29 May 2024, 13:44

KPK Kantongi Eksportir Benur Lobster Lain Pemberi Suap Eks Menteri KKP

KPK

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengantongi nama sejumlah eksportir benih bening lobster atau benur yang diduga memberikan uang kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. Uang dari sejumlah eksportir itu kemudian digunakan Edhy Prabowo untuk membeli barang, diantaranya tas dan jam tangan mewah.

Pemberian uang itu didalami penyidik saat memeriksa Edhy Prabowo pada hari ini,  Rabu (23/12/2020). Edhy diperiksa sebagai saksi untuk tersangka lainnya, yaitu mantan staf khusus Edhy, Andreau Pribadi Misanta.

“Selain itu juga terkait dengan pembelian barang-barang diantaranya tas dan jam tangan mewah berbagai merek selama kegiatan tersebut yang sumber uang untuk pembelanjaan barang-barang tersebut diduga berasal dari para ekspoktir benih benur yang telah mendapatkan izin ekspor,” ungkap Plt Juru Bicara Penindakan KPK Ali Fikri kepada wartawan.

Diketahui, Edhy membeli barang-barang mewah itu saat melakukan kunjungan kerja ke Amerika beberapa waktu lalu. Adapun tas mewah yang dibeli Edhy bermerek Louis dan Hermes. Sementara jam tangan bermerek Rolex.

Selain soal barang-barang mewah, penyidik juga mendalami perjalanan dinas Edhy ke USA. “Penyidik mendalami pengetahuan yang bersangkutan terkait dengan aktifitas perjalanan dinas dan kegiatannya selama berada di USA,” ujar Ali.

Selain Edhy, penyidik juga memeriksa Yudha Pratama selaku ajudan Edhy pada hari ini. Yudha diperiksa sebagai saksi untuk Edhy Prabowo.

“Penyidik mendalami keterangan yang bersangkutan antara lain mengenai isi komunikasi terkait perkara ini dalam handphone yang diamankan saat penggeledahan. Di samping itu hari ini juga dilakukan penyitaan atas handphone tersebut,” ujar Ali.

Dalam perkara ini, KPK baru menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Enam orang sebagai penerima suap yakni Edhy Prabowo; stafsus Menteri KP, Safri, Andreau Pribadi Misata dan Amiril Mukminin; Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi; dan staf istri Menteri KP, Ainul Faqih. Sementara pihak pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito.

Terkait perkara, Edhy Prabowo diduga melalui staf khususnya mengarahkan para calon eksportir untuk menggunakan PT ACK bila ingin melakukan ekspor. Salah satunya adalah perusahaan yang dipimpin Suharjito.

Perusahaan PT ACK itu diduga merupakan satu-satunya forwarder ekspor benih lobster yang sudah disepakati dan dapat restu dari Edhy. Para calon eksportir kemudian diduga menyetor sejumlah uang ke rekening perusahaan itu agar bisa ekspor.

Diduga uang yang terkumpul diduga digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo. Salah satunya ialah untuk keperluan saat ia berada di Hawaii, Amerika Serikat.

Diduga Edhy menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Selain itu, ia juga diduga pernah menerima 100 ribu dolar AS yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening penampung dugaan suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Penyuap Eks Sekretaris MA Segera Diadili

Read Next

Mayoritas Warga Persyarikatan Dari Aceh Hingga Papua Inginkan Bank Syariah Muhammadiyah