16 May 2021, 22:05

Penyuap Juliari Pernah Karoke di Club Raia dengan Pejabat Kemensos

Ilustrasi suap

Ilustrasi suap

daulat.co – Tim teknis pengadaan bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19, Robin Saputra tak membantah pernah menyambangi karaoke Raia. Robin pergi ke tempat karaoke yang berada dibilangan SCBD, Jakarta Selatan itu bersama dengan mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso dan sopirnya, Sanjaya.

Demikian diungkapkan Robin saat bersaksi dalam sidang dugaan suap pengadaan bansos Covid-19 di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (3/5/2021). Robin menyampaikan hal itu setelah sebelumnya disinggung oleh jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Seperti yang dijelaskan sebelumnya pak yang untuk karaoke itu, ke Raia (bersama Matheus Joko Santoso dan Sanjaya),” ungkap Robin.

Merespon pernyataan Robin itu, Jaksa lantas menelisik soal aktivitas saat di karaokeclub Raia. “Terkait apa? Kapasitas apa? Kegiatan apa?,” cecar Jaksa Ikhsan Fernandi.

“Untuk hiburan karena bekerja pak,” jawab Robin.

“Karena lelah, bagian dari uang lelah tadi kali. Memang kerja sampai jamber?,” kata Jaksa Ikhsan kembali bertanya.

“Pagi sampai malam,” jawab Robin.

Diakui Robin Harry Van Sidabukke pernah ikut dalam kegiatan karaoke tersebut. Harry merupakan salah seorang penyedia paket bansos yang juga diduga penyuap mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara.

“Salah satu penyedia pernah ikut?,” tanya Jaksa Ikhsan.

“Harry,” jawab Robin.

“Berapa kali?,” tanya Jaksa.

“Saya tidak ingat, tapi seingat saya 4 kali,” jawab Robin.

Robin dalam dakwaan Jaksa diduga turut menerima uang senilai Rp 200 juta.
Robin mengklaim uang tersebut akan diserahkan ke KPK.

Mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono didakwa menjadi perantara suap kepada mantan Mensos Juliari Peter Batubara. Juliari diduga menerima suap senilai Rp 32,48 miliar terkait pengadaan bantuan sosial (bansos) penanganan pandemi Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek tahun anggaran 2020. Juliari dinilai memotong Rp 10 ribu dari setiap paket pengadaan bansos.

Adapun rincian uang yang diterima Juliari melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko yakni, berasal dari konsultan Hukum Harry Van Sidabukke, senilai Rp 1,28 miliar. Kemudian dari Presiden Direktur PT Tigapilar Agro Utama, Ardian Iskandar Maddanatja, sejumlah Rp 1,95 miliar, serta sebesar Rp 29 miliar berasal dari para pengusaha penyedia barang lainnya.

Atas perbuatannya, Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.  Serta Pasal 12 huruf (i) UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Puan Minta Nadiem Cermati Angka Putus Sekolah Akibat Pandemi Covid-19

Read Next

Dinas Perikanan Pemalang Pastikan Tidak Akan Bangun TPI Tasikrejo