24 June 2024, 18:03

‘Pisang Terakhir’, Mengajak Manusia Menjadi Pembelajar

Poster Monolog Pisang Terakhir

Poster Monolog Pisang Terakhir

daulat.co – Ketika manusia dipenuhi dengan rutinitas dan jadwal yang padat maka diperlukan menjalin dengan masa lalunya meski itu sudah tertinggal puluhan tahun. Masa lalu tidak hanya dikenang tapi juga suatu pembelajaran untuk hari ini dan esok. Posisi yang sudah diraih oleh manusia tak terlepas dari masa lalunya.

Kata Rizal Siregar mengenai pementasan monolog ‘Pisang Terakhir’ di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Pementasan yang akan digelar pada pukul 19.30 WIB, Sabtu, (7/3/2020), dilakoni oleh aktor Surya Dharma.

“Kisahnya tidak ribet yakni tentang tokoh Arya Kamandanu. Masalah kekinian yakni tentang kejenuhan manusia dengan rutinitas. Karena diburu oleh waktu yang padat membuat tokoh yang ada di dalam cerita sampai lupa dengan lingkungan dan masa lalunya,” kata dia, Selasa (3/3/2020).

“Melakoni peran Arya Kamandanu bagi saya sebuah tantangan. Sebab, karakternya unik. Beban batin yang dialaminya cukup berat. Tapi itulah peran, sebarat apapun tantangannya harus bisa dilakoni dengan baik,” Kata Surya Dharma.

Sebagai seorang aktor Surya Dharma telah malang melintang dunia panggung dan musik mengatakan, proses latihan dua bulan membuatnya tetap bersemangat.

“Karena sosok Arya Kamandanu yang begitu berkarakter membuat saya harus melakukan berbagai riset,” kata aktor kelahiran Medan, 3 April 1958 ini.

Surya Dharma pertama kali tampil sebagai seorang pemain teater lewat pementasan ‘Sok’ sutadara Buoy Hardjo di Taman Budaya Medan (1975). Tampil bersama dalam lakon ‘Pencuri Kepincut’ (1976) sutradara Burhan Piliang (1976). Kemudian tampil dalam lakon ‘Nujum Pak Belalang’ (1978) sutradara D. Rifai Harahap.

Hijrah ke Jakarta, aktor yang akrab disapa ‘Pak Tua’ ini sempat digarap Irwan Siregar dalam lakon ‘Rayuan Destor’ untuk Festival Teater 5 wilayah DKI (1988) Bersama Satu Merah Panggung pernah tampil dalam pementasan Pesta Terakhir (1996) dan Marsinah: ‘Nyanyian dari Bawah Tanah’ (1994), ‘Anak-Anak Kegelapan’ (2003) Pernah tampil Opas dalam ‘Opera TIM’ karya Sudibyo JS di Graha Bhakti Budaya, TIM (2015).

Juga tampil sebagai Ayah dalam Drama musikal Judul ‘Jambar Ni Parsubang’ di Teater Besar TIM (2015). Sempat juga berperan sebagai Guru dalam Naskah ‘Perguruan’ karya Wisran Hadi di Taman Budaya Semarang (2018).

(M Abdurrahman)

Read Previous

Saksi Ungkap Andil Taufik Hidayat di Suap Dana Hibah KONI

Read Next

Ulum Ragukan Keterangan Saksi Pegawai Kemenpora