13 June 2024, 21:55

Mengeksekusi Nawa Cita Jokowi dan Cahaya Lilin Bung Hatta di Ulujami

daulat.co – Kecamatan Ulujami mempunyai komoditas unggulan dibidang pertanian, hasil laut atau pertambakan dan industri konveksi. Ketiga komoditas unggulan itu bila dikelola dengan baik, selain dapat meningkatkan perekonomian warga juga menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sayangnya, hingga kini komoditas tersebut ‘kurang’ mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pemalang. Selama ini, petani tambak dengan segala keterbatasannya mencari peluang sendiri  bagaimana menjual ikan bandeng. Begitu juga komoditas bunga melati dan industri konveksi.

Sardiyan, warga Desa Blendung Ulujami yang juga Direktur BUMDesma Ulujami dalam wawancaranya kepada sejumlah media online di Pemalang baru-baru ini mengungkapkan, warga Ulujami sejatinya selama ini telah mengeksekusi langsung Program Besar bernama Nawa Cita. Atau dalam bahasa Bung Hatta, menyalakan lilin dari desa.

Poin ketiga dari Nawa Cita Jokowi dimaksud adalah ‘membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan’. Dalam Nawa Cita itu disebutkan bahwa pelaksanaannya dilapangan tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kerja keras para pemangku kepentingan (stakeholders).

Terlepas dari kisruh soal penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Pemalang, Sardiyan menyebutkan jika petani tambak, petani bunga melati dan industri konveksi, sebetulnya telah berkomunikasi dengan Pemkab Pemalang dan DPRD Pemalang.

Dalam berbagai kesempatan, kepada dinas terkait misalnya disampaikan salah satu kebutuhan petani akan cold storage room guna menampung hasil tangkapan ikan. Komoditas ikan bandeng khususnya. Hal yang sama disampaikan ke DPRD Pemalang. Namun hingga kini belum ada belum ada titik terang, bagaimana merealisasikan kebutuhan akan cold storage tersebut.

“Rata-rata, produksi bandeng di Ulujami mencapai 50 ton per hari dari petani budidaya dan petani tangkap. Hasilnya langsung dijual dengan harga dibawah pasaran karena tidak mempunyai cold storage. Ikan dipasok ke Semarang, Jakarta, Purwokerto dan kota besar lainnya,” kata Sardiyan.

“Mereka beli disini dengan harga murah dan disana disentuh dan dijual dengan harga olahan. Kami kasih tau, bandeng di Ulujami ini unggul karena tidak bau tanah, dagingnya kenyal, rasanya lebih enak. Sayangnya komoditas unggulan ini belum mendongkrak nilai jual karena belum ada cold storage dan fasilitas pengolahan,” sambungnya.

Ia melanjutkan, kondisi demikian memang menjadi pekerjaan rumah (PR) seluruh petani di Ulujami dan Pemalang ada umumnya. Melalui organisasi yang dipimpinnya di kecamatan paling timur di Pemalang, BUMDesma Rukun Makmur, pihaknya kemudian membuat mesin oven, fasilitas ikan presto, dan mengadakan sejumlah peralatan pengolahan ikan seperti freezer berukuran kecil hingga mesin pres.

Sardiyan berharap, dengan adanya cold storage berukuran besar ke depan ada model atau sistem jual tunda pada saat produksi ikan bandeng melimpah. Baik dari petani budidaya maupun petani tangkap. Keberadaan cold storage juga disebutkan dia bisa memutus mata rantai penjualan ikan melalui calo.

“Selama ini, pada saat panen bandeng yang waktunya bisa berbarengan, nilai jual rendah karena banyak barang. Akhirnya dijual selakunya, disitulah para pemain muncul. Kalau ada cold storage lumayan, mengeluarkan bandeng bisa dilakukan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ditambahkan, model jual tunda produksi ikan bandeng melalui cold storage menambah daya jual yang sangat menguntungkan karena daging ikan tetap segar karena diawetkan dengan suhu dan temperatur yang sesuai. Ikan yang dimasukan ke dalam cold storage akan dimasukan kembali ke dalam box penyimpanan yang disebut packing box dan siap di distribusikan kembali ke pasar-pasar. Baik pasar tradisional maupun pasar modern.

Kemudian mengenai komoditas salah satu tanaman yang tergolong ke dalam perdu, yakni bunga melati, lanjut Sardiyan, pihaknya juga telah menyampaikan ke Pemkab Pemalang dan DPRD Pemalang. Kata dia, jika ada pengolahan bunga yang hidup mekar di iklim tropis ini menjadi bibit minyak wangi maka secara otomatis mempunyai nilai jual yang tinggi. Apalagi, Melati jika diolah bisa menjadi bahan kosmetik, farmasi dan bahan campuran atau pengharum teh.

Sementara mengenai industri konveksi disampaikan warga Ulujami lainnya, Turah Raharjo, saat ini dunia industri mendapatkan pukulan telak sejalan dengan wabah atau pandemi Covid-19. Tahun ini, banyak pengusaha konveksi yang harus merugi hingga ratusan juta karena wabah tersebut. Bulan puasa yang biasanya dijadikan target penjualan utama dalam setahun, melempem karena korona.

Ditegaskan pula jika konveksi di Ulujami telah menggerakkan roda perekonomian warga, karena melibatkan banyak orang. Ia berharap korona segera berlalu sebagaimana harapan sebagian besar pengusaha yang datang dan menyampaikan uneg-unegnya karena banyak yang merugi ke rumahnya.

(Sumitro)

Read Previous

Kasus Suap dan Gratifikasi Nurhadi, KPK Sita Tas dan Sepatu

Read Next

Mahkamah Agung Anggap Eks Dirut PLN Sofyan Basir Pantas Dibebaskan