23 May 2024, 22:53

KPK Sebut Kesaksian Ketua BPK Menguntungkan Tersangka Korupsi SPAM

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna memberikan keterangan kepada wartawan usai diperiksa KPK terkait kasus suap proyek pembangunan Sistem Pengadaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2017-2018, Selasa 8 Desember 2020 (Foto: Rangga T/daulat.co)

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna, Selasa (8/12/2020). Agung diperiksa terkait kasus suap proyek pembangunan Sistem Pengadaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tahun Anggaran 2017-2018.

Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Karyoto mengungkapkan, pemeriksaan Agung sebagai saksi meringankan atas permintaan tersangka kasus itu, Rizal Djalil.

Sebagai saksi meringankan, keterangan Agung menguntungkan tersangka Rizal Djalil yang sebelumnya menjabat mantan anggota BPK RI. Dengan kapasitasnya itu, Agung Firman tidak terkait langsung dengan pokok perkara yang menjerat Rizal Djalil.

“Setelah saya cek kesaksiannya beliau adalah sebagai saksi yang menguntungkan, bukan saksi fakta, bukan terkait dalam perkara itu,” kata Karyoto, saat dikonfirmasi, Selasa (8/12/2020).

Agung pun sedianya dapat menolak menghadiri pemeriksaan. “Tidak. Tidak ada kaitan dan itu sebenarnya bagi yang bersangkutan, bagi beliau boleh menolak dan boleh menghadiri. Dalam kaitan ini beliau sebagai kepala lembaga tinggi negara dan bagi kami, KPK dengan BPK pun patner dalam pemberantasan korupsi,” ucap Karyoto.

Karyoto menyampaikan hal tersebut menyusul peristiwa ‘penyambutan’ Karyoto saat Agung tiba lobi Gedung Merah Putih KPK. Tindakan Karyoto menuai kontroversi lantaran Agung Firman hadir di KPK untuk memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik.

Karyoto lantas menjelaskan alasannya ‘menyambut’ Ketua BPK tersebut. Menurut Karyoto, dirinya menunggu di lobi untuk memastikan Agung Firman masuk ke ruang pemeriksaan melalui pintu depan, bukan pintu belakang.

Hal ini lantaran terdapat usulan agar Agung Firman masuk melalui pintu belakang mengingat kapasitasnya sebagai saksi meringankan untuk Rizal Djalil, mantan anggota BPK yang menjadi tersangka kasus suap proyek SPAM.

“Saya jawab ‘tidak bisa’, semuanya sama harus lewat depan. Apalagi memang walaupun sebagai saksi ad charge (meringankan) tapi kan perlakuannya harus sama dengan yang lain lewat depan. Kebetulan tadi saya di situ memastikan beliau harus lewat depan, tidak boleh lewat belakang. Itu saja,” ujar Karyoto.

Usai diperiksa, Agung mengaku dirinya diperiksa sebagai saksi meringankan untuk tersangka mantan anggota BPK RI Rizal Djalil. Agung mengaku prihatin atas perkara yang menjerat Rizal Djalil. Agung meminta agar Rizal bersabar dan tegar dalam menghadapi perkara tersebut.

“Tapi pada saat yang sama kami juga menyampaikan mendukung sepenuhnya penegakkan hukum yang dilakukan oleh KPK,” kata Agung sebelum meninggalkan gedung KPK.

KPK dalam kasus ini menetapkan anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil dan Komisaris PT Minarta Dutahutama Leonardo Jusminarta sebagai tersangka.

Diduga Rizal menerima suap 100 ribu dolar Singapura dari Lenoardo untuk membantu perusahaan PT Minarta Dutahutama agar mendapatkan proyek SPAM jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp 79,27 miliar di Kementerian PUPR.

KPK menduga pemberian uang kepada Rizal melalui seorang perantara. Leonardo sebelumnya menjanjikan akan menyerahkan uang Rp 1,3 miliar dalam bentuk dolar Singapura.

Akhirnya uang tersebut  diserahkan kepada Rizal Djalil melalui salah satu pihak keluarga dengan jumlah SG$100 ribu dan pecahan 1.000 ribu dolar Singapura atau 100 lembar di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Kasus proyek SPAM ini berawal dari OTT yang dilakukan KPK pada 28 Desember 2018 dan mengamankan uang senilai Rp3,3 miliar, SG$239.100, dan US$3.200 atau total sekitar Rp 3,58 miliar. KPK kemudian menetapkan delapan tersangka dan telah ini telah divonis inkracht dengan masa hukuman yang bervariasi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Tetapkan Tersangka Baru Korupsi CSRT di Badan Informasi Geospasial

Read Next

KPK Amankan Sejumlah Dokumen Bansos dari Kantor Kemensos