Edhy Prabowo, Keluarga, dan Pegawai KKP