23 May 2024, 23:39

KPK Jebloskan Tersangka Hakim Yustisial MA Edy Wibowo ke Bui

daulat.co – Hakim Yustisial sekaligus Panitera Pengganti Kamar Perdata pada Mahkamah Agung (MA), Edy Wibowo (EW) akhirnya dijebloskan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke bui alias jeruji besi. Edy Wibowo ditahan di Rutan KPK pada gedung Merah Putih.

Edy Wibowo merupakan tersangka kasus suap penanganan perkara kasasi kepailitan di Mahkamah Agung (MA). Edy ditahan usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

“Untuk kebutuhan dari proses penyidikan, tim Penyidik menahan tersangka EW (Edy Wibowo) selama 20 hari pertama, dimulai tanggal 19 Desember 2022 sampai dengan 7 Januari 2023 di Rutan KPK pada gedung Merah Putih,” ucap Ketua KPK Firli Bahuri, di gedung KPK, Jakarta, Senin (19/12/2022).

Dalam perkara ini, Edy diduga menerima Rp 3,7 miliar secara bertahap dari Ketua Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar (SKM), Wahyudi Hardi. Diduga suap itu dimaksudjan agar Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar tidak dinyatakan pailit.

“Adapun pemberian sejumlah uang tersebut diduga untuk mempengaruhi isi putusan dan setelah uang diberikan maka putusan kasasi yang di inginkan Wahyudi Hardi dikabulkan dan isi putusan menyatakan Rumah Sakit SKM tidak dinyatakan pailit,” kata Firli.

Dugan rasuah itu berawal ketika terjadi gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ke Pengadilan Negeri Makasar yang diajukan oleh PT Mulya Husada Jaya (MHJ) sebagai pihak pemohon dengan Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar (SKM) sebagai termohon. Selama proses persidangan sampai dengan agenda pembacaan putusan, majelis hakim memutuskan bahwa Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya.

Tak terima atas putusan itu, pihak Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar lantas mengajukan upaya hukum kasasi ke MA. Salah satu isi permohonannya agar putusan di tingkat pertama ditolak dan memutus Yayasan Rumah Sakit Sandi Karsa Makassar tidak dinyatakan pailit.

Dikatakan Firli, pemberian uang oleh Wahyudi Hardi kepada Edy melalui PNS pada Kepaniteraan Mahkamah Agung, Muhajir Habibie dan Albasri selaku PNS pada MA secara bertahap. Diduha serah terima uang dilakukan selama proses kasasi masih berlangsung di MA.

Saat kasasi itu bergulir, Edy Wibowo sebagai Panitera Pengganti. Sidang itu dipimpin oleh
Takdir Rahmadi, dengan didampingi dua hakim anggota, Nurul Elmiyah dan Rahmi Mulyati.

“Sebagai tanda jadi kesepakatan, diduga ada pemberian sejumlah uang secara bertahap hingga mencapai sekitar Rp 3,7 miliar kepada EW yang menjabat Hakim Yustisial sekaligus Panitera Pengganti MA yang diterima melalui MH (Muhajir Habibie) dan AB (Albasri) sebagai perwakilan sekaligus orang kepercayaannya,” ujar Firli.

Atas perbuatannya, Edy Wibowo bersama-sama Muhajir Habibie dan Albasri disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a dan b Jo Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Penetapan tersangka terhadap Edy merupakan rangkaian dari penyidikan perkara dengan tersangka Hakim Agung Sudrajad Dimyati (SD) dkk. KPK sebelumnya telah menetapkan 13 tersangka, yakni:

1) Sudrajad Dimyati, Hakim Agung pada Mahkamah Agung.
2) Gazalba Saleh, Hakim Agung pada Mahkamah Agung.
3) Prasetyo Nugroho, Hakim Yustisial/Panitera Pengganti pada Kamar Pidana MA dan Asisten Hakim Agung Gazalba.
4) Redhy Novarisza, PNS Mahkamah Agung/staf
5) Elly Tri Pangestu, Hakim Yustisial/Panitera Pengganti Mahkamah Agung.
6) Desy Yustria, PNS pada Kepaniteraan Mahkamah Agung.
7) Muhajir Habibie, PNS pada Kepaniteraan Mahkamah Agung.
8) Nurmanto Akmal, PNS Mahkamah Agung.
9) Albasri, PNS Mahkamah Agung.
10) Yosep Parera, Pengacara.
11) Eko Suparno, Pengacara.
12) Heryanto Tanaka, Swasta/Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana.
13) Ivan Dwi Kusuma Sujanto, Swasta/Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana.

(Rangga)

Read Previous

Jadi Tersangka, Hakim Yustisial Edy Terima Suap Rp 3,7 M dari Ketua Yayasan RS Sandi Karsa Makassar

Read Next

Keterangan Saksi Disebut Gugurkan Dakwaan TPPU Surya Darmadi