16 May 2021, 22:44

Mak Murwuri, Perempuan Senja di Pesisir Pantai Tasikrejo

Mak Murwuri

Mak Murwuri

NAMANYA Mak Murwuri. Usianya 62 tahun. Usia sepuh, kalau tidak dibilang rapuh. Tinggalnya sendiri. Di Pesisir Pantai Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang.

Ada apa dengan Mak Murwuri? Tidak ada apa-apa. Hanya penulis coba berbagi. Bukan berbagi kesedihan. Apalagi bantuan sosial, bukan! Karena perempuan senja yang tinggal di gubuk reot ukuran 2×4 meter itu, bahkan kini tak pernah mendapatkannya.

Hidup Mak Murwuri sendiri, seperti penulis awali diatas. Tanpa suami. Tanpa anak. Hidupnya sebatang kara. Alif. Lokasi tempat tinggalnya berjarak sekira 4 KM dari Balai Desa Tasikrejo. Jumat (23/4) penuh berkah, penulis berkesempatan, atau menyempatkan diri menyambangi gubuk Mak Murwuri.

Gurat-gurat di wajahnya begitu kentara. Selayaknya perempuan seusianya. Saat kali pertama penulis lihat. Saat berbincang, Mak Murwuri mengandalkan fungsi pendengaran. Tidak bisa melihat ekspresi ataupun mimik wajah lawan bicaranya. Ia mengalami rabun mata sejak beberapa tahun terakhir. Satu lagi. Ada benjolan di bagian lehernya.

Mal Murwuri mengandalkan belas kasih warga. Untuk menyambung hidup sehari-hari. Itu alasan kenapa Mak Murwuri tidak berobat, rabun dan benjolan dileher, bahkan untuk makan sehari-hari saja serba kekurangan.

Cerita itu baru sebagian. Gubuknya yang reot masih harus bocor jika hujan. Belum lagi jika air laut tengah pasang. Genangan rob praktis mengelilingi gubuknya. Angin laut yang yang menerpa tubuhnya menjadi ‘makanan’ sehari-hari. Jangankan angin laut. Air laut yang praktis asin juga dijadikan air mandi.

Gubuknya menggunakan penerangan seadanya. Lentera, atau lebih tepatnya cemplik, jika orang Pemalang bilang. Penerangan menggunakan minyak tanah dengan modifikasi botol kaca kemasan dan sumbu kain.

Sesekali, jika senja mulai tiba, Mak Murwuri mendapatkan penerangan lampu solar bantuan dari pemerintah setempat. Lampu solar ini sebenarnya sama dengan cemplik. Bedanya pada bahan bakar. Lampu solar, maksudnya cemplik menggunakan minyak jenis solar. Lampu solar dipakai bebarengan dengan tetangganya, Danusri.

“Sudah tinggal disini sejak tahun 1999, ini tanahnya milik Bapak Kasidi, petani bunga melati, orang sini,” kata Mak Murwuri dalam bahasa Jawa Pemalangan medok yang sudah penulis alihbahasakan.

Mak Murwuri bercerita, dulu pernah mendapatkan bantuan sebesar Rp 600 ribu per bulan. Dalam ingatannya, sambil mengira-ira, dapat sekitar tiga kali. Habis itu, tidak dapat lagi. Tidak tahu kenapa tidak dapat lagi.

Saat diberitahu jika ada beberapa bantuan sosial Korona yang sudah dihentikan. Mak Murwuri kurang mampu mencerna informasi dengan baik. Yang ada, logatnya lucu, sambil bertanya.

Gubuk reot Mak Murwuri dikepung air rob (foto daulat.co)

“Corona itu siapa, orang mana, tidak pernah kesini kasih bantuan,” ucapnya. Penulis senyum disini.

Tim Gali Kubur Pun Kabur

Lain Mak Murwuri, lain pula cerita Danusri. Tetangganya yang senasib dan mungkin sepenanggungan. Perempuan ini usianya tenyata lebih tua dari Mak Murwuri. Meski terpaut hanya setahun. Bedanya, ternyata Danusri tinggal lebih dulu di Pesisir Pantai Tasikrejo. Sejak masih muda katanya.

Bedanya lagi. Danusri tidak tinggal sendirian. Ia tinggal bersama suami dan satu anaknya. Untuk kehidupan sehari-hari, suaminya memasang jaring ikan di pinggiran laut. Hasil dari tangkapan ikan itu dijual dan sisanya untuk lauk makanan sehari-hari.

Penulis mengajak pembaca sekalian. Sekiranya berkesempatan, ada waktu, tidak ada salahnya datang menyambangi gubuk reot Mak Murwuri. Soal rejeki, itu urusan pembaca sekalian. Sesuai kemampuan. Salam Ramadhan!

(Rizqon Arifiyandi/Sumitro)

Read Previous

ASN Jangan Mudik!

Read Next

Membaca Arah Pertemuan Nadiem dengan Megawati di Tengah Isu Reshuffle Kabinet