29 May 2024, 12:03

KPK Sita Uang dari Eks Caleg Gerindra Syammy Dusman

Penyidik KPK merapikan uang sebanyak Rp 52,5 Miliar yang disita dalam pengembangan kasus suap benih lobster (Foto: daulat.co/Rangga Tranggana)

Penyidik KPK merapikan uang sebanyak Rp 52,5 Miliar yang disita dalam pengembangan kasus suap benih lobster (Foto: daulat.co/Rangga Tranggana)

daulat.co – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyita sejumlah uang terkait kasus dugaan suap izin ekspor benih bening (benur) lobster. Kali ini uang yang disita senilai Rp 3 miliar.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, uang itu disita dari Direktur Utama PT Gardatama Nusantara, Syammy Dusman. Uang itu disita saat penyidik memeriksa mantan Caleg Partai Gerindra itu sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait pengurusan izin ekspor benih bening lobster, Selasa (23/3/2021).

“Syammy Dusman, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka EP (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo) dkk. Pada yang bersangkutan dilakukan penyitaan sejumlah uang yang diduga terkait dengan perkara,” ucap Ali Fikri melalui pesan singkatnya.

Penyidik KPK sebelumnya juga telah menyita sejumlah dokumen dan uang dari Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Divisi (Kadiv) Keuangan PT Gardatama Nusantara, Mulyanto pada Jumat, 19 Maret 2021.

KPK belakangan ini sedang intens menelusuri sejumlah aliran uang dugaan suap terkait perizinan ekspor benih bening lobster. Uang dugaan suap itu disinyalir mengalir ke sejumlah aset milik Edhy Prabowo dan ke pihak-pihak lain. Uang itu juga disebut-sebut turut mengalir ke PT Gardatama Nusantara.

KPK sejauh ini telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Diduga Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Diduga suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Penyuap Eks Sekretaris Mahkamah Agung Dituntut 4 Tahui Bui

Read Next

Ini Klarifikasi BUMDes Bodeh Soal Upeti ‘Bina Lingkungan’ BPNT Untuk Anggota DPRD Pemalang