25 July 2021, 07:34

Saksi Ungkap Ratusan Ribu Kouta Bansos untuk Politikus PDIP Ihsan Yunus

Ihsan Yunus

Ihsan Yunus

daulat.co – Mantan Pejabat Pembuat Komitmen Kementerian Sosial, Adi Wahyono, membenarkan kuota 400 ribu paket bansos sembako Covid-19 di Kemensos merupakan jatah untuk Anggota DPR RI Ihsan Yunus. 400 ribu paket bansos sembako itu disinyalir merupakan kouta tambahan untuk politikus PDIP tersebut.

Hal itu terungkap saat Adi Wahyono bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (13/7/2021). Adi bersaksi untuk terdakwa Matheus Joko Santoso dalam perkara dugaan korupsi pengadaan bansos sembako di Kemensos.

“(Kouta 400 ribu) koutanya pak Ihsan Yunus,” ungkap Adi sambil menambahkan sejumlah perusahaan yang terafiliasi dalam kouta 400 ribu milik Ihsan Yunus itu diantaranya adalah perusahaan yakni PT Mandala Hamonangan Sude dan PT Pertani.

Dalam persidangan, jaksa penuntut umum pada KPK sempat membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Adi. Dalam BAP itu, sejumlah pihak disebut mendapatkan jatah atau mengkordinir paket bansos sembako Covid-19 di Kementrian Sosial. Termasuk salah satunya Ihsan Yunus melalui adiknya Irman Ikram dan Agustri Yogasmara alias Yogas.

“Ini sebagaimana keterangan saksi dalam BAP no 64. “Setelah selesai tahap 6 menjelang tahap 7, saya dan Matheus Joko  Santoso dipanggil menteri Juliari ke ruangannya. Saat itu juga hadir Kukuh Ariwibowo. Saya langsung mendapatkan arahan dari menteri Juliari untuk pembagian kuota,” kata jaksa membacakan BAP Adi.

Kuota 400 ribu, sambung Jaksa, diberikan kepada grup Ihsan Yunus, Irman Ikram, Yogas dkk. Jaksa melanjutkan, bahwa ada kuota 300 ribu paket yang diberikan kepada Adi Wahyono dan Matheus Joko yang dikelola sebagai bina lingkungan. Serta 200 ribu paket sebagai jatah eks Menteri Sosial, Juliari Peter Batubara yang diberikan kepada kerabat dan koleganya.

“Kuota 400 ribu diberikan kepada grup Ihsan Yunus, Irman Ikram (Adik Ihsan Yunus), Yogas,” tutur Jaksa membacakan BAP Adi.

“Dengan adanya pembagian kuota di atas dimulai tahap 7, semua perusahaan terafiliasi jumlahnya akan sama dengan jumlah kuota yang diberikan Juliari. Apa benar keterangan saksi?,” cecar jaksa kepada Adi Wahyono.

Adi membenarkan semua isi BAP-nya. Jaksa  lantas kembali mencecar Adi Wahyono, apakah jatah 400 ribu paket juga diperoleh Ihsan Yunus sebelum tahap ke-7.

“Benar yah jadi baru di tahap 7 ada share khusus, atau di tahap sebelumnya sudah ada yang 400 ribu untuk Ihsan Yunus ini?,” tanya Jaksa.

Kemudian Adi menjelaskan, Yogas sejak tahap pertama sudah mengerjakan pengadaan bansos Covid-19 melalui beberapa perusahaan. Akan tetapi, Adi mengaku tidak mengetahui berapa banyak kuota yang diperolehnya.

“Kalau secara spesifik saya nggak ingat, tapi sepertinya kan perusahaan yang pernah di tahap pertama itu juga masuk ke tahap kedua, mungkin itu masih kelanjutannya Pak,” ucap Adi.

Dalam perkara ini, Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso didakwa memungut komitmen fee dari vendor penyedia bansos. Uang itu dari potongan fee bansos Rp 10 ribu per paket. Uang itu dikumpulkan atas perintah Juliari Peter Batubara. Uang yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 32,48 miliar dari berbagai perusahaan.

Penerimaan uang itu berkaitan dengan pengadaan bantuan sosial (bansos) berupa sembako dalam rangka penanganan virus Corona atau COVID-19 di Kemensos. Adapun, rincian uang yang diterima Juliari melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko yakni, berasal dari Konsultan Hukum, Harry Van Sidabukke, senilai Rp 1,28 miliar.

Kemudian, dari Presiden Direktur PT Tigapilar Agro Utama, Ardian Iskandar Maddanatja, sejumlah Rp 1,95 miliar. Sementara uang Rp 29 miliar berasal dari para pengusaha penyedia barang lainnya.

Uang dugaan suap itu berkaitan dengan penunjukan sejumlah perusahaan penggarap proyek bansos Covid-19. Diantaranya yakni, PT Pertani, PT Mandala Hamonganan Sude dan PT Tigapilar Agro Utama.

Dalam sidang sebelumnya sempat terungkap, bahwa Ihsan Yunus mendapatkan proyek penanganan Covid-19. Proyek yang didapat mantan Wakil Ketua Komisi VIII itu senilai Rp 54,43 miliar.

Hal itu terungkap saat Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) Kementerian Sosial (Kemensos) M Syafii Nasution bersaksi dalam sidang lanjutan perkara suap dana bantuan sosial (Bansos) Covid-19 dengan terdakwa mantan Menteri Sosial Juliari Batubara, di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (14/6/2021).

Ihwal paket sebesar Rp 54,43 miliar itu mengemuka saat jaksa penuntut umum pada KPK mengonfirmasi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Syafii Nasution.

“Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) nomor 6 saudara mengatakan ‘Selanjutnya saudara Ihsan Yunus mendapatkan total paket sebesar Rp 54.430.150.000 yang terdiri dari paket-paket sebagai berikut sebagaimana dalam tabel nomor 1 nama paket pengadaan bantuan penanganan Covid-19 PT DS Solution’, apa keterangan ini betul?” tanya JPU KPK, Ikhsan Fernandi kepada Syafii yang duduk di kursi saksi.

“Betul,” jawab Syafii.

Dalam persidangan, jaksa juga membacakan BAP Syafii yang menerangkan paket-paket yang berasal dari kuota milik Ihsan Yunus. Berikut paket-paket yang totalnya Rp 23 miliar tersebut :

1. Paket sembako 5.000 paket PT Cyber Teknologi Nusantara dengan nilai kontrak Rp 1 miliar.

2. Paket sembako 10 ribu paket PT Cyber Teknologi Nusantara dengan nilai kontrak Rp 2 miliar.

3. Paket sembako 45 ribu paket PT Cyber Teknologi Nusantara dengan nilai kontrak Rp 9 miliar

4. Paket sembako 55 ribu paket PT Cyber Teknologi Nusantara dengan nilai kontrak Rp 11 miliar

Diakui Syafii, secara teknis paket-paket pekerjaan milik Ihsan kemudian dikerjakan staf atau operator yang mengurus paket-paket pengadaan milik Ihsan di Kemensos. Staf tersebut yakni Agustri Yogasmara alias Yogas dan Iman Ikram yang merupakan adik kandung Ihsan Yunus.

“Seluruh paket diurus Yogas dan Iman Ikram ya? Betul ya?” cecar jaksa.

“Iya,” jawab Syafii.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Hari Bhakti Adhyaksa Ke-61, Kejari Pemalang Gelar Vaksinasi dan Bakti Sosial

Read Next

Tagih Janji Pemerintah, PKS Minta Pemerintah Segera Alihkan Gas Oksigen Industri ke Medis