24 June 2024, 03:28

Membangun Bangsa Kalau Hanya Orientasi Pabrik, 4-5 tahun Bisa Eksis Tapi Setelah Itu Bisa Ambruk

daulat.co – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan pembangunan di bidang pendidikan harus atas dasar pondasi value atau nilai luhur. Ia menyinggung kata ahli bahwa kemajuan dan kemajuan dan pembangunan bangsa tanpa disertai kualitas bisa menimbulkan kesenjangan.

“Kalau fisik maju dan kualitas tidak, akan susah mengejarnya,” tegas Haedar saat meresmikan Gedung Fakultas Kedokteran UHAMKA Jakarta, Selasa (07/01/2019).

Menurutnya, dasar nilai harus selalu melekat termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Seorang yang sukses kalau tidak diiringi dengan value tidak akan bertahan lama. Karena proses kesuksesan tanpa diiringi pondasi nilai yang benar, cepat atau lambat akan ambruk.

Lebih-lebih tidak semua jenjang kesuksesan dapat dibeli. Pengalaman, ilmu dan leadership (kepemimpinan) tidak bisa dibeli. Tidak ada kesuksesan yang instan, kesuksesan penuh dengan perjuangan (kerja keras) dan kerja cerdas.

Membangun bangsa dan mencerdaskan bangsa di manapun termasuk pendidikan tidak bisa seperti pabrik. Kalau hanya orientasi pabrik mungkin 4-5 tahun bisa eksis tapi setelah itu bisa ambruk.

“Perlu diingat jangan pernah sombong jika sudah sukses. Semua bentuk kesuksesan dan kekuasaan di dunia tidak ada yang abadi. Hanya kekuasaan yang Maha Kuasa, Allah swt yang abadi. Disitu pentingnya dasar value dan spiritualitas,” pesan Haedar.

Dalam membangun kesuksesan AUM, Haedar mengatakan setidaknya ada tiga hal yang harus diletakkan dalam membangun AUM. Pertama, pengkhidmatan yang didasari oleh dua hal yaitu keikhlasan dan komitmen termasuk didalamnya adalah kerja keras.

Kedua, perlunya dibangun nilai-nilai dan aktivitas keislaman. Muhammadiyah membawa misi Islam, menciptakan Islam yang sebenar-benarnya. Dalam keseharian di kampus, ketika adzan semua bergerak untuk sholat. Tidak perlu diinstuksikan rektor apalagi melalui sanksi, harus bergerak melaksanakan sholat untuk menciptakan suasana kebathinan dalam hidup sehingga ada jeda spiritual.

Contoh kegiatan lain kata Haedar adalah adanya pengajian sebagai bagian aktivitas di Uhamka. Namun harus disii oleh pendakwah yang mencerahkan tidak marah-marah dan menyalah-nyalahkan tetapi dengan argumentasi yang membuat jamaah menjadi cerah dan cerdas.

Ketiga, orientasi dan aktivitas ke-Muhammadiyahan. Misi Muhammadiyah dakwah dan tajid yang membawa pembaruan dan berislam. Dengan inilah kerja di AUM harus diiringi dengan nilai-nilai ukhrawi.

“Kejayaan dan apapun ada batasnya. Semua akan berakhir kehidupan akhirat adalah yang utama. Ini penting ditamkan dalam setiap pimpinan, karyawan dan mahasiswa Uhamka,” pesan Haedar.

Disisi lain, Haedar menjelaskan Muhammadiyah punya tanggungjawab untuk memajukan masyarakat sekitar. Masyarakat harus memperoleh bagian dalam pencerdasan. Maka AUM harus selalu peduli dengan lingkungan sekitar lebih-lebih lingkup persyarikatan yaitu dengan menghidupkan cabang-cabang Muhammadiyah dan memakmurkan masjidnya.

Membangun bangsa memerlukan komitmen bersama. Muhammadiyah dari dulu mempunyai andil dan peran penting dalam pembangunan dan pencerdasan Bangsa. Muhammadiyah tidak ada hitung-hitungan.

“Muhammadiyah sangat yakin dan percaya itu. Disitulah jiwa besar Muhammadiyah, berbuat tanpa mengharapka balasan. Pemerintah harus sadar, sebesar dan sekuat apapun tidak bisa sendiri. Maka, ketika memegang kekuasaan harus amanah dan tidak boleh disalahgunakan,” pungkas Haedar.

(M Abdurrahman)

Read Previous

Ditangkap KPK, Bupati Sidoarjo Diduga Terlibat Suap Pengadaan Barang dan Jasa

Read Next

73 PNS Diberhentikan: Ada Yang Beristri Dua, Jadi Calo CPNS Hingga Tersandung Gratifikasi