23 May 2024, 16:49

Sebelum Garap Goodie Bag Bansos Covid, PT Sritex Temui Dirjen Linjamsos Kemensos

Rekonstruksi kasus suap bantuan sosial di Kementerian Sosial

Rekonstruksi kasus suap bantuan sosial di Kementerian Sosial

daulat.co – Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kementerian Sosial Pepen Nazaruddin pernah menemui perwakilan PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex di kantornya. Pertemuan itu terjadi pada Maret 2020.

Demikian terungkap saat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) reguler Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kementerian Sosial (Kememsos) Victorious Saut Hamonangan Siahaan bersaksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi pengadaan Bansos Covid-19 dengan terdakwa Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/3/2021).

Saat pertemuan terjadi, Victorious masih menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Penanganan Bencana Sosial dan Politik pada Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial, sekaligus diangkat menjadi PPK Bansos COVID-19 dan PPK Reguler Direktorat PSKBS.

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) belakangan menjadi salah satu penyedia “Goodie Bag” (tas) bantuan sosial (bansos) sembako COVID-19. Setelah pertemuan itu, Victorious mengatakan bahwa Kemensos akhirnya menggunakan PT Sritex sebagai vendor pengadaan goodie bag untuk sembako Bansos Covid-19 untuk Jabodetabek pada 2020.

“Saat Maret 2020, saya kedatangan tamu pria dan wanita namanya Nugroho dan Tasya dari Sritex ke ruangan saya dan menyampaikan ingin ketemu Pak Dirjen Limjamsos (Perlindungan dan Jaminan Sosial) Pak Pepen, dan saya konfirmasi ke beliau ternyata bersedia menemui lalu saya antar Pak Nugroho ke ruangan Pak Pepen, sementara Tasya tetap di ruangan saya,” ucap Victorious saat bersaksi.

Victor lalu diminta keluar ruangan oleh Pepen. Setelah pertemuan antara Pepen dan Nugroho, Victor lalu mendapat perintah.

“Tapi kesepakatannya tidak disampaikan apa, hanya setelah Pak Nugroho kembali ke ruangan saya disampaikan ‘Pak Victor nanti tolong bantu distribusi’, saya katakan ‘siap, saya bantu sebisa saya’, tidak lama mereka pulang,” kata Victor.

Dikatakan Victor, distribusi yang dimaksud Nugroho tersebut adalah distribusi kantong-kantong paket sembako buatan PT Sritex kepada para vendor bansos. Victor tak menampik adanya perintah untuk mewajibkan vendor sembako Bansos Covid-19 hanya menggunakan goodie bag dari PT Sritex.

“Tugas saya bila ada vendor sembako butuh goody bag karena si Tasya juga berikan nomor saya ke vendor, jadi ada 3 sumber yang minta ke saya. Kadang si vendor sampaikan info dari Joko, ada vendor yang bilang ke saya berdasarkan petunjuk Adi Wahyono dan ada juga vendor yang yang dari Tasya butuh sekian ribu lalu kami ‘dropping’ barangnya,” tutur Victor.

Joko yang dimaksud Victor adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos sembako COVID-19 pada Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kemensos Matheus Joko Santoso. Sementara Adi adalah mantan Plt Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pengadaan bansos.

Lebih lanjut dikatakan Victor, ‘goody bag’ bansos buatan Sritex disimpan di gudang Kemensos di Kalibata. Apabila ada vendor sembako Bansos Covid-19 yang membutuhkan goodie bag, maka tinggal diambil di lokasi tersebut.

“Jadi vendor sembako berkomunikasi dan bayar langsung ke Sritex, saya tinggal ‘drop’ ke mereka, jadi saya hanya bantu transit saja,” kata Victor.

Untuk jasanya tersebut, Victor mengklaim tak mendapat honor. “Catatan jumlah ‘goody bag’ di Tasya, ketika ada vendor butuh, mendesak, gudang kosong saya sampaikan ke Tasya, silakan diisi lagi jadi gudang dipakai sebagai ‘pooling’,” terang Victor.

Dalam kesaksiannya, Victor mengaku menjadi PPK bansos sembako selama sekitar 10 hari setelah ditunjuk oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Jaminan Sosial Kemensos Mokhamad O Royani. “Maret 2020 saya dipanggil Sesditjen Pak Royani diminta membantu proses pandemi COVID-19, saat itu saya sempat memproses 5-7 perusahaan,” kata Victor.

Perusahaan-perusahaan yang sempat ia proses sebagai vendor bansos, antara lain Pertani, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), Foodstation. “Nama-nama perusahaan itu sudah ada di ‘whiteboard’ ruangan Pak Royani. Karena saya diminta memproses, jadi saya proses perusahaan-perusahaan itu, yang saya ingat Pertani, yang hadir termasuk Pak Harry Sidabukke,” ungkap Victor.

Dalam persidangan ini, Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro Harry Van Sidabukke dan konsultan hukum Ardian Iskandar Maddanatja didakwa menyuap mantan Juliari Peter Batubara senilai Rp 3,2 miliar. Suap itu disebut untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia bantuan sosial (bansos) untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek. Jaksa menyebut Harry Van Sidabukke menyuap Juliari Batubara sebesar Rp 1,28 miliar.

Sementara Ardian Iskandar, disebut Jaksa, menyuap Juliari senilai Rp 1,95 miliar. Total suap yang diberikan kedua terdakwa kepada Juliari sejumlah Rp 3,2 miliar. Harry Sidabukke disebut mendapat proyek pengerjaan paket sembako sebanyak 1,5 juta melalui PT Pertani (Persero) dan PT Mandala Hamonganan Sude.

Sementara Ardian menyuap Juliari terkait penunjukkan perusahaannya sebagai salah satu vendot yang mengerjakan pendistribusian bansos corona. Uang sebesar Rp 3,2 miliar itu, menurut Jaksa, tak hanya dinikmati oleh Juliari Peter Batubara.

Uang itu juga mengalir untuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos Covid-19 di Direktorat Perlindungan dan Jaminan Sosial Korban Bencana Kemensos Adi Wahyono serta Matheus Joko Santoso.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Eks Mensos Juliari Kerap Gunakan Pesawat Pribadi

Read Next

Korupsi Fasilitas Kredit BTN, Eks Dirut Maryono Didakwa Rugikan Rp 279 Miliar