19 June 2024, 18:19

Pelaku Dituntut Ringan, KPK Harap Hakim Beri Keadilan Terhadap Novel Baswedan

Penyidik KPK Novel Baswedan

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara dapat memutus kasus penyiram air keras terhadap Novel Baswedan dengan seadil-adilnya. Majelis hakim diharapkan memberikan rasa keadilan terhadap Novel selaku korban penyiraman tersebut.

Demikian disampaikan Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri kepada awak media, Jumat, (12/6/2020). Lembaga antikorupsi menyampaikan hal tersebut menyusul tuntutan rendah Jaksa Penuntut Umum terhadap 2 pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Diketahui dua anggota Brimob Polri yang menjadi terdakwa penyiram air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis dituntut oleh jaksa dengan hukuman satu tahun pidana penjara. Tuntutan itu dibacakan Jaksa dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020).

“KPK berharap majelis jakim memutus dengan seadil-adilnya dengan menjatuhkan hukuman maksimal sesuai kesalahan dan perbuatan yang terbukti nantinya serta mempertimbangkan rasa keadilan publik, termasuk posisi Novel Baswedan sebagai korban saat menjalankan tugasnya menangani kasus korupsi,” ungkap Ali Fikri.

Ali menyerukan pentingnya perlindungan bagi para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Sebab itu, ditekankan Ali, pihaknya berharap majelis hakim dapat memutus seadil-adilnya dengan menjatuhkan hukuman semaksimal mungkin terhadap para pelaku penyiraman air keras tersebut. Terlebih para terdakwa merupakan seorang polisi aktif, yang seharunya mencontohkan yang baik.

“Kami menyerukan kembali pentingnya perlindungan bagi para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya,” tegas Ali.

Soal tuntutan minim jaksa, KPK menyebut hal tersebut merupakan ujian bagi rasa keadilan. KPK juga menilai wajar banyak pihak yang kecewa dengan tuntutan rendah tersebut. Pun termasuk tak dipungkiri kekecewaan Novel. 

“Kasus Novel Baswedan merupakan ujian bagi rasa keadilan dan nurani kita sebagai penegak hukum. Karena secara nyata ada penegak hukum, pegawai KPK yang menjadi korban ketika ia sedang menangani kasus-kasus korupsi besar saat itu. KPK memahami kekecewaan Novel Baswedan sebagai korban terkait tuntutan yang rendah dan pertimbangan-pertimbangan serta amar dalam tuntutan tersebut. Kami juga mendengar suara publik yang banyak menyesalkan hal tersebut,” ujar Ali.

Novel sendiri tak dapat menyembunyikan kegeraman dan kemarahannya mengetahui dua terdakwa penerornya ‘hanya’ dituntut satu tahun pidana penjara. Menurut Novel, tuntutan terhadap Rahmat Kadir dan Ronny Bugis merupakan suatu kebobrokan proses penegakan hukum yang dipertontonkan. Bahkan, tuntutan Jaksa yang ‘hanya’ setahun pidana penjara disebut sangat keterlaluan.

Novel sudah menduga sidang perkara teror yang dialaminya pada 11 April 2017 silam hanyalah formalitas. Bahkan, dugaan tersebut sudah dirasakan Novel sejak proses penyidikan kasus ini hingga bergulir di persidangan.

“Memang hal itu sudah lama saya duga, bahkan ketika masih diproses sidik dan awal sidang. Walaupun memang hal itu sangat keterlaluan karena suatu kebobrokan yang dipertontonkan dengan vulgar tanpa sungkan atau malu,” ungkap Novel saat dikonfirmasi.

Novel pun miris dengan proses persidangan teror yang membuat kedua matanya terancam mengalami kebutaan. Ia menilai persidangan ini menjadi ukuran fakta betapa rusaknya hukum di Indonesia.

Karena itu, Majelis Hakim diminta tidak larut dalam sandiwara hukum ini. Seharusnya Majelis Hakim sudah melihat fakta sebenarnya yang menimpa Novel.

“Lalu bagaimana masyarakat bisa menggapai keadilan? Sedangkan pemerintah tak pernah terdengar suaranya (abai),” kata Novel.

Sementata itu, mantan Pimpinan KPK Laode M. Syarief menilai tuntutan satu tahun pidana penjara terhadap dua terdakwa peneror Novel  tidak dapat diterima akal sehat.

“Tidak dapat diterima akal sehat,” ujar Laode saat dikonfirmasi terpisah.

Lantas Laode membandingkan kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan dengan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Bahar bin Smith terhadap dua remaja. Dimana tuntutan terhadap pelaku penyerangan ari keras Novel Baswedan jauh lebih ringan ketimbang tuntutan terhadap Bahar bin Smith.

Bahar bin Smith diketahui dituntut 6 tahun penjara karena melakukan penganiayaan terhadap Cahya Abdul Jabar dan Khoirul Aumam. Majelis hakim akhirnya memutus pria yang identik dengan rambut panjang pirang itu dengan hukuman 3 tahun penjara.

“Bandingkan saja dgn penganiayaan Bahar Bin Smith. Saya melihat pengadilan ini sebagai ‘panggung sandiwara’,” ungkap Laode.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Harun Masiku Titip Koper Isi Uang di Rumah Aspirasi, Rp 170 Juta Diserahkan di DPP PDIP

Read Next

Selain Eks Dirut Dirgantara Indonesia, KPK Tetapkan Tersangka Dirut PT PAL