24 February 2024, 12:44

Ramalan Nostradamus & Hubungannya Dengan Jangka Jayabaya: Lahirnya Agomo Budi & Munculnya Satrio Panandito Sisihaning Wahyu

TAHUN 2022 yang lalu yang baru saja kita lewati, diramalkan Michel de Nostredame alias Nostradamus akan munculnya pemimpin baru di tengah masyarakat yang dikenal dengan Pemimpin Baru dari Timur. Apakah ini ada korelasinya dengan ramalan Jangka Jayabaya yang juga menyebutkan akan mulai muncul datangnya seorang Satrio Utomo yang terpingit pada tahun 2022.

Kemunculannya di tengah masyarakat tanpa disadari semua pihak, padahal ia ‘diutus’ untuk menyelamatkan Negeri ini. Yang mana menurut hitungan Ramalan Jangka Jayabaya, kemunculannya untuk menghadapi perubahan geo politik dan geo strategis kawasan dan global pada tahun 2030.

Nostradamus adalah seorang warga negara Perancis keturunan Yahudi sebagai seorang sufi dari Kristen Ortodok yang sangat terkenal atas ramalan ramalannya yang kerap terbukti. Menurut ramalan Nostradamus sebagaimana ditulis Fistwith dan Peter Lori dalam bukunya yang berjudul ‘The End Of The Millenium profesi 1992 hingga 2001’, pada tahun 2022 akan muncul seorang calon pemimpin yang ditakdirkan akan merubah Peradaban Dunia.

Pemimpin tersebut akan membawa ‘A New World Religion’. Pemimpin yang dijuluki The Man From The East atau Laki Laki dari Timur itu akan muncul dari negeri Timur yang terletak pada pertemuan tiga lautan. Kemunculannya dengan sorban biru atau blue turban itu akan menggemparkan Dunia Timur dan Barat. Dimana dia akan menjadikan hari Kamis sebagai hari istimewa bagi dirinya dan keyakinan yang dibawanya.

Dalam buku The New World Religion atau Agama Baru di dunia, untuk mencerahkan kebuntuan atas segala perbedaan yang semakin besar dari agama-agama yang ada, dia akan lahir sebagai Penguasa Dunia Baru yang tidak atau belum pernah dikenal dan diperkirakan sebelumnya oleh umat manusia di seluruh dunia.

Apa kaitannya dengan ramalan Jangka Jayabaya yang meramalkan lahirnya Agama Budi? Agama Budi bersenjata-kan Trisula Weda dan berisi tiga perintah yaitu antara hati nurani, pikiran atau akal dan ucapan selalu satu dan manggunggal. Ada korelasinya antara ramalan dari Michel de Nostredame dengan ramalan Jangka Jayabaya yang sudah di adopsi dan disempurnakan oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito.

Sekedar pengingat, membicarakan datangnya Ratu Adil setiap jaman akan selalu relevan di tengah masyarakat. Kita ingat bagainaba medio tahun 1920, ramai diramalkan akan datangnya Ratu Adil yang akan membawa bangsa ini menemukan cahaya keadilan atau dalam masyarakat Jawa Satrio Piningit. Dan, pada akhirnya lahir Putra Sang Fajar (Ir Soekarno atau Kusno) yang memproklamirkan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dengan memanfaatkan kekosongan pemerintahan pasca perang dunia kedua.

Demikian pula saat ini, di jaman reformasi yang dalam Ramalan Jangka Jayabaya disebut jaman Kolo Bendu. Jaman Morat Marit atau penuh ketidakpastian. Dari penegakan hukum diciptakan bagi yang kuat dan kaya, tumpul diatas tahan dibawah, merosotnya budi pekerti, anak berani melawan orang tua, guru dianggap teman dan tidak lagi ada rasa hormat, berbicara tanpa aturan karena kebebasan berpendapat yang tidak lagi beretika dan sebagainya.

Sesuai Ramalan Jangka dari Raja Jayabaya yang lalu disadur dan diperbaruhi oleh Raden Ngabehi Ronggo Warsito, diramalkan akan datangnya Ratu Adil yang dalam literatur tulisan beliau akan datang Satriyo Panandito Sisihaning Wahyu, Dewa atau Tuhan berbadan manusia berparas Batara Surya, bersenjata Trisula Weda.

Trisula Weda
Senjata Trisula Weda yang dibawa oleh Ratu Adil adalah ajaran suci atau wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berisikan ajaran luhur menyangkut budi pekerti sebagai manusia, yang bermata tiga dimana antara ucapan, pikiran akal budi dan hati niat kita adalah satu yakni manunggal, yang merupakan perwujudan dari sifat jujur, benar, bijaksana, adil dan jejeg (lurus).

Sejak dulu kala ditemukan sebuah ajaran mengenai ilmu rahasia leluhur di Negeri Ini yang dulu disebut Nusantara, yang juga ditulis dalam karya sastra dalam kitab ‘Sastro Jendro Hayuningrat’. Yaitu metode pengajaran ilmu dalam tata negara untuk menata tata cara pemerintahan yang menghubungkan benang merah antara masa kini, masa depan dan sejarah masa lalu.

Trisula Weda sendiri adalah senjata tombak dari Dewa Siwa salah satu dari Trimurti. Kegunaan senjata tersebut untuk memerangi sifat angkara murka dari sifat kedagingan dari diri manusia seperti ambisi menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan baik harta maupun tahta. Trisula Weda hadir agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur adiluhung yang bisa menciptakan harmonisasi dalam hidup di dunia sebagai wakil Yang Maha Kuasa.

Trisula adalah senjata bermata tiga, sedangkan Weda berasal dari bahasa sansekerta yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia punya arti ilmu pengetahuan yang secara etimologi artinya mengetahui. Weda merupakan kitab ajaran Agama Hindu. Tiga mata trisula apabila diterjemahkan dalam Akidah hukum dogma adalah aturan yang mengatur agar antara niat/nawaitu, ucapan dan tindakan bisa manunggal atau satu, sebagai manifestasi kejujuran sebagai seorang hamba Tuhan.

Tombak dapat diartikan hubungan tegak lurus antara makhluk hamba dengan Tuhan Sang Pencipta, dimana hukum alam selalu berlaku hukum sebab akibat mengapa alam semesta ini diciptakan. Mengajarkan juga agar diri kita selaras dengan hukum alam/ sunatullah seperti halnya kita menyembah dan sujud pada setiap sholat-sholat kita.

Dimana gunung, hewan, tumbuhan, lautan juga mahluk yang menyembah dan berlaku sesuai hukum Tuhan dalam sunatullah, seperti halnya bumi mengitari matahari, dan matahari mengitari Galaksi Bima Sakti, serta bulan mengitari Bumi. Harmonisasi alam ini hanya bisa diciptakan jikalau diri kita juga memahami dan melakukan harmonisasi sesuai sunatullah dan menjalankan budi pekerti adiluhung jujur dan adil.

Berikat Biru
Yang mempunyai makna terlahir dari keturunan darah biru atau raja-raja di Nusantara ini. Lalu dilahirkan bertemunya tiga lautan adalah menyangkut nazab atau turunan dari darah biru tadi yaitu darah Trah Majapahit, dan Mataram Islam serta dari Sri Wijaya yang merupakan kerajaan masa lalu,.

Trisula Weda sendiri merupakan sepasang senjata yang terdiri dari Trisula Raja (laki laki) dan Trisula Ratu (perempuan). Sepasang senjata ini merupakan simbol kehidupan alam raya dari Sunatullah, bahwa apapun selalu diciptakan berpasang-pasangan dan ini identik dengan simbul Lingga dan Yoni yang banyak ditemukan pada situs di candi candi purbakala, yang apabila dikaitkan dengan kepercayaan Jawa merupakan kakang kawah Adi Ari Ari.

Agama Budi
Bahwa dalam beribadah seperti kita ketahui dibagi tiga hal yaitu akidah yang mengatur hukum fiqih dalam aturan aturan agama, kedua akidah atau seremonial ibadah yang merupakan tata cara menjalankan ibadah. Kemudian Mu’amalah, atau amal ibadah di tengah masyarakat. Dalam hal ini hubungan bukan hanya pada hablumminallah tapi juga pada hablumminannas atau hubungan antar manusia dalam bermasyarakat dan bernegara.

Dalam perspektif Agama Budi seperti yang ditulis dalam Jangka Joyoboyo, mempunyai makna bahwa kita harus mempunyai budi pekerti adiluhung yang luhur sebagai Hamba Tuhan, yang bisa menerapkan Trisula. Ucapan, pikiran dan niat atau hati dan tindakan harus satu manunggal. Menjalankan tata cara adat istiadat dari apa yang telah diwariskan para leluhur masa lalu yang terkenal adiluhung dan penuh bahasa tersirat dan sarat perumpamaan yang dalam dunia modern telah diajarkan oleh pendidikan Taman Siswa Ki Hajar Dewantoro.

Dalam Ramalan Jangka, dapat dijabarkan bahwa Ratu adil adalah Manusia Pilihan Tuhan, sakti tanpo aji aji, bukan manusia di pemerintahan atau pejabat, segala ucapannya jadi kenyataan sabdo tunggal , kun fayakun jadi terjadilah. Sifat kepemimpinannya, jika menang tidak merendahkan lawan dan selalu memanusiakan manusia seperti dalam dongeng dongeng sebenarnya.

Tetapi apabila Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang mustahil di dunia ini, karena seluruh ramalan dari Raja Jayabaya telah banyak terbukti dan kini tinggal datangnya Ratu Adil tersebut yang belum terjadi. Datangnya Ratu Adil atau yang dalam epistemologi Jawa, datangnya seorang Satriyo Piningit (kesatriya yang tersembunyikan oleh alam) untuk membimbing manusia kembali ke jalur selarasnya alam semesta dan keteraturan dunia jagad raya.

Ia bersenjata Tri Sula Weda dengan kekuatan alam beserta mahluk astral, akan mengubah kehidupan dunia yang kacau dan tidak lagi mempunyai etika dan budi pekerti untuk menjadi selaras dengan hukum alam. Sehingga semuanya menjadi harmonis. Sebuah harapan yang wajar, untuk memimpikan jaman Gemah Rimpah Loh Jinawe, Toto Tentrem Kerto Raharjo adil dan Makmur.

Semoga dapat memberikan manfaat pencerahan bagi pecinta Budaya Jawa dan Bangsanya yang terkenal Bangsa Adiluhung sopan santun, adap asor, tapi berharga diri sebagai Hamba Tuhan Yang Esa.

Agus W Soerjo Projo
Praktisi Hkum, Penulis Sospolbud & Peminat Budaya

Read Previous

Panglima TNI Diingatkan Akan Kesejahteraan Prajurit dan Netralitas Jelang Pemilu 2024

Read Next

Ketua Panja BPIH: Pelayanan dan Fasilitas Jemaah Haji 2024 Jangan Sampai Dikurangi