23 May 2024, 16:47

KPK Jebloskan Tersangka Bupati Bintan Apri Sujadi ke Bui

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Bupati Bintan periode 2016-2021 Apri Sujadi (AS) dan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Wilayah Kabupaten Bintan Mohd Saleh H Umar (MSU).

Kedua tersangka kasus dugaan korupsi terkait Pengaturan Barang Kena Cukai dalam Pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Wilayah Kabupaten Bintan Tahun 2016-2018 itu ditahan 20 hari ke depan untuk kepentingan penyidikan,

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, Apri Sujadi ditahan di Rutan KPK Gedung Merah Putih dan Saleh H Umar ditahan di Rutan KPK C1.

“Untuk kepentingan penyidikan, dilakukan upaya paksa penahanan dan masing-masing tersangka ditahan selama 20 hari ke depan terhitung dari 20 Agustus sampai dengan 31 Agustus 2021,” kata Alexander, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (12/8/2021).

Sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Covid-19 dilingkungan Rutan KPK, kata Alexander, kedua tersangka akan dilakukan isolasi mandiri di Rutan KPK Kavling C1 pada gedung ACLC.

Keduanya digelandang ke mobil tahanan KPK usai menjalani pemeriksaan dalam kapasitasnya sebagai tersangka. Keduanya bungkam saat awak media mengonfirmasi sejumlah pertanyaan terkait kasus yang merundungnya.

Dalam kasus ini, KPK menduga Saleh menetapkan kuota rokok dan minuman keras pada 2016 hingga 2018 tanpa menghitung kebutuhan secara wajar. Dari tahun 2016-2018 pula, BP Bintan diduga menerbitkan kuota miras kepada PT Tirta Anugrah Sukses yang belum mendapatkan izin dari BPOM dan diduga kelebihan atas penetapan kuota rokok di BP Bintan.

KPK menyatakan Apri Sujadi menerima uang sekitar Rp 6,3 miliar dari pengaturan cukai rokok dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) di BP Bintan. Sedangkan Saleh diduga menerima uang sekitar Rp 800 juta.

Dugaan rasuah itu bermula ketika Apri setelah mulai menjabat pada 2016, mengumpulkan distributor yang mendapatkan kuota rokok di sebuah hotel di Batam. Dalam pertemuan itu, Apri diduga menerima sejumlah uang dari para pengusaha rokok yang hadir.

Pada Mei 2017 di sebuah hotel, Apri Sujadi kembali memerintahkan mengumpulkan, serta memberikan arahan kepada para distributor sebelum penerbitan Surat Keputusan Kuota Rokok tahun 2017.

Pada 2017, BP Bintan menerbitkan kuota rokok sebanyak 305.876.000 batang atau 18.500 karton dan kuota MMEA. Dari kouta itu, diduga sebanyak 15 ribu karton merupakan jatah Apri dan 2.000 karton merupakan jatah Saleh, sedangkan 1.500 kuota milik pihak lainnya.

Pada 2018, Apri memerintahkan Kepala Bidang Perizinan BP Bintan Alfeni Harmi menambah kuota rokok BP Bintan 2018 dari 21.000 karton menjdi 29.761 karton. Dari jumlah itu, KPK menduga Apri menguasai 16.500 karton dan Saleh 2.000 karton, sedangkan 11 ribu karton milik pihak lainnya.

KPK menduga dari tindakan kedua tersangka mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 250 miliar. Atas perbuatannya, KPK menjerat Apri dan Saleh dengan Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Kemenag: Arab Saudi Kaji Penggunaan Vaksin Sinovac dan Sinopharm

Read Next

PON Papua XX 2021 Akan Diawali Pertandingan Cabang Olaraga Sofball