27 May 2024, 14:01

Saksi Akui Pernah Serahkan 3 Gepok Uang ke Aspri Eks Mensos Juliari

Kementerian Sosial RI

Kementerian Sosial RI

daulat.co – Direktur PT Rajawali Parama Indonesia (Rapid) Wan M Guntar mengaku pernah menyerahkan sejumlah uang kepada Sekretaris pribadi mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara, Selvy Nurbaity. Penyerahan uang itu atas arahan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Matheus Joko Santoso.

Hal itu terungkap saat Guntar memberikan kesaksian perkara dugaan suap pengadan Bansos Sembako Covid-19, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (19/5/2021). Menurut
Guntar, penyerahan uang itu terjadi dalam suatu pertemuan yang dihadiri Matheus Joko Santoso, Kepala Biro Umum Kemensos sekaligus PPK, Adi Wahyono, dan Selvy.

Saat itu, kata Guntar, diriny pernah diminta Matheus Joko mengambil tasnya di dalam mobilnya untuk dibawa ke ruangan Adi Wahyono. Kemudian, tas itu diantarkan ke ruangan Adi Wahyono.

Kemudian, Adi Wahyono meminta Guntar untuk membuka tas tersebut dan memindahkan isinya ke dalam gudie bag. Ketika dibuka ternyata isi tas itu adalah uang, namun dia tidak tahu darimana asalnya.

“Saya keluarin, saya tidak hitung jumlahnya. Itu kasih ke mba-nya,” kata Guntar menirukan perintah Adi Wahyono.

Lalu uang itu diserahkan Wan Guntar kepada Selvy. Uang yang diserahkan dalam mata uang rupiah.

“Tiga (gepok) kalau nggak salah. (Uang warna) merah,” ungkap Guntar.

Dalam kesaksiannya, Guntar menjelaskan bahwa PT Rajawali adalah salah satu perusahaan yang pernah menggarap pekerjaan bansos sembako. Perusahaan itu didirikan atas intruksi Matheus Joko kepada Daning Sarawati yang belakangan menduduki jabatan komisaris.

Untuk menggarap proyek bansos, perusahaan itu mendapat suntikan modal Rp 3 miliar dari Matheus. Setelah proyek berhasil diperoleh, Guntar kerap diminta melakukan setoran fee kepada Matheus yang diduga ditujukan kepada Juliari.

Selain Guntar, jaksa KPK juga menghadirkan Selvy Nurbaity sebagai saksi untuk terdakwa Juliari. Dalam persidangan, Jaksa mendalami perintah Selvy kepada sejumlah Office Boy (OB) di Kementerian Sosial (Kemensos) untuk menyetorkan uang secara tunai ke rekening pribadinya.

“Saudara kenal Nur Fitra Yusuf Safrizal? Siapa dia?” tanya Jaksa Nur Azis kepada Selvy.

Dikatakan Selvy, Fitra merupakan OB di Kemensos. Menurut Selvy, dirinya biasa meminta tolong Fitra agar uang cash darinya bisa disetorkan ke rekening pribadinya. Namun pengakuan Selvy mengundang curiga lantaran jaksa mempunyai buktri transfer dari Fitra kepada Selvy lebih dari satu kali.

“(Uang) Masuk ke rekening saudara itu tidak sekali Bu, kita perlihatkan juga rekening saudara di BCA. Selain di BCA saudara juga punya rekening di Bank Mandiri noreknya. Selain itu saudara juga punya rekening di BNI 46 taplus,” ungkap Jaksa Nur Azis.

Merespon hal itu, Selvy berkelit bahwa uang yang disetor tunai oleh Fitra merupakan Dana Operasional Menteri, uang perjalanan dinas dan honor menteri dalam beberapa kegiatan. Selvy juga menjelaskan bahwa uang itu diterima secara tunai dari Kemensos dalam setiap kegiatan. Agar efektif, klaim Selvy, dirinya meminta OB untuk setor tunai ke rekeningnya.

“Jadi kalau untuk keperluan pak menteri saya bisa langsung transfer jadi saya tidak usah lagi ke bank,” ujar Selvy.

Tak hanya Fitra, Selvy disebut jaksa juga meminta tiga OB lain untuk menyetor tunai. Tiga OB lain itu yakni, Agus Gunawan, M Arifin dan Risnawati. Diungkap Jaksa, total uang yang diterima Selvy dari Fitra Rp 326 juta, dari Agus Gunawan Rp 162 juta, M. Arifin Rp 220 juta, dan Risnawati Rp 80 juta.

Setelah mendengar keterangan Selvy, ketua majelis Hakim Muhamad Damis ikut bertanya. Hakim Damis juga curiga dengan pengakuan Selvy, soal uang tunai yang diterimanya untuk keperluan menteri. Dikatakan Damis, sistim pembayaran honor yang digunakan seluruh lembaga dan kementerian sudah menggunakan sistem transfer.

“Nggak usah ngakali gitu. Tidak ada lagi sistem yang saudara sebutkan itu, masa ada perbedaan di Kemensos,” ungkap Damis.

“Tapi di Kemensos memang ada tanda terimanya pak, uang kesnya diamplop,” ujar Selvy menimpali.

Mendengar Selvy bersikeras dengan jawabannya, Damis meminta Jaksa KPK untuk menghadirkan pejabat Kemensos terkait yang bertanggungjawab terhadap pembayaran seluruh honor menteri yang dilakukan secara tunai. Pasalnya, Damis curiga jika uang itu merupakan setoran yang diberikan oleh vendor penyedia bansos Covid-19 kepada Juliari melalui dua PPK Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso.

“Saya akan minta pada penuntut umum untum memproses saudara kalau memang ada keterangan OB-OB, (uang) itu bukan dari saudara tapi berasal dari Adi Wahyono dan Matheus,” ujar Damis.

Dalam perkara ini Juliari Batubara didakwa menerima suap dengan total Rp 32,48 miliar. Uang itu tersebut diperoleh dari penyedia barang untuk pengadaan paket bansos penanganan Covid-19.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Rendra Darmakusuma Akui Eks Mensos Juliari Sewa Pesawat Pribadi CeoJetset

Read Next

Penasihat Hukum: Belum Ada Saksi yang Sebut Juliari Terima Suap Bansos Covid-19