13 June 2024, 19:49

Nama Tahir dan Mayapada Disebut Dalam Dakwaan TPPU Benny Tjokrosaputro

Suasana sidang secara virtual di PN Tipikor Jakarta

Suasana sidang secara virtual di PN Tipikor Jakarta

daulat.co – Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Pencucian uang itu diduga hasil korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (PT AJS) bersama-sama sejumlah pihak dan berakibat merugikan negara senilai Rp 16,8 triliun.

Hal itu termaktub dalam surat dakwaan Benny Tjokrosaputro yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Agung (Kejagung), di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (3/6/2020). Menurut Jaksa, terdakwa Benny telah melakukan sejumlah modus dalam upaya pencucian uang, seperti menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga pembelian saham dan pembelian valuta asing (valas) serta pembiayaan lainnya.

Sejumlah nama perseorangan maupun korporasi muncul dalam uraian surat dakwaan terkait tindak pidana pencucian uang Benny. Diantaranya adalah nama Tahir dan Mayapada. Diduga nama Tahir itu merujuk pada pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir.

Diterangkan dalam dakwaan, terdakwa Benny selaku pihak yang mengatur dan mengendalikan instrumen pengelolaan investasi saham dan Reksa Dana PT. AJS telah menempatkan, mentransfer, mengalihkan dan membelanjakan hasil tindak pidana korupsi pengelolaan investasi saham dan Reksa Dana PT. AJS tahun 2008 sampai dengan tahun 2018.

“Dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan,” ujar jaksa.

PT. AJS diketahui sejak tahun 2008 sampai dengan 2018 telah mengumpulkan dana-dana dari hasil produk PT. AJS berupa produk non saving plan, produk saving plan, maupun premi korporasi yang keseluruhan bernilai kurang lebih Rp 91.105.314.846.726.

Dari pengumpulan dana tersebut, PT. AJS melakukan investasi dengan membeli saham-saham dan Medium Term Note (MTN) yang dijadikan portofolio PT. AJS baik secara direct, dalam bentuk KPD, RDPT maupun Reksa Dana Konvensional. Upaya itu telah diatur dan dibawah kendali terdakwa Benny dan Heru Hidayat melalui Joko Hartono Tirto.

Pengaturan dan pengendalian Investasi saham dan Reksa Dana PT. AJS dilakukan Benny dan Heru karena adanya kesepakatan dengan Hary Prasetyo, Syahmirwan dan Hendrisman Rahim melalui pertemuan-pertemuan untuk menyerahkan pengelolaan investasi saham dan Reksa Dana PT. AJS kepada Benny dan Heru melalui Joko Hartono.

Akan tetapi, investasi itu dalam perjalanannya justru menimbulkan kerugian hingga Rp 16.807.283.375.000. Uang yang merupakan kerugian negara itu kemudian diterima oleh Benny dan Heru Hidayat melalui rekening atas nama Bentjok dan Heru Hidayat dan atas nama beberapa nominee.

“Pada tanggal 26 November 2015 s/d 22 Desember 2015, Benjtok telah menerima pembayaran atas penjualan Medium Tems Note (MTN) PT. Armidian Karyatama dan PT Hanson, sejumlah Rp 800 miliar yang digunakan untuk membeli tanah di Maja, Kabupaten Lebak Banten, membayar bunga Mayapada, membeli saham dan untuk membayar kepada nominee terdakwa Benny Tjokrosaputro atas nama PO Saleh (dikendalikan Jimmy Sutopo),” kata jaksa.

Dari dana itu, ada yang digunakan untuk membayar bunga Mayapada sekitar Rp  27,880 miliar.

Pada tanggal 06 Oktober 2015 sampai dengan 14 Maret 2017, Benny telah mempergunakan uang hasil jual beli saham MYRX, BTEK dan Medium Tems Note (MTN) PT. Armidian Karyatama dan PT Hanson sejumlah Rp 1,7 triliun. “Dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaannya, dengan mengggunakan rekening Bentjok di Bank WINDU (Bank China Construction Bank Indonesia) nomor rekening 1003478951,” tutur jaksa.

Diuraikan jaksa, transaksi keuangan dari nomor rekening itu untuk berbagai keperluan. Diantaranya:

1. Tanggal 12/12/13, dengan keterangan
pengeluaran Pembelian lukisan kramik dr p’tahir senilai Rp 675.840.000

2. Tanggal 06/10/15  dengan keterangan
pengeluaran Pengemb. Dana ke p’tahir senilai Rp 500.000.000

3. Tanggal 17/10/15, dengan keterangan pengeluaran Pengemb. Dana ke Listyo Windu (p’tahir) senilai Rp 500.000.000

4. Tanggal 23/10/15, dengan keterangan pengeluaran Pengembalian dana ke p’tahir (dari Windu BT ke Windu Cipta Anugrah Sejati) senilai Rp 9.000.000.000

5. Tanggal 23/10/15, dengan keterangan pengeluaran Pengembalian dana ke p’tahir (dari Windu BT ke Windu Cipta Anugrah Sejati) senilai Rp 11.083.500.000

6. Tanggal 30/10/15, dengan keterangan
pengeluaranbPengem. Dana p’Tahir – PT. Delta — PT pelita senilai Rp 3.301.000.000

7. Tanggal 20/11/15, dengan keterangan pengeluaran PD dari Windu BT ke Pelita Indo Karya ( utk giro p’ tahir) senilai Rp 10.000.000.000

8. Tanggal 20/11/15, dengan keterangan pengeluaran PD dari Windu BT ke windu Krista ( utk giro p’ tahir) senilai Rp 9.000.000.000

9. Tanggal 20/11/15, dengan keterangan pengeluaran PD dari Windu BT ke windu Nabila Rianti utk giro p’ tahir) Rp 11.000.000.000

10. Tanggal 16/11/15, dengan keterangan pengeluaran Pengemb. Ke p’tahir dr pencairan Panca Pesona Mayapada senilai Rp 5.000.000.000

11. Tanggal 16/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk Pengemb. Ke p’tahir dr pencairan Panca Pesona Mayapada dengan keterangan Rp 5.000.000.000

12. Tanggal 10/11/15, dengan keterangan pengeluaran keterangan Byr giro p’tahir (ke Windu krista F) senilai Rp 10.000.000.000

13. Tanggal 05/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk membayar Bunga Mayapada senilai Rp 5.132.000.000

14. Tanggal 05/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk membayar Bunga Mayapada ( Junti mas) senilai Rp 468.000.000

15. Tanggal 05/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk membayar Bunga Mayapada senilai Rp 33.927.000.000

16. Tanggal 10/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk membayar Bunga Mayapada senilai Rp 24.667.000.000

17. Tanggal 16/11/15, dengan keterangan pengeluaran untuk membayar Bunga Mayapada Rp 3.090.700.000

Bukan hanya itu, Benny juga menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaannya, telah menempatkan, mentransfer dan membayarkan dana dari PT. AJS dengan pola transaksi RTGS dari rekening pribadinya di Bank BCA dan Bank WINDU dengan memerintahkan asisten pribadinya Jani Irenewati untuk melakukan tranfer dengan nama penerima Tahir di UBS AG Singapura Branch Singapura.

Atas perbuatan itu, terdakwa Benny didakwa melanggar Pasal 3 dan atau pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Adapun dalam perkara dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (PT AJS), Benny didakwa bersama-sama sejumlah pihak. Yakni, mantan Direktur Utama PT Asuaransi Jiwasraya Hendrisman Rahim; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo; mantan Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat; dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto. Perbuatan Heru bersama-sama sejumlah pihak itu merugikan negara senilai Rp 16,8 triliun.

Atas perbuatan itu, Terdakwa Heru Hidayat didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 dan atau Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Pengacara Klaim Kasus Jiwasrawa Masuk Ranah Pasar Modal

Read Next

Korupsi Jiwasraya Preskom PT TRAM Heru Hidayat untuk Beli Apartemen Anak