30 May 2024, 08:16

Rp 1,5 Miliar Jasa Penyidik KPK dan Advokat ‘Bantu’ Walkot Tanjungbalai Lolos Bui

Ketua KPK Firli Bahuri dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (22/4/2021) malam. (Foto: Rangga Tranggana/daulat.co)

Ketua KPK Firli Bahuri dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (22/4/2021) malam. (Foto: Rangga Tranggana/daulat.co)

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial (MS), Maskur Husain (MH) seorang pengacara dan penyidik KPK asal Polri bernama Steppanus Robin Pattuju (SRP) sebagai tersangka. Ketiganya dijerat atas dugaan suap terkait penanganan perkara di lembaga antikorupsi.

KPK menduga suap diberikan kepada Stefanus dengan tujuan agar kasus dugaan korupsi jual beli jabatan di Pemerintahan Kota (Pemkot) Tanjungbalai yang tengah diusut KPK tidak dilanjutkan. Adapun komitmen uang terkait pengurusan itu senilai Rp 1,5 Miliar.

“SRP bersama MH sepakat untuk membuat komitmen dengan MS terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp 1,5 Miliar,” ungkap Ketua KPK, Firli Bahuri saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021) malam.

Syahrial lantas menyetujui permintaan Maskur Husain dan Steppanus Robin Pattuju itu dengan memberikan uang secara bertahap hingga total Rp 1,3 Miliar. Uang tersebut ditransfer secara bertahap sebanyak 59 kali dengan menggunakan rekening seseorang bernama Riefka Amalia, yang merupakan teman dari Steppanus.

“MS memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp 1,3 Miliar,” ujar Firli.

Dari uang yang telah diterima oleh Steppanus, lalu diberikan kepada Maskur sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta. Setelah uang diterima, Steppanus pun kembali menegaskan kepada Syahrial dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK.

“Dari uang yang telah diterima oleh SRP dari MS, lalu diberikan kepada MH sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta. MH juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp 200 juta sedangkan SRP dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp 438 juta,” ujar Firli.

Atas perbuatannya, tersangka Syahrial dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) Huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara Steppanus dan Maskur dijerat dengan pasal Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 11 dan Pasal 12B undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke satu kita undang-undang hukum pidana.

“Ditemukan juga bukti diantaranya buku rekening bank beserta kartu ATM,” tutur Firli.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Tetapkan Penyidik Polri dan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial jadi Tersangka Suap

Read Next

Azis Syamsuddin Diduga Berandil ‘Amankan’ Kasus Wali Kota Tanjungbalai di KPK