24 May 2024, 02:07

Nongol di Markas KPK, Tersangka Mensos asal PDIP Bungkam

Gedung KPK

Gedung KPK

daulat.co – Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara (JPB) tiba-tiba ‘nongol’ di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Minggu (6/12/2020) dinihari. Namun, Wakil Bendahara Umum PDI-P periode 2019-2024 yang tak berhasil diamankan oleh Tim Satgas KPK dalam oprasi tangkap tangan (OTT) pada Sabtu  (5/12/2020) itu hanya bungkam dan melambaikan tangan.

Juliari P Batubara diketahui ‘nongol’ di markas lembaga antokorupsi sekira pukul 02.50 WIB dengan mengenakan jaket dan topi warna hitam. Tak sepatah kata terlontar dari mulut tersangka kasus dugaan suap terkait paket sembako program bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19 itu. Dengan dikawal petugas keamanan, Juliari cuek sembari melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Konfirmasi awak media prihal dugaan suap dan penetapan tersangkanya hanya ditanghapi Juliari dengan melambaikan tangan.

Belum diketahui apakah kedatangan Juliari menyerahkan diri atau ditangkap Tim Satgas KPK. Saat jumpa pers, Ketua KPK, Firli Bahuri menyebut Juliari dan PPK di Kemensos, Adi Wahyono (AW) tak berhasil ditangkap dalam OTT. Keduanya pun diminta untuk kooperatif.

“KPK menghimbau kepada JPB  dan AW untuk kooperatif segera menyerahkan diri ke KPK,” ucap Firli.

Diketahui, dalam OTT di Jakarta pada Sabtu  (5/12/2020) itu, Tim Satgas KPK hanya mengamankan enam orang yakni, Matheus Joko Santoso (MJS) selaku PPK di Kemensos; Wan Guntar (WG) selaku swasta asal Tiga Pilar Agro Utama; Ardian I M (AIM) selaku swasta; Harry Sidabuke (HS) selaku swasta; Shelvy N (SN) selaku Sekretaris di Kemensos; dan Sanjaya (SJY) selaku swasta.

Tim Satgas selain itu juga mengamankan uang dengan total Rp 14,5 miliar. Uang itu terdiri dari Rp 11, 9 miliar,  USD 171,085 (setara Rp 2,420 miliar) dan  SGD 23.000 (setara Rp 243 juta). Uang itu tersimpan dalam 7 koper, 3 tas ransel dan amplop kecil.

Pihak-pihak yang ditangkap beserta uang dugaan suap itu dibawa ke kantor KPK untuk pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan hasil gelar perkara pasca OTT itu, KPK menetapkan lima orang tersangka kasus dugaan suap program bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19. Yakni, Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara; Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kemensos; serta dua pihak swasta Ardian I M (AIM) dan Harry Sidabuke (HS).

Juliari P Batubara diduga menerima uang suap dengan total Rp 17 miliar dari pihak swasta Ardian dan Harry, yang mendapatkan tender sembako di Kementerian Sosial RI tersebut.

Pemberian uang kepada Mensos Juliari melalui  Matheus Joko Santoso selaku PPK di Kemensos dan Shelvy N selaku Sekretaris di Kemensos. Keduanya merupakan orang kepercayaan Juliari.

Dugaan suap itu diawali adanya pengadaan Bansos penanganan Covid 19 berupa paket sembako di Kementerian Sosial RI tahun 2020 dengan nilai sekitar Rp 5,9 triliun dengan total 272 kontrak dan dilaksanakan dengan 2 periode.

Juliari selaku Menteri Sosial menunjuk Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono sebagai PPK dalam pelaksanaan proyek tersebut dengan cara penunjukkan langsung para rekanan.

Diduga disepakati ditetapkan adanya fee dari tiap-tiap paket pekerjaan yang harus disetorkan para rekanan kepada Kementerian Sosial melalui Matheus Joko Santoso. Untuk fee tiap paket Bansos di sepakati oleh Matheus Joko Santoso dan AW sebesar Rp 10 ribu per paket sembako dari nilai Rp 300 ribu perpaket Bansos.

Pada pelaksanaan paket Bansos sembako periode pertama, diduga diterima fee Rp 12 miliar yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh Matheus Joko Santoso kepada Mensos Juliari P Batubara melalui Adi dengan nilai sekitar Rp 8,2 Miliar.
Pemberian uang tersebut, selanjutnya dikelola oleh Eko dan Shelvy N selaku orang kepercayaan Juliari P Batubara untuk digunakan membayar berbagai
keperluan pribadi Juliari.

Sementara pada periode kedua pelaksanaan paket Bansos sembako, terkumpul uang fee dari bulan Oktober 2020 sampai dengan Desember 2020 sejumlah sekitar Rp 8,8 miliar yang juga diduga akan dipergunakan untuk keperluan Juliari.

Atas dugaan tersebut, Juliari P Batubara disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sementara Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (i) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Adapun Ardian I M (AIM) dan Harry Sidabuke (HS) yang diduga pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Jadi Tersangka Suap, Mensos asal PDIP Dapat ‘Cuan’ Bansos Covid-19 Rp 17 Miliar

Read Next

Meningkatkan Hasil Belajar Dengan Mendorong Siswa Berfikir Kritis Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah