24 February 2024, 11:58

Pemikiran Wali Songo Menjangkau Dimensi Zaman Hingga Ratusan Tahun

Walisongo

Walisongo

DALAM dunia spiritualisme, baik menyangkut dogma aqidah, ritual ibadah, maupun mu’amallah, dalam ajaran Islam, tidak mudah untuk bisa mentranformasikan ajaran dalam tingkatan tingkatan tersebut dalam komunitas masyarakat, hingga zaman modern saat ini.

Dengan pendalaman ajaran, baik syariat, tarekat, hakikat, hingga mencapai ma’rifatullah, maka akan menciptakan masyarakat yang tentram stabil dan penuh harmonisasi dalam kehidupan. Dengan keadaan tentram dan harmonis, akan tercapai pertumbuhan ekonomi dan sosial yang mapan dan pada gilirannya masyarakat dari sebuah negara bergerak mencapai yang dicita-citakan.

Pada medio abad ke-14 Masehi, menjelang dan pasca runtuhnya imperium Majapahit, para ahli agama di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo (yang dipertuankan ahli agama yang berjumlah sembilan), memahami betul kondisi demografis, sosiologis dan falsafah Budaya Jawa.

Dimotori oleh Sunan Bonang di Tuban (Mahdum Ibrahim) beserta adiknya Sunan Drajat dan sahabatnya Sunan Giri Gresik, mereka menciptakan sebuah tembang sebagai sarana dakwah melalui Budaya Jawa yang disebut Tembang Mocopat.

Dikemudian hari, Tembang Mocopat tersebut disempurnakan lagi oleh Sunan Kali Jaga (Raden Sahid Wilatikta) menjadi 11 (sebelas) urutan Tembang Mocopat, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat yang saat itu masih kental dan berpegang teguh pengaruh Hindu.

Bahwa Tembang Mocopat yang terdiri dari 11 syair tersebut menggambarkan perjalanan manusia. Saat masih di alam fana’ yaitu lauhul mahfudz, lalu ditiupkan rohnya ke dalam rahim seorang ibunda, lalu mencapai dewasa hingga melakukan darma bakti bagi kebaikan penuh kasih. Sampai dengan meninggal dan setelah meninggal akan kembali kemana dan awalnya berasal dari mana (Sangkan Paraning Dumadi)

Bahwa ke sebelas urutan tembang mocopat tersebut adalah sebagai berikut

  1. Maskumambang
    Yaitu simbol fase ruh / kita dalam kandungan dimana kita masih mengapung atau kumambang di alam ruh dan dalam gua yang gelap gulita.

2. Mijil

Mijil artinya keluar, ini adalah fase bayi dimana kita mulai mengenal terang nya dunia yang harus belajar dari alam dunia untuk bertahan dan mulai kehidupan.

3. Sinom
Adalah masa muda, masa dimana kita tumbuh dan berkembang mengenal hal hal baru yang kita pelajari di bangku sekolah / kuliah dan pengalaman sekitar.

4. Kinanti
Ini adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita cita kita dan makna dari hidup pada diri kita.

5. Asmaradhana
Fase asmaradhana adalah fase paling dinamis dan indah yang berapi api dalam pencarian Cinta dan teman hidup sebagai calon suami istri.

6. Gambuh
Fase dimulainya kehidupan berkeluarga dengan ikatan perkawinan suci (gambuh) menyatukan visi dan cinta kasih dalam membina keluarga.

7. Dhandang Gulo
Ini adalah masa fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (Dhandang : Bejana ) dan Gula (manisnya) dalam kehidupan yang harus diimbangi dengan kenikmatan rohani dan spiritual.

8. Durma
Dimana fase kehidupan harus lebih banyak berderma (sedekah kebaikan) baik materi maupun perbuatan, kepada orang lain, bukan lagi mencari kenikmatan hidup (gula) yang mana ini adalah fase bertindak secara sosial untuk kemaslahatan orang lain.

9. Pangkur
Ini adalah fase uzlah (Pangkur – menghindar) fase menyepi, fase kontemplasi dimana fase mendekatkan diri kepada Tuhan Azza Wa Jalla, (Gusti Allah) dan menjauhkan diri dari generlapnya dunia.

10. Megatruh
Ini fase penutup kehidupan dunia, dimana Ruh meninggalkan badan (dari kata “Megat” : memisahkan) dimana fase awal / pintu menuju keabadian yang kekal, uripku tan ono ing pati. (hidup itu kekal tiada kematian yang mati adalah jasad kita).

11. Pucung
Fase dimana mencapai kesempurnaan kembali ke pada Allah, sang murbeng dumadi, sangkan paraning dumadi, diawali menjadi pucung (jenazah) menuju kebahagiaan sejati, ruh sejati bertemu dengan yang Maha Suci.

*
Sangat Revelan
Itulah filosofi tembang yang diciptakan oleh Wali Sembilan pada medio abad ke 14 yang ajarannya masih relevan dan bertahan hingga saat ini. Bahwa pemikiran dari para Wali Sembilan telah menjangkau zamannya hingga ratusan tahun ke depan hingga 500 tahun lebih.

Bahwa pemikiran beliau-beliau dalam berdakwah benar-benar memanusiakan manusia, mempelajari kondisi sosiologis, masyarakatnya, budayanya, karakternya, hingga diterima dengan hati riang gembira, tanpa paksaan tanpa keangkuhan dan tanpa memakai kekuasaan.

Itu yang harus menjadi pembelajaran para generasi milenial yang mana secara kecerdasan harusnya lebih unggul. Namun masih minim menciptakan sesuatu yang bersifat fenomenal untuk masyarakat saat ini sebagai alat sarana pencerahan bagi masyarakat di jaman kolo bendu (zaman ketidakpastian).

Yang ada, generasi milenial justru terdegradasi budaya asing yang menuhankan materi duniawi, sifat keangkara murkaan dan minim akan kasih terhadap sesama. Mereka bahkan kehilangan jati dirinya sebagai anak bangsa, hilang ke-Indonesiaan-nya, hilang Jawa-nya, hilang Sunda-nya, hilang Batak-nya.

Generasi milenial kebanyakan hanya manusia modern beridentitas penduduk sebagai Warga Negara Indonesia, akan tetapi kebanyakan sudah kehilangan “Ruh Ke-Indonesia-an”

Agus Widjajanto Soerjo Projo
Praktisi Hukum & Pemerhati Polsosbud
Penulis tinggal di Jakarta

Read Previous

KemenPANRB Nilai Akuntabilitas Kinerja Kemenag Tahun 2023 ‘Sangat Baik’

Read Next

Pimpinan MPR RI Sampaikan Belasungkawa Atas Terjadinya Musibah Gempa Bumi di Jepang