21 May 2024, 23:46

Memacu Kreativitas Belajar Siswa Melalui Model Problem Based Learning Berbantuan Media PowerPoint

STRATEGI pembelajaran menjadi hal yang penting dilakukan oleh guru sebagai salah satu solusi jangka panjang. Salah satu model pembelajaran yang cocok diterapkan sebagai proses pembiasaan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi dinamika serta problematika kehidupan adalah model Problem Based Learning.

Apa itu belajar berdasarkan Problem Based Learning? Piaget (dalam Slavin, 2008:43) menyebut bahwa semua anak dilahirkan dengan kecenderungan bawaan untuk berinteraksi dengan
lingkungan mereka dan memahaminya. Problem Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang mengajak siswa untuk berpikir kritis menjawab problematika dan mencari solusi sebagai jalan keluar problematika tersebut.

Penekanan pada model pembelajaran ini adalah dengan menggunakan masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan pengaturan diri. Inti dari Problem Based Learning adalah penyajian permasalahan yang autentik dan bermakna kepada siswa.

Salah satu pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menerapkan model Problem Based Learning berbantuan media PowerPoint. Media ini dipilih dikarenakan bersifat multimedia. Media bersifat multimedia adalah gabungan dari berbagai unsur media, seperti teks, gambar, animasi, dan video. Sifat multimedia diharapkan akan mempermudah menyampaikan pesan atau informasi pada proses pembelajaran.

Penggunaan PowerPoint sebagai media pembelajaran sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini. Sehingga informasi atau pesan pengetahuan tidak harus dilakukan secara langsung oleh guru melalui ceramah. PowerPoint adalah program aplikasi presentasi yang populer dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan, dari pembelajaran, presentasi produk, rapat, seminar hingga lokakarya.

Melalui penggunaan media PowerPoint dalam proses pembelajaran diharapkan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Apalagi, berdasarkan hasil penelitian Tirtiana (2013) tentang pengaruh penggunaan media pembelajaran PowerPoint, terbukti berpengaruh positif terhadap hasil belajar. Penggunaan media PowerPoint juga berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi dan kreativitas belajar siswa.

Sayangnya, dalam kenyataannya masih banyak guru di sekolah yang belum memanfaatkannya. Masih banyak guru di sekolah yang enggan menggunakan teknologi, baik untuk belajar maupun proses mengajar. Dengan keunggulan, kemudahan, dan teknologi sederhana PowerPoint
diharapkan akan membangkitkan semangat guru dalam mengintegrasikan teknologi dalam suatu proses pembelajaran.

Perpaduan media PowerPoint dan model Problem Based Learning dapat dilihat dari penggunaan media PowerPoint untuk mendukung proses belajar mengajar sebagai berikut.

(1) Guru mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah melalui tampilan media PowerPoint, memotivasi peserta didik untuk terlibat langsung dalam permasalahan yang dipilih.
(2) Guru membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut melalui tampilan media PowerPoint.
(3) Guru mendorong peserta didik untukmengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan pengujian temuan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
(4) Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan temuanyang sesuai dengan laporan temuan dan membantu mereka untuk berbagi tugas. Pelaporan secara kelompok dipresentasikan dengan media PowerPoint.
(5) Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka tempuh.

Di sisi lain, Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan persiapan di masa depan, dalam hal ini masa depan kehidupan anak yang ditentukan orang tua. Oleh karenanya, sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang. Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan, yang dilaksanakan dengan menuangkan pengetahuan kepada siswa (Oemar Hamalik, 2008: 25).

Bila pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan progam pengajaran tahunan, semester dan penyusunan persiapan mengajar berikut persiapan perangkat kelengkapannya antara lain berupa alat peraga dan alat-alat evaluasinya (Hisyam Zaini, 2004: 4).

Secara ringkas dapat disimpulkan pembelajaran adalah suatu proses dan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Pembelajaran juga merupakan persiapan di masa depan dan sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang.

IPA merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan hakikat pembelajaran IPA.

IPA adalah pengetahuan khusus yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain. Pelajarannya berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis dan IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Menurut Iskandar (2001: 2), IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa yang terjadi alam. Mata pelajaran IPA di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan.

Tujuan Pembelajaran IPA di SD/MI:

  1. Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat.
  2. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
  3. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman ke bidang pengajaran lain.
  6. Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

Fathurofiq
PPG Dalam Jabatan Universitas PGRI Semarang

Read Previous

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Read Next

Jadi Tersangka Suap Proyek, Bupati Banggai Laut Reaktif Covid-19