24 June 2024, 22:41

KPK Sebut Dirut PT PAL Budiman Saleh Kecipratan Uang Korupsi Dirgantara Indonesia

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut sejumlah pejabat di PT Dirgantara Indonesia (persero) kecipratan duit hasil korupsi terkait kegiatan penjualan dan pemasaran di PT Dirgantara Indonesia tahun 2007-2017. Diduga salah satunya adalah Direktur Utama PT PAL Budiman Saleh.

Demikian terungkap saat Ketua KPK, Firli Bahuri mengumumkan penetapan tersangka mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso dan mantan Asisten Direktur Utama bidang Bisnis Pemerintah, Irzal Rinaldi Zailani, dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (12/6/2020). Budiman Saleh diketahui sempat menjabat Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia 2014-2017 serta Direktur Aircraft Integration.

Selain Budiman Saleh, pihak yang disebut kecipratan duit korupsi yakni, Budi Santoso (BS), Irzal Rinaldi Zailani (IRZ), dan General Manager PT Dirgantara Indonesia 2004-2007 sekaligus Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia 2015-2019, Arie Wibowo.

Mereka diduga kecipratan uang setelah sejumlah perusahaan mitra atau agen penjualan menerima pembayaran dari PT Dirgantara Indonesia (persero). Adapun perusahaan mitra tersebut yakni, PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha. KPK menduga mereka menerima sekitar Rp 96 miliar baik transfer maupun tunai setelah perusahaan-perusahaan tersebut menerima pembayaran dari PT Dirgantara Indonesia (persero).

“Yang kemudian diterima oleh pejabat di PT Dirgantara Indonesia (persero) diantaranya Tsk BS, Tsk IRZ, Arie Wibowo, dan Budiman Saleh,” ungkap Firli Bahuri.

Namun, Firli tak merinci secara detail penerimaan uang tersebut. Yang jelas, perbuatan mereka diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara sekitar Rp 205,3 miliar dan USD 8,65 juta.

“Kalau terkait tadi apakah ada pihak lain yang menerima itu akan kita lihat dari bagaimana aliran uang dari para pihak melakukan kegiatan yang tadi saya sampaikan,” imbuh Firli.

Jumlah kerugian negara tersebut merupakan pembayaran yang telah dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia (persero) kepada perusahaan mitra/agen tersebut dalam kurun tahun 2011 hingga 2018. PT Dirgantara Indonesia melakukan pembayaran padahal perusahaan-perusahan itu tidak pernah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perjanjian.

“Mulai bulan juni tahun 2008 s.d tahun 2018, dibuat kontrak kemitraan/agen antara PT Dirgantara Indonesia (persero) yang ditandatangani oleh direktur aircraft integration dengan direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha,” ujar Firli.

Dugaan kasus korupsi ini bermula pada awal 2008, saat Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani bersama-sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh, serta Arie Wibowo menggelar rapat mengenai kebutuhan dana PT Dirgantara Indonesia (persero) untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya. Dalam rapat  tersebut juga dibahas biaya entertaintment dan uang rapat-rapat yang nilainya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui bagian keuangan.

“Selanjutnya Tersangka BS (Budi Santoso) mengarahkan agar tetap membuat kontrak kerjasama mitra atau keagenan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, namun sebelum dilaksanakan, Tersangka BS meminta agar melaporkan terlebih dahulu rencana tersebut kepada pemegang saham yaitu Kementerian BUMN,” ujar Firli.

Setelah sejumlah pertemuan, disepakati kelanjutan program kerjasama mitra atau keagenan dengan mekanisme penunjukkan langsung. Selain itu, dalam penyusunan anggaran pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT Dirgantara Indonesia (Persero), pembiayaan kerjasama tersebut dititipkan dalam ‘sandi-sandi anggaran’ pada kegiatan penjualan dan pemasaran.

Budi Santoso selanjutnya memerintahkan Irzal Rinaldi Zailani dan Arie Wibowo untuk menyiapkan administrasi dan koordinasi proses kerjasama mitra/keagenan. Irzal lantas menghubungi Didi Laksamana untuk menyiapkan perusahaan yang akan dijadikan mitra/agen.

Perbuatan Budi Santoso dan Irzal Rinaldi bersama sejumlah pihak itu diduga melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Berdasarkan informasi, selain Budi Santoso dan Irzal Rinaldi, KPK juga telah menetapkan empat orang lainnya sebagai tersangka terkait kasus ini. Termasuk salah satunya Budiman Saleh. Namun, KPK saat ini baru mengumumkan Budi Santoso dan Irzal Rinaldi sebagai tersangka.

Firli menjawab diplomatis saat disinggung soal pihak lain yang diduga turut terlibat, kecipratan uang dan telah dijerat jadi pesakiatan. Firli berdalih proses penyidikan kasus ini akan berkembang.

“Proses penyidikan ini belum selesai hari ini dan itu akan berkembang. Saya tidak ingin berandai-andai apakah nanti ada orang lain jadi tersangka itu sangat mungkin, karena proses penyidikannya masih berjalan,” tutur Firli.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Jadi Tersangka, Eks Dirut Dirgantara dan Irzal Rinaldi Rugikan Negara Rp 300 Miliar

Read Next

Dijebloskan ke Bui, Eks Dirut dan Pejabat PT Dirgantara Indonesia Kompak Bungkam