22 May 2024, 00:10

Puteri Anetta Komaruddin Dukung Bank Syariah Indonesia

Puteri Anetta Komarudin - dok DPR

Puteri Anetta Komarudin – dok DPR

daulat.co – Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Anetta Komarudin mengapresiasi rencana penggabungan tiga bank Himpunan Bank Negara (Himbara) yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah (BNIS) dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Apalagi, rencana merger ketiga bank tersebut digadang-gadang akan memiliki aset senilai total Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Demikian Puteri dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Senin 28 Desember 2020.

“Langkah Pemerintah dalam hal Kementerian BUMN untuk melakukan penggabungan Bank Syariah BUMN menjadi terobosan yang patut untuk diapreasiasi,” kata dia.

“Langkah tersebut dapat memperkuat sisi permodalan perbankan dengan modal ini lebih dari Rp20,4 triliun, termasuk Bank BUKU III, sekaligus masuk daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan Top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar, dengan perkiraan total aset mencapai Rp214,6 triliun,” ungkap Puteri.

Politisi Fraksi Partai Golkar menyebut sektor keuangan syariah di Indonesia sebagai salah satu sub-sektor yang berkembang cepat. Sayangnya, selama ini masih belum mampu memperbesar pangsa pasarnya.

Hingga Juni 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat market share keuangan syariah Indonesia masih sangat rendah yaitu 9,63 persen atau secara nominal mencapai sekitar Rp1.608,50 triliun. Posisi ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 8,29 persen atau sekitar Rp1.335,41 persen.

Dari total aset tersebut keuangan syariah tahun 2020, masih didominasi sektor pasar modal syariah dengan aset mencapai Rp955,89 triliun atau 17,72 persen dari total market share pasar modal.

Perbankan syariah hanya memiliki market share sekitar 6,18 persen. Sedangkan, IKNB (Industri Keuangan Non-Bank) Syariah juga masih 4,33 persen. Masih rendahnya market share ini menunjukkan keuangan syariah belum sepenuhnya dioptimalkan.

Hal tersebut dikarenakan lanskap keuangan syariah kita berbeda dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia maupun negara timur tengah. Pasar keuangan syariah kita masih lebih berorientasi pada ritel dibandingkan negara tersebut yang sangat bergantung pada perbankan investasi syariah dan sukuk.

“Hal tersebut tidak terlepas dari keterbatasan dari sisi permodalan untuk mengembangkan inovasi produk layanan,” papar Puteri.

Hadirnya bank syariah terbesar di Indonesia ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia untuk dapat bersaing di pasar keuangan syariah internasional, termasuk memperluas akses pasar asuransi syariah di pasar ASEAN seiring disahkannya ratifikasi protokol AFAS ke-7.

Sebab selama ini, Puteri menilai pasar keuangan syariah masih didominasi oleh Malaysia. Dengan adanya penguatan dari sisi permodalan, Bank Syariah tersebut harus mampu meningkatkan inovasi dan kapasitas layanan untuk UMKM, ritel, komersial, wholesale syariah, sampai korporasi termasuk untuk mengoptimalkan potensi global sukuk.

Dengan demikian, lanjut legislator daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat VII itu, sektor jasa keuangan syariah juga turut dapat menggerakan sektor industri halal.

“Inilah yang menjadi tugas bersama, bagaimana mendorong jasa keuangan untuk masuk pada mata rantai industri halal. Lantaran, ekonomi dan keuangan syariah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dikembangkan secara parsial,” ucapnya.

“Ekonomi ini tidak dapat berkembang secara optimal tanpa dukungan sektor keuangan, begitupun sektor keuangan tidak akan tumbuh tanpa permintaan sektor riil,” demikian Puteri Anetta Komarudin.

(Sumitro)

Read Previous

Lagu Indonesia Raya Dilecehkan, Charles Honoris Harap Kepolisian Diraja Malaysia Tegakkan Hukum

Read Next

Eks Anggota BPK Didakwa Terima Suap Proyek Air Minum di Cipta Karya Kempupera