24 February 2024, 12:15

Pancasila Jangan Hanya Jadi Pajangan

PADA era globalisasi seperti saat ini, dimana batas negara seakan sudah tidak ada lagi. Pertukaran budaya sudah menjamah ke seluruh dunia dan sulit dibendung karena pengaruh kemajuan tehnologi informasi dan ini tentu akan menimbulkan dampak pada generesi muda milenial.

Generasi muda ini bisa dengan mudah terpengaruh budaya luar sehingga pada gilirannya akan mengikis jati dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Rasa nasionalisme yang rendah semakin membuat mereka rentan disusupi ideologi lain yang bisa menggoyahkan stabilitas nasional .

Untuk itu harus dilakukan penguatan dan upaya mengfilter pengaruh budaya dan ajaran serta ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai ke Indonesiaan yaitu Pancasila. Pancasila sebagai pandangan hidup dan sumber dari segala sumber hukum serta falsafah Bangsa.

Saat ini, menjelang hajatan besar lima tahunan yakni Pemilihan Umum, baik Pilpres, Pileg maupun Pemilukada, maka segenap warga negara harus berperan aktif menyukseskannya. Tentunya dengan tetap menjaga keharmonisan dan persatuan nasional. Karenanya sudah sepatutnya seluruh peserta Pemilu menghindari kampanye politik identitas.

Terlebih, memanasnya suhu politik saat ini dikhawatirkan akan banyak ancang-ancang gerakan politik dengan memanfaatkan keterlibatan identitas individu yang tidak disadari oleh masyarakat sehingga perlu adanya awareness mengenai keberadaan politik identitas tersebut.

Politik identitas sendiri adalah kegiatan politik yang berdasarkan identitas individu baik dari etnis, ras, suku, hingga agama. Dampak dari politik identitas juga cukup serius karena bisa menyerang golongan tertentu yang menimbulkan diskriminasi hingga radikalisasi.

Politik identitas ini ialah partisipasi setiap individu-individu dalam politik atas nama kelompok sosial tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh pengakuan maupun legitimasi. Salah satu contoh yang ‘legendaris’ di Indonesia yaitu Pilkada DKI 2017, dimana calon gubernur yakni petahana Basuki Tjahaja Purnama diserang politik identitas karena beragama non muslim.

Kembali ke Pancasila
Pancasila sebagau dasar falsafah (Philosofische gronslag), pandangan hidup (Weltanchaung) sekaligus ideologi negara / bangsa, secara filosofis mempunyai makna yang mendalam sebagai guidance line, pijakan, dan dasar dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermsyarakat.

Pancasila diadopsi dari volkgeist/isi jiwa bangsa yang terkristalilsasi ke dalam 5 sila Pancasila (moral Ketuhanan, moral Kemanusiaan/humanisme, moral Persatuan/nasionalisme, moral kerakyatan/demokrasi, dan moral keadilan sosial. Lima sila Pancasila itu menjadi atau sebagai landasan moral dalam bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat atau dalam kehidupan bersama sebagai anak bangsa tanpa tersekat oleh ikatan persaudaraan.

Persoalannya sekarang dan ke depan adalah bagaimana “membumikan” 5 nilai luhur Pancasila itu dalam tataran praktikal agar Pancasila dapat berfungsi sebagai “Filter”/penyaring atas pengaruh yang timbul dari perubahan ataupun kemajuan zaman di berbagai bidang kehidupan tanpa kehilangan jati diri sebagau bangsa, sekaligus kondusif dengan dinamika zaman dengan berbagai perubahan yang menyertainya.

Untuk membumikan Pancasila dlm tataran das sein agar dapat berfungsi sebagai “Filter”, beberapa hal yang mendesak dan urgen dilakukan, yaitu :

  1. Lima Sila Pancasila itu harus diberikan makna secara verbal (dengan bahasa yang sederhana) dan virtual (berupa gambar, foto, video, dllnya) secara utuh, menyeluruh dan mudah dipahami tapi tidak menghilangkan esensi yang terkandung dalam setiap sila (ini menjadi tanggungjawab Badan Pembinaan Idiologi Pancasila/BPIP)
  2. Hasil pemaknaan verbal dan visual itu kemudian di edukasikan dan disosialisasikan secara kontinyu dan masif ke segenap lapisan masyarakat dengan menggunakan media cetak, elektronik, dan media sosial (medsos);
  3. ‚Ā†Perlu juga pemasyarakat Pancasila dilakukan semacam P4 (masa Orde Baru), hanya metode nya tdk bersifat doktriner atau dogmatis, tapi dialogis dan interaktif.
    Dengan upaya / langkah-langkah tersebut di atas, Pancasila akan menjadi “membumi” yang secara internalisasi akan tampak ke luar dalam perilaku Pancasilais.

Jadi Pancasila jangan hanya “pajangan” atau lips service (sebatas di mulut) tapi tampak prakteknya dalam perilaku dan sikap sehari-hari anggota masyarakat.

Agus Widjajanto

Penulis adalah Praktisi hukum di Jakarta, Penulis politik, hukum, sosial budaya

Read Previous

Hari Ibu 2023, Rieke Diah Serukan Penetapan Arsip PPNSB Sebagai Memori Kolektif Bangsa

Read Next

DPR RI Raih Penghargaan Sebagai Juara III Penerima IDIA Tahun 2023