7 March 2021, 00:34

Rahmat Pribadi Pastikan Petrokimia Gresik Tak Terkait Suap Angkutan Amoniak

daulat.co – Direktur Utama (Dirut) PT Petrokimia Gresik, Rahmat Pribadi mengaku sudah kooperatif dengan memberikan keterangan yang dibutuhkan penyidik KPK terkait kasus dugaan suap jasa angkutan amoniak.

Hal itu sebagai bentuk dukungan Rahmat Pribadi terhadap lembaga antikorupsi dalam mengusut kasus dugaan suap angkutan amoniak yang melibatkan PT Pupuk Indonesia Logistik, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Itu disampaikan Rahmat Pribadi usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi tersangka‎ Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono (TAG), di gedung KPK, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

“Saya selaku warga negara menginginkan bisa membantu KPK untuk menyelidiki ini dan membuka secara terang benderang kasus ini. Sehigga tugas KPK bisa berjalan dengan baik,” kata Rahmat Pribadi yang tampil mengenakan kemeja putih berbalut jaket hitam.

Rahmad menjabat sebagai Dirut Petrokimia Gresik, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), sejak November 2018. Sebelumnya, Rahmad juga pernah menjadi Direktur SDM & Umum Petrokimia Gresik periode Januari 2016 sd April 2017.

Disinggung soal pertemuannya dengan Bowo Sidik di Penang Bistro, 31 Oktober 2017, saat itu Rahmad menjabat sebagai Direkrut Utama PT Semen Baturaja. Saat itu sebetulnya Rahmad dijadwalkan bertemu dengan koleganya Direktur PT Danareksa Sekuritas Saidu Solihin, namun disana juga ada Bowo Sidik.

“Tidak ada pembicaraan spesifik saat itu, apalagi bahas soal jasa angkutan amoniak,” ungkap Rahmat.

Diketahui, kasus yang sedang diusut KPK ini merupakan pengembangan operasi tangkap tangan (OTT) yang sebelumnya menjerat mantan anggota DPR RI Bowo Sidik. Rahmat menegaskan dirinya maupun PT Petrokimia Gresik tak terkait dengan kasus tersebut.

“Pada sidang tipikor sebelumnya sudah terang benderang bahwa saya hanya diikut-ikutkan saja. Karena ada yang mengkaitkan,” ujar dia.

Adapun terkait pembelian amoniak yang volumenya coba diatur oleh Bowo, Rahmad menyatakan bahwa sebagai pembeli amoniak, Petrokimia Gresik tidak berwenang menentukan pihak atau jasa yang mengangkut amoniak. Apalagi Petrokimia Gresik pada pertengahan tahun 2018 telah mengoperasikan pabrik Amoniak-Urea II.

Pabrik baru ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi amoniak dari 445 ribu ton menjadi sekitar 1 juta ton per tahun. Sehingga, Petrokimia Gresik bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak lagi beli ke pihak lain.

“Tidak ada kaitanya (kasus dengan PT Petrokimia Gresik),” tandas Rahmat.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Jokowi Minta Menko Ekonomi dan Menko Maritim Kawal Reformasi

Read Next

Bersama Ulama Jatim, Menag Bahas Keagamaan Era Global