21 October 2021, 10:15

Rekayasa Pajak Gunung Madu dan Cerita Uang Suap Belasan Miliaran dalam Kardus

Ditjen Pajak

Ditjen Pajak

daulat.co – Mantan tim pemeriksa pajak Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Yulmanizar tak membantah jika PT Gunung Madu Plantations (GMP) memberikan komitmen fee Rp 15 miliar. Belasan miliar rupiah itu terkait kongkalikong nilai pajak yang harus dibayarkan perusahaan tersebut kepada negara.

Yulmanizar mengungkapkan hal sebut saat bersaksi untuk terdakwa mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan DJP Angin Prayitno Aji dan mantan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak Dadan Ramdani, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (4/10/2021).

Dikatakan Yulmanizar, dirinya bersama tim pemeriksa pajak terbang ke Lampung untuk melakukan pemeriksaan pajak PT GMP pada tahun 2017. Pajak yang diperiksa adalah tahun pajak 2016.

Untuk melakukan pemeriksaan, mereka menghabiskan waktu tiga hari. Namun saat itu belum dapat ditentukan nilai pajak yang harus dibayarkan PT GMP kepada negara. Saat itu, sambung Yulmanizar, tim pemeriksa pajak hanya memboyong sejumlah dokumen ke Jakarta.

Setelah di Jakarta, kata Yulmanizar, ketetapan pajak PT GMP tahun 2016 sebesar Rp 19.821.605.943,5. Sayangnya, Yulmanizar tak menjawab dengan tegas jumlah itu merupakan nilai riil atau rekayasa. Yang jelas, kata Yulmanizar, terjadi kesepakatan terkait pengaturan nilai pajak PT GMP.

“Ada deal. Wajib pajak bersedia membayar kepada negara Rp 20 miliar dan kasih komitmen fee Rp 15 miliar,” ungkap Yulmanizar.

“Ini ada Rp 35 miliar, sebetulnya berapa dia (PT GMP) harus bayar. Ada sekitar Rp 80 miliar?,” tanya hakim ketua Fahzal Hendri.

“Enggak sampai,” kata Yulmanizar.

Lebih lanjut dikatakan Yulmanizar, dirinya mengambil sendiri uang Rp 15 miliar sekitar Februari 2018. Yulmanizar menjelaskan bahwa uang itu diterima secara tunai melalui Ryan Ahmad Ronas dan Aulia Imran Magribi, selaku konsultan pajak dari Foresight Consultant di tempat parkir Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

“Tadinya janjian sama Febrian dan Alfred (Simanjuntak), tapi nggak jadi,” kata Yulmanizar.

Febrian adalah anggota tim pemeriksa pajak. Sementara Alfred adalah ketua tim pemeriksa. Uang yang diambil itu dibungkus dengan kardus. Yulmanizar mengaku tidak melihat lebih dulu isinya.

“Saya lupa berapa kardus. Mobil saya penuh kardus dari depan sampai belakang,” ucap Yulmanizar.

Yang jelas, pertemuan pada malam hari itu berlangsung sekitar 15 menit. Setelah kardus berisi uang dipindahkan dari mobil Ryan dan Aulia ke mobil Ford Everest miliknya, Yulmanizar langsung pulang ke rumahnya di Bogor, Jawa Barat.

Yulmanizar sampai di rumah pada tengah malam. Yulmanizar mengaku cemas karena harus menyimpan uang tersebut di dalam mobilnya. Yulmanizar mengaku tidak bisa tidur usai menerima tersebut.

“Bisa tidur malam itu?” tanya Hakim Fahzal.

“Nggak, karena jam 5 (pagi) saya harus berangkat lagi ke kantor,” ucap Yulmanizar.

Uang tersebut dibawa Yulmanizar ke Kantor Pusat DJP di Jalan Gatot Subroto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan keesokan harinya. Lantaran setelah diperiksa isinya kebanyakan berupa pecahan Rp 50.000, uang itu kemudian ditukarkan ke dalam dolar Singapura.

Penukaran uang itu, kata Yulmanizar, atas perintah Angin. Kemudian Yulmanizar membawa uang itu ke Money Changer Dolar Asia, di Kelapa Gading. Setelah dihitung, jumlahnya ternyata tidak sampai Rp 15 miliar.

“Cuma Rp 13 miliar lebih,” ujar Yulmanizar.

“Hampir Sin$1.300.000,” kata Yulmanizar.

Kemudian Yulmanizar menyampaikan kekurangan itu kepada Ryan dan Aulia. Setelah 3 minggu, sisanya baru diberikan di kantor Foresight Consultant yang berlokasi di wilayah Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

“Jumlahnya 160 ribu dolar Singapura,” ucap dia.

Dari seluruh uang itu, Yulmanizar mengaku mendapat jatah 12,5 persen setelah dipotong 10 persen untuk Ryan dan Aulia. Jatah yang sama sekitar Rp 1,8 miliar juga diterima untuk Febrian, Wawan Ridwan dan Alfred. Adapun sisanya diberikan kepada Angin dan Dadan.

Selain menerima uang dari PT GMP, Yulmanizar juga mengaku dirinya dan timnya mendapat komitmen fee dari perusahaan lain. Salah satunya PT Jhonlin Baratama. Selain PT GMP, PT Jhonlin Baratama, PT Bank Panin, tim pemeriksa selama 2017-2019 melakukan pemeriksaan pajak terhadap 14 perusahaan lain.

Beberapa diantaranya adalah PT Indolampung Perkasa, Walet Kembar Lesari, Esta Indonesia, CV Perjuangan Steel, Ridwan Pribadi, PT Rigunas Agri Utama, PT Sahung Brantas, PT Nusantara Sejahtera Raya, PT Omya Indonesia, PT Socfin Indonesia, PT Federal Karyatama, Mitra Pinasthika Mustika, dan PT Link Net Tbk.

Yulmanizar mengklaim tidak semua perusahaan yang disebut itu memberikan commitment fee. Namun, kata Yulmanizar, dirinya memperoleh sekitar Rp 6 miliar lebih dari para perusahaan itu.

Uang yang diterima itu kemudian digunakan Yulmanizar untuk berbisnis dan membeli tanah. Semua uang yang diterima, diakui Yulmanizar, belum diserahkan atau dikembalikan ke KPK.

“Ada yang saya beliin tanah, ada yang saya buat berbisnis. Belum (dikembalikan), tapi nanti saya serahkan,” ucap Yulmanizar.

Angin dan Dadan sebelumnya didakwa menerima suap senilai Rp15 miliar dan Sin$4 juta atau sekitar Rp 42.169.984.851 dari para wajib pajak. Wajib pajak itu yakni PT Gunung Madu Plantations (GMP) untuk tahun pajak 2016; PT Bank PAN Indonesia (Panin) Tbk. tahun pajak 2016; dan PT Jhonlin Baratama untuk tahun pajak 2016 dan 2017.

Suap itu diberikan agar kedua terdakwa bersama-sama dengan Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian selaku Tim Pemeriksa Pajak merekayasa hasil penghitungan pada wajib pajak. Kedua didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Suap Rp 5 M, Mu’min Ali Utus Orang Kepercayaan Agar Pajak Bank Panin Tak Diperiksa

Read Next

KPK Janji Dalami Perintah Haji Isam Kondisikan Pajak PT Jhonlin Baratama