26 May 2024, 01:38

Pengamat Bilang, Elektabilitas Tinggi Bukan Jaminan Ganjar Bisa Raih Tiket ‘Nyapres’

PDI Perjuangan

PDI Perjuangan

daulat.co – Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS), Nyarwi Ahmad, menilai karir politik Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di PDI Perjuangan akan menemui jalan buntu sejalan dengan tidak diundangnya dalam acara pengarahan Pemilu 2024 di Semarang.

Harus diakui, kata dia dalam keterangan kepada wartawan, Senin 24 Mei 2021, jika elektabilitas Ganjar dalam bursa pencapresan tinggi. Meski demikian, elektabilitas yang cukup tinggi tidak menjamin diraihnya tiket dari PDIP agar bisa masuk dalam bursa Pemilu 2024 mendatang.

“Sebagaimana yang dipotret sejumlah lembaga survei, termasuk IPS, Ganjar selama beberapa bulan terakhir makin populer dan tingkat elektabilitasnya juga cukup tinggi melampau deretan sejumlah publik figur dan para tokoh pimpinan partai, termasuk Puan Maharani sendiri,” ujar Ahmad.

Ia mengungkapkan, dalam Pemilu 2024 mendatang, PDI Perjuangan memiliki orientasi yang berbeda dengan parpol-parpol lain dan berbeda dengan yang pernah dilakukan dalam Pemilu 2014 dan 2019 lalu. Sebelumnya, PDIP mencalonkan sosok yang lebih popular dan memiliki elektabilitas tinggi seperti Joko Widodo. Saat itu Jokowi adalah Gubernur DKI Jakarta dari sebelumnya menjadi Wali Kota Solo.

Menurut Ahmad, arah PDI Perjuangan untuk Pemilu 2024 mendatang terlihat jelas dengan mengusung atau menjagokan figur tertentu di luar sosok populer sebagaimana Pranowo. Karena itu pula ditekankan, dukungan pasar politik internal di PDIP terhadap Ganjar Pranowo belum aman.

Pandangan lain, kata Ahmad, apa yang disampaikan Puan Maharani dalam kegiatan di DPD PDIP Jateng, menunjukkan PDIP mengedepankan model pemasaran politik tradisional yang berbasis pada ideologi parpol.

“Di sini parpol ditempatkan sebagai elemen terpenting,” katanya.

Parpol yang menganut model pemasaran ini biasanya lebih mengedepankan kinerja kolektif organisasi parpol sebagai produk politik utamanya, dibandingkan citra dan kinerja para publik figur yang dimiliki oleh/menjadi kader parpol yang selama ini menduduki jabatan publik, termasuk kepala daerah/gubernur.

Ada tiga syarat agar model pemasaran politik tradisional yang dijalankan PDI Perjuangan efektif. Pertama, keanggotaan partai yang kuat dan mengakar yang ditandai dengan kepemilikan kartu anggota; walau pada PDI Perjuangan hal ini belum merata di seluruh Indonesia melainkan hanya di Pulau Jawa, terkhusus di Jawa Tengah.

Syarat yang kedua, PDIP mampu menata struktur organisasi kepartaiannya tidak hanya sebagai organisasi partai politik, namun juga menjadi mesin pemasaran politik yang efektif dan penetratif.

Syarat ketiga, para elit PDI Perjuangan, khususnya yang menjadi publik figur atau menjabat di lembaga-lembaga negara/pemerintahan mampu lebih memasarkan partainya, dibandingkan dengan dirinya.

Ia juga menyatakan, kritik yang disampaikan Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto ke Ganjar Pranowo agar tidak terlalu ambisius masuk dalam bursa calon presiden 2024 sepertinya dapat dibaca sebagai peringatan bagi semua kader PDI Perjuangan yang saat ini menjadi pejabat publik.

Hal ini secara khusus ditujukan kepada kader-kader memiliki popularitas dan elektabilitas yang tinggi, agar lebih mampu ‘memasarkan’ parpolnya, bukan sekedar ‘memasarkan’ dirinya saja.

“Hal itu sepertinya tidak mudah, karena dalam panggung politik lokal dan nasional saat ini, visibilitas profil dan kinerja elit-elit parpol, khususnya yang menjadi pejabat publik di lembaga eksekutif, lebih menonjol, dibandingkan visibilitas kinerja organisasi parpolnya,” kata Ahmad.

(Sumitro)

Read Previous

KPK Diminta Panggil Paksa Azis Syamsuddin Jika Kembali Mangkir

Read Next

Rekrutmen Satu Juta PPPK Harus Dikawal, Jangan Menunggu Tahun 2022