30 May 2024, 06:42

Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok

Andi Akmal Pasluddin

Andi Akmal Pasluddin

daulat.co – Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengingatkan pemerintah untuk tetap meningkatkan kewaspadaannya terhadap stabilisasi pangan meski belakangan kondisi pasar terlihat baik-baik saja. Sebab ia melihat banyak rakyat pelaku produksi perikanan mengalami gangguan terhadap stabilitas ekonominya.

“Saya memperhatikan dan juga banyak mendapat laporan terkait peningkatan importasi pangan di awal kuartal tahun ini. Komoditas strategis pangan hampir semua mengalami kenaikan importasi, mulai dari medium hingga signifikan, seperti garam, gula, kedelai, jagung dan bawang putih,” jelas Akmal siaran persnya, Rabu (21/4/2021).

“Ditambah lagi untuk komoditas perikanan pada Pertengahan Maret 2021, harga  meningkat antara 14 persen hingga 25 persen. Keadaan ini dapat dipastikan ada sebagian masyarakat yang mengalami gangguan, baik pelaku produksi maupun konsumsi,” sambungnya.

Disebutkan, dirinya mendapat laporan dari sejumlah nelayan di dapilnya yang mengatakan bahwa sudah beberapa pekan ini terjadi kelangkaan ikan tertentu, seperti ikan kembung, cakalang, kuwe, dan ikan baby tuna. Situasi demikian menguji para nelayan untuk bersabar karena saat ini sangat sulitnya mendapatkan jenis ikan tertentu.

Berkaitan dengan komoditas pangan lain dari sektor kelautan yakni garam,  semakin hari importasinya semakin tinggi, untuk itu Akmal mengingatkan, kuartal awal tahun ini di banding kuartal tahun lalu terlah terjadi kenaikan sebesar 54,02 persen.

Polemik impor garam, lanjut Akmal, dikarenakan tidak ada terobosan yang signifikan baik, dari sisi industrialisasi maupun dari sisi pembinaan produksi garam rakyat, sehingga terjadi peningkatan kualitas yang signifikan. bahwa impor garam tidak berujung penyelesaiannya, polemik juga masih seputar garam industri dan garam konsumsi.

Begitu juga komoditas gula, persoalannya lebih kompleks dibandingkan dengan garam. Saat ini, kenaikan importasi sangat signifikan yakni 1,93 juta ton atau naik 42,96 persen dibandingkan dengan periode Januari-Maret 2020. Kuartal awal tahun lalu, importasi gula tercatat sebanyak 1,34 juta ton.

“Persoalan gula lebih rumit lagi dari garam. Selain kelembagaan, lahan, sarana prasarana produksi hingga tata niaga, semua memiliki kerumitan tersendiri. Perlu ada evaluasi mendalam setiap komoditas pangan agar terjadi kemajuan bertahap tapi pasti,” ucap Akmal.

Ia menyatakan, saat ini semua serba tidak pasti pada tata kelola pangan nasional ini. Untuk itu, ia minta pemerintah untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dari waktu ke waktu pada persoalan pangan ini.

“Karena kedepannya, negara yang unggul adalah yang tahan terhadap kebutuhan pangan, energi, kesehatan dan teknologi Informasi,” tutup Andi Akmal Pasluddin.

(Sumitro)

Read Previous

Lamhot Sinaga Minta Produksi Pupuk Harus Bisa Penuhi 100 Persen Kebutuhan Nasional

Read Next

Dua BUMN Bidang Perikanan ‘Mati Suri’ Digabung Diharapkan Bisa Maksimalkan Potensi Ikan Nasional