15 June 2024, 08:18

Pilkada Pemalang: Koalisi Dengan PKB, PKS Jawab ‘Serangan’ Soal Yasin dan Tahlil

daulat.co – Koalisi PKS bersama PKB dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Pemalang Tahun 2020 memunculkan pertanyaan sebagian warganet asal Pemalang. Bagaimana jika dalam suatu acara atau kegiatan yang digelar, pimpinan PKB mengajak kader-kader PKS membaca yasin dan tahlil?

Warganet atau pengguna internet, khususnya di media sosial, melontarkan pertanyaan bernada ‘menyerang’ tersebut untuk koalisi yang mengusung bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati, Iskandar Ali Syahbana – Ahmad Agus Wardana.

PKB, jamak diketahui publik sebagai partainya warga Nahdlatul Ulama (NU). Partai berlambang bola dunia dikelilingi sembilan bintang ini didirikan di Jakarta pada tanggal 23 Juli 1998 (29 Rabi’ul Awal 1419 Hijriyah) oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sementara itu partai berlambang padi emas, PKS, didirikan pada tanggal 20 April 1998 tidak bisa dilepaskan dari gerakan aktivis Islam yang sebagian diantaranya berasal dari kalangan Muhammadiyah.

Politisi PKS Pemalang M Akmal mengaku telah mengetahui adanya ‘serangan’ mengenai yasin dan tahlil usai partainya berkoalisi dengan PKB di Pilkada Pemalang. Dan, ia menyayangkan hal tersebut. Semestinya, Pilkada Pemalang dijadikan adu visi-misi, konsep dan gagasan, bukan adu narasi yang tidak substansial.

“Lah, memangnya Muhammadiyah melarang tahlil? Kan enggak, bagaimana mungkin mengucapkan kalimat tahlil, laa ilaaha illallah dilarang,” tegas Akmal kepada daulat.co baru-baru ini di Kompleks Gedung DPRD Pemalang.

“Pertanyaan itu kan salah, itu kan berandai-andai. Sejarah ormas kita kan NU dan Muhammadiyah, nah di PKS itu bukan hanya diisi kader-kader Muhammadiyah. Di PKS juga banyak kader NU,” sambungnya.

Akmal lantas menyebutkan jika dirinya pada Minggu ini juga melaksanakan acara ‘Mendak’ orang tuanya. Kegiatan itu diselenggarakan dalam rangka memperingati kepergian orang tuanya menghadap Illahi. Justru kegiatan yang dihelatnya ini, langsung atau tidak langsung membuktikan jika dirinya tidak melarang kegiatan yasin dan tahlil.

“Serangan yasin – tahlil itu sangat jelas, narasinya tidak substansial, bikin Pemalang tidak maju. Kalau mau, ayo adu gagasan, adu visi perekonomian, adu visi kesejahteraan masing-masing calon ke depan,” ucap Akmal.

Menurutnya, Pilkada Pemalang Tahun 2020 adalah momentum bagus bagi partai politik, organisasi masyarakat dan semua pihak yang tinggal dan berkepentingan di Pemalang. Yakni dengan melihat lebih dalam, apa sih yang sebenarnya dibutuhkan dan diresahkan masyarakat selama ini.

“Pencalonan itu momen, apa sih yang diresahkan masyarakat, apa sih yang dibutuhkan masyarakat. Kita sama-sama tahu ada Glagah di Watukumpul, tapi diklaim tetangga sebelah. Kalau dia orang Pemalang tapi tidak mencintai Pemalang ya percuma,” pungkas Akmal.

(Sumitro)

Read Previous

Jokowi: Olahraga Instrumen Penting Dalam Peningkatan Produktivitas

Read Next

Peringati Haornas ke-37, Jokowi Minta Menpora Tingkatkan Prestasi Olaraga