26 May 2024, 01:19

Kronologi Jatuhnya Pesawat SJ182: Lost Contact Antara Pulau Laki dan Pulau Lancang

Budi Karya Sumadi

daulat.co – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta- Pontianak yang hilang kontak jatuh. Diduga lokasi jatuhnya pesawat di antara perairan Pulau Laki dan Pulau Lancang di Kepulauan Seribu.

Diketahui, Pesawat Sriwijaya Air SJY-182 jenis Boeing 737-500 dengan nomor registrasi PK-CLC ini hilang kontak saat terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Informasi yang dihimpun, diduga lokasi jatuhnya pesawat di sekitaran Pulau Pemuda Kepulauan Seribu. Dikabarkan pesawat jatuh ke laut kemudian meledak.

Dalam jumpa pers secara daring, Sabtu (9/1/2021) malam, Menhub menbeberkan kronologi hilang kontaknya pesawat tersebut. Dikatakan Budi Karya pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 14.36 WIB.

“Take off pukul 14.36 WIB. Pukul 14.37 WIB diizinkan naik ke ketinggian 29 ribu kaki dengan mengikuti standar instrumen departure,” terang Budi Karya.

Namun, ATC pada pukul 14.40 WIB tidak melihat pesawat tersebut menuju koordinat yang semestinya. Sebab itu, ATC meminta pilot untuk melaporkan arah.

“Tidak lama kemudian dalam hitungan detik, target SJY 182 hilang dari radar. Manager operasi langsung berkoordinasi dengan Basarnas dan instansi terkait,” ungkap Menhub.

Lebih lanjut dikatakan Menhub Budi, Presiden Jokowi pada pukul 17.30 WIB memberikan perintah untuk memaksimalkan pencarian. Menhub Budi memastikan, proses pencarian tetap akan dilakukan malam ini. Dikatakan Budi, saat ini kapal dari otoritas terkait seperti Badan SAR Nasional, TNI dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub sedang melakukan pencarian. 

“Pada pukul 17.30 WIB, presiden memberikan arahan kepada kami untuk memaksimalkan pencarian. Sudah dikerahkan Basarnas, 4 kapal 3 kapal karet, dari TNI AL KRI Brau, KRI Ada empat kapal di mana kapal tersebut sebagian sudah di TKP,” ucap Menhub Budi.

Terkait kondisi cuaca saat kejadian jatuhnya pesawat itu, kata Menhub Budi, saat ini sedang dikoordinasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Budi pun memohon doa restu dari masyarakat Agar proses pencarian bisa berjalan dengan lancar.

“Kami malam ini akan berkoordinasi di Soetta,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Operasional Badan SAR Nasional, Mayjen TNI Bambang Suryo Aji mengaku mendapatkan kabar pesawat itu hilang kontak dari AirNav. Kemudian langsung ditindaklanjuti dengan mengecek
alat radio pemancar darurat atau sinyal ELT.

Dikatakan Bambang, alat radio pemancar darurat atau ELT pesawat Sriwijaya Air itu tidak mengirimkan sinyal bahaya ke Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Basarnas. Tak hanya Puskodal Basarnas, satelit Australia juga tidak menerima sinyal bahaya tersebut.

“ELT (Sriwijaya) tidak memancarkan mara bahaya dan tidak bisa memberikan informasi. Satelit Australia itu juga tidak bisa menangkap (Sinyal ELT). Kalau alat itu memanancar, kita cepat tahu tidak perlu lagi mencari, di Puskodal” ungkap Bambang dalam konverensi pers.

Dijatakan Bambang, seluruh pesawat yang beroperasi memiliki ELT yang telah terregistrasi yang bisa ditangkap sinyalnya oleh Puskodal Basarnas. Sebab itu seharusnya apabila ada masalah alat itu akan memancarkan sinyal darurat ke puskodal.

“Ini yang kita perlu kroscek,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan Bambang, pihaknya telah mengerahkan unsur alat utamanya menuju lokasi pencarian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. “Jadi posisi pesawat setelah lost contact di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, kurang lebih jaraknya 1,5-2 mil, kalau dari Tanjung Kait sekitar 3 mil,” ucap Bambang.

Dikatakan Bambang, tim SAR bersama unsur gabungan malam ini akan fokus melakukan pencarian titik lokasi pasti jatuhnya pesawat, untuk selanjutnya esok hari ini tinggal melakukan pendalaman di lokasi. “Malam ini konsep kita mencari titik lokasi pesawat itu dimungkinkan jatuh. Dengan harapan besok pagi kita melakukan pencarian dan pendalaman,” kata Bambang.

Sementara, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sudah memberikan instruksinya kepada AU terkait upaya pencarian. Untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan, TNI Angkatan Udara turut menyiagakan helikopter dan pesawat fix wing.

Selain helikopter, TNI AU juga menyiapkan pesawat fix wing Boeing 737 Intai Maritim Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanudin Makassar dan CN-295 Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta.

“Helikoter Super Puma NAS-332 Skadron Udara 6 dan EC-725 Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja Bogor serta personel SAR dari Korpaskhas telah disiagakan,”  ujar Kadispenau Marsma TNI Indan Gilang B.

Tak hanya TNI AL, TNI Angkatan Laut (AL) juga turut membantu Search and Resque (SAR) pesawat nahas tersebut. Unsur KRI yang dikerahkan dari Jajaran Koarmada  I dan Lantamal III, KRI yang digerakkan yakni, KRI Teluk Gili Manuk (onboard Tim Kopaska), KRI Kurau,  KRI Parang,  KRI Teluk Cirebon, KRI Tjiptadi, KRI KRI Cucut -866, KRI Tengiri  dan 2 Sea Rider Kopaska serta 2 kapal Tunda yakni TD. Galunggung dan Malabar.
TNI AL selain itu juga menyiapkan Heli Nbell 412 EP HU 4205 onboard KRI Bontang.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Ini Jumlah Penumpang Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang Jatuh Sekitar Pulau Seribu

Read Next

RS Polri Buka Layanan Keluarga Korban Sriwijaya SJ-182