20 May 2024, 22:57

Prihatin dengan Turbulensi Sosial Politik, Alumni IMM Gelar Silaturrahim Nasional

daulat.co – Koordinator Nasional Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) akan menggelar Silaturrahim Nasional (Silatnas) di Jakarta pada Jum’at-Sabtu, 18-19 Oktober 2019. Rencananya, Silatnas akan dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu 16 Oktober 2019, Ketua Umum Kornas FOKAL IMM Armyn Gultom mengungkapkan, Silatnas akan dihadir pengurus Kornas, tokoh alumni dan pengurus dari 31 Koordinator Wilayah se-Indonesia.

Armyn yang juga Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta menyatakan bahwa situasi kebangsaan yang belakangan ini penuh turbulensi mendorong FOKAL IMM sebagai entitas anak bangsa mengambil peran dan tanggung jawab.

“Kami meyakini dinamika politik saat Pilpres lalu yang sarat dengan pesan berbau SARA, kerusuhan 21-22 Mei, serta belakangan kita simak juga terjadi di Papua, merebaknya radikalisme, serta unjuk rasa isu KPK yang juga membawa korban jiwa di Kendari, bukan lah sesuatu yang bisa kita pandang remeh,” kata dia.

Ia menyebut, semua fakta tersebut mesti ditelaah dan dibincangkan secara mendalam agar bisa disikapi secara tepat. Alumni IMM dalam hal ini, dengan beragam latar belakang keilmuan ingin berkontribusi, memberi masukan pada pemerintah.

“Silatnas sekaligus menyusun langkah yang dapat dilakukan sendiri karena persoalan bangsa adalah soal bersama dan semua elemen bangsa patut berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Ditambahkan, alumni IMM jumlah mencapai puluhan juta dimana basisnya tersebar tidak hanya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, melainkan juga di Perguruan Tinggi Negeri dan Islam Negeri serta swasta. Hal ini sekaligus menegasikan potensi yang luar biasa dalam melakukan pencerahan dan agenda kontributif lainnya bagi bangsa.

Terkait pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang akan digelar pada 20 Oktober mendatang, Armin mengingatkan agar demokrasi mesti dijaga tidak hanya pada pelaksanaan prosedur demokrasi semata, melainkan juga membangun budaya demokrasinya.

“Pasangan Jokowi-Ma’ruf merupakan hasil pemilu yang sah, sehingga pelantikannya adalah keniscayaan konstitusional, sehingga tiap keinginan menghalanginya adalah tindakan anti demokrasi, anti Pancasila,” kata Armyn.

Sebagai elemen sivil society, lanjut dia, FOKAL IMM akan menjadi mitra kritis pemerintah, mendukung tiap langkah pemerintah yang memberi faedah maksimal bagi kemajuan bangsa, serta memberi masukan pada aspek yang dibutuhkan. (Sumitro)

Read Previous

Jokowi Minta Upacara Pelantikan Presiden-Wapres Dilakukan Sederhana

Read Next

Bamsoet: Pelantikan Presiden RI akan Dihadiri Pimpinan Dunia