25 June 2024, 00:46

Rintangi Penyidikan Suap Eks Bupati Buru Selatan, Advokat Dijerat jadi Tersangka

daulat.co – Advokat, Laurenzius C. S. Sembiring (LCSS) dijerat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka merintangi proses penyidikan kasus suap mantan Bupati Buru Selatan (Bursel) Tagop Sudarsono Soulisa (TSS). Diduga, Laurenzius menyusun skenario untuk menghalang-halangi proses penyidikan kasus suap yang menjerat Tagop.

Terkait kasus suap, KPK sebelumnya menetapkan tiga tersangka. Yakni, Tagop Sudarsono Soulisa; Johny Rynhard Kasman (JRK), swasta; dan Ivana Kwelju (IK), Direktur PT Vidi Citra Kencana.

“Saat proses penyidikan perkara tersangka TSS, tim penyidik menemukan adanya perbuatan merintangi dan menghalangi baik secara langsung maupun tidak langsung terkait proses penyidikan perkara dimaksud diperkuat dengan fakta persidangan dan fakta hukum saat proses persidangan terkait adanya pemberian keterangan palsu di depan persidangan,” ujar Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Senin (20/3/2023).

Dalam konstruksi perkara, dijelaskan Ghufron, Laurenzius yang berprofesi selaku advokat di wilayah Kota Surabaya awalnya memperoleh surat kuasa khusus dari Ivana Kwelju. Saat itu, Ivana sudah menjadi tersangka KPK terkait dugaan perkara pemberian suap pada Tagop Sudarsono selaku Bupati Kabupaten Buru Selatan.

Sebelumnya Laurenzius dan Ivana telah saling kenal karena Laurenzius pernah menjadi kuasa hukum dalam perkara gugatan yang diajukan Ivana.

Sekitar Juni 2019, Ivana melakukan pertemuan dengan Laurenzius di Jakarta dalam rangka melakukan konsultasi hukum karena adanya surat undangan permintaan keterangan dari tim penyelidik KPK terkait dugaan suap proyek infrastruktur di Pemkab Buru Selatan Provinsi Maluku. Ivana Kwelju kemudian menandatangani surat kuasa khusus pada Laurenzius.

“Selanjutnya LCSS diduga menyusun skenario untuk menghalang-halangi proses penyidikan,” ungkap Ghufron.

Adapun skenario yang diduga disusun Laurenzius antara lain:

a. Transfer uang dari Ivana Kwelju pada Tagop Sudarsono Soulisa melalui rekening Johny Rynhard Kasman dibuat seolah-olah hanya transaksi antara Ivana dan Johny;

b. Perjanjian utang piutang antara Ivana dan Johny terkait pembelian aset yang kepemilikan sebenarnya adalah milik Tagop;

c. Memanipulasi beberapa dokumen transaksi keuangan dan pembelian aset
Tagop.

“Atas skenario tersebut, Ivana Kwelju, JRK dan TSS sepakat untuk mengikuti arahan LCSS sehingga apa yang disampaikan di hadapan tim penyidik tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya sehingga menghambat kerja dari tim penyidik,” kata Ghufron.

Pada proses penyidikan, lanjut Ghufron, setelah tim penyidik menemukan fakta-fakta hukum, dari alat bukti lain akhirnya Ivana dan Johny mengakui keterangan yang diberikan di hadapan tim penyidik adalah skenario yang sebelumnya telah disusun Laurenzius.

“Saat persidangan TSS di PN Tipikor Ambon, LCSS yang menjadi saksi juga masih menjalankan skenario yang direncanakannya yaitu dengan memberikan keterangan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,” tutur Ghufron.

Untuk kepentingan penyidikan, tim penyidik menahan Laurenzius Sembiring untuk 20 hari pertama, terhitung mulai 20 Maret 2023 hingga 8 April 2023 di Rutan KPK pada gedung Merah Putih.

Atas perbuatannya, Laurenzius Sembiring disangkakan melanggar Pasal 21 dan Pasal 22 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“KPK mengingatkan kepada pihak-pihak tertentu lainnya agar tidak merintangi proses penyidikan dugaan tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Hal ini agar proses penanganannya dapat berjalan efektif dan efisien,” tandas Ghufron.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Jelang Pemilu 2024, Rachmat Gobel Ingatkan Masyarakat Untuk Waspada ‘Money Politics’

Read Next

Klarifikasi ke KPK, Wamenkumham: Laporan Ketua IPW Tendensius Mengarah Fitnah