23 June 2021, 17:39

Saksi Akui Yogas dan Iman Ikram Operator Politikus PDIP Ihsan Yunus di Bansos Covid-19

Pengadilan Tipikor Jakarta

Pengadilan Tipikor Jakarta

daulat.co – Mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) pengadaan bansos sembako Covid-19 Matheus Joko Santoso mengakui jika Agustri Yogasmara alias Yogas dan Iman Ikram merupakan operator lapangan politkus PDIP Ihsan Yunus terkait paket pengadaan bansos sembako untuk penanganan Covid-19.

Joko Santoso tidak membantah jika Ihsan Yunus yang pernah duduk sebagai Wakil Ketua Komisi VIII mendapatkan jatah kuota bansos sebanyak 400 ribu paket.

Joko mengungkapkan hal itu saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap pengadaan bansos Covid-19 untuk terdakwa Mantan Mensos Juliari Peter Batubara, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (7/6/2021). Ia mengamini keterangannya dalam BAP setelah dikonfirmasi jaksa penuntut umum pada KPK.

“Selanjutnya 400 ribu paket adalah milik saudara Ihsan Yunus anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDIP. Selanjutnya di lapangan saudara Yogas dan Iman Ikram yang bertindak sebagai operator yang melaksanakan pembagian paket perusahaan vendor serta penarikan uang fee dari vendor-vendor perusahaan pelaksanaan kepada saudara Ihsan Yunus?,” kata Jaksa kepada Joko.

“Betul pak,” ungkap Joko saat bersaksi.

Joko dalam kesaksiannya juga membenarkan 200 ribu paket bansos milik Juliari Peter Batubara selaku Menteri Sosial. Operator lapangan terkait paket milik Juliari itu adalah Kukuh Aribowo selaku tim teknis Menteri Juliari. Pada putaran pertama, Kukuh disebut menggarap paket bansos sejak tahap 1,3,5,6 dan tahap komunitas.

Mantan Kabiro Umum Kementerian Sosial sekaligus PPK, Adi Wahyono sebelumnya membenarkan jatah paket bansos milik Ihsan Yunus. Adi mengungkapkan hal itu saat bersaksi untuk terdakwa mantan Menteri Sosial Juliari Batubara, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (31/5/2021).

Ihwal jatah kuota untuk Ihsan Yunus itu terungkap saat saat jaksa KPK membacakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Adi Wahyono. Adi dalam kesaksiannya membenarkan keterangannya soal jatah kuota untuk Ihsan Yunus, seperti dibacakan jaksa.

“Betul,” ungkap Adi saat bersaksi.

Penuntut umum lantas mendalaminya. pasalnya, ada sejumlah pihak menjadi operator dalam kuota 400 Ribu untuk Ihsan Yunus tersebut.

“Kuota 400 ribu Ihsan Yunus, operatornya siapa?,” tanya jaksa.

“Yang saya kenal Harry Sidabukke,” jawab Adi.

“Kenal Yogas (Agustri Yogasmara)?,” cecar jaksa.

“Itu kan masuknya kelompok mereka,” kata Adi.

“Saksi tahu Yogas ini yang bagi-bagi kuota kelompok tertentu?,” tanya jaksa.

“Iya,” jawab dia.

“Yogas bagi punya siapa?,” cecar jaksa.

“Ihsan Yunus,” ungkap Yunus.

Jaksa lebih lanjut mendalami jatah kouta Ihsan Yunus. Utamanya soal dasar mengapa Ihsan Yunus mendapatkan jatah kouta. Namun, Adi mengaku tak mengetahuinya. Adi beralasan dirinya hanya menjalankan tugas.

“Saya hanya menjalankan tugas,” imbuh Adi.

Ihsan Yunus juga disebut menjadi salah satu pengusul beberapa perusahaan untuk dijadikan rekanan dalam mengurusi proyek bansos Covid-19. Hal itu sebagai mana termaktub dalam BAP Adi yang dibacakan jaksa.

“PT Bumi Pangan Digdaya 100 ribu Ihsan Yunus, pelaksana Agam; PT Mandala Hamonangan Sude 100 ribu pemiliknya Ihsan Yunus, Iman Ikram, Yogas, pelaksana Harry Van Sidabukke, Rangga, Rajif, Lucky; PT Global Trijaya 100 ribu pemilik Ihsan Yunus, Iman Ikram, Yogas; PT Indoguardika Vendos Abadi, Ihsan Yunus; PT Pertani, Ihsan Yunus; konsorsium ekonomi kerakyatan 100 ribu Bina Lingkungan,” ujar jaksa membacakan BAP Adi.

“Saya terima kuota dari PIC (Person in Charge) dan cek profilenya, saya tidak ada kewenangan lagi untuk tentukan kuota dan kuota itu dilaksanakan oleh perusahaan mereka,” tutur Adi.

Ihwal PIC itu sebelumnya juga didalami penuntut umum saat Yogas dihadirkan bersaksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap pengadaan sembako Bansos Covid-19 dengan terdakwa Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Jaksa meyakini jika Yogas merupakan PIC alias penanggung jawab atas sejumlah perusahaan yang diduga dikendalikan Ihsan Yunus.

Jaksa menyebut ada empat perusahaan dibawah kendali Ihsan Yunus. Yakni, PT Indoguardika Vendos Abadi (IVA); PT Andalan Pesik Internasional; PT Mandala Hamonangan Sude; dan PT Pertani.

“Saudara PIC 4 perusahan yang dikendalikan Ihsan Yunus, Indoguardika, Andalan Pesik, Mandala Hamonangan Sude dan Pertani, apa benar dan klop bahwa saudara yang membagi kuota ini?,” cecar penuntut umum.

Namun, Yogas yang duduk di kursi saksi menampiknya. “Tidak,” kata Yogas menimpali.

Yogas juga menampik mengumpulkan fee dari 4 perusahaan tersebut. Yogas dalam kesaksiannya juga membantah menjadi operator Ihsan Yunus. Tak hanya itu, Yogas mengklaim tak ada keterlibatan Ihsan Yunus dalam pengadaan paket sembako.

“Tidak,” imbuh Yogas.

Meski demikian, Yogas tak membantah mengenal Ihsan Yunus. Yogas juga mengaku mengenal Iman Ikram, adik Ihsan Yunus. Yogas mengaku mengenal Iman Ikram dari Ihsan Yunus.

“Betul,” singkat Yogas.

“Waktu itu saya kenal Iman Ikram di rumah kakaknya Iman Ikram pak,” ditambahkan Yogas.

“Siapa kakaknya?” cecar jaksa.

“Ihsan Yunus pak,” jawab Yogas.

“Kenalnya di mana?” tanya jaksa.

“Di rumahnya (Ihsan Yunus),” jawab Yogas.

“Dalam rangka apa waktu itu?” tanya jaksa lagi.

“Saya waktu itu diajak oleh kawan saya billiar di rumahnya Pak Ihsan,” ujar Yogas.

Yogas tampak berkelit saat dicecar sejumlah pertanyaan terkait paket untuk Ihsan Yunus maupun perusahaan – perusahaan yang terkait Ihsan Yunus. Hakim ketua, Muhammad Damis bahkan sempat beberapa kali menegur Yogas untuk berbicara jujur dalam persidangan.

“Peringatan kedua kepada saksi agar saksi memberikan keterangan yang benar, bersungguh-sungguh tidak usah melindungi seseorang dalam perkara ini agar saudara selamat,” tegas hakim Damis.

Hakim Damis bahkan tak segan mengingatkan Yogas mengenai ancaman pidana jika memberikan keterangan tidak benar dalam persidangan.

“Mohon dicatat panitera, kedua kalinya hakim ketua ingatkan ke saksi agar bersungguh-sungguh memberikan keterangan yang benar, jika tidak beri keterangan yang tidak benar diancam minimal 3 tahun, 12 tahun maksimal. Saya bisa minta panitera menurut ketentuan hukum acara boleh saudara tidak pulang malam ini”

“Dua terdakwa ini mengatakan hal berbeda dengan saudara sudah jadi urusan, berapa banyak orang disini yang saudara bohongi, jangan hanya karena ingin menyelamatkan seseorang lalu mencelakakan diri sendiri, mekanisme karena keterangan palsu di sidang BAP kami selesaikan dan kirim ke PU, sudah selesai, gak panjang urusannya, kami ingatkan 2 saksi cukup, tidak banyak,” cetus hakim Damis.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Saksi Akui Ada Permintaan Tambahan Fee Rp 1.000 untuk Operasional Juliari Batubara

Read Next

Saksi Beberkan Aliran Fee Bansos Corona ke Sekjen Hingga Dirjen Kemensos