27 May 2024, 12:46

KPK Endus Rencana Lukas Enembe Kabur ke Luar Negeri

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengantongi informasi jika Gubernur Papua, Lukas Enembe diduga berencana kabur ke luar negeri. Atas informasi itu, tim KPK dengan dibantu Polda Papua dan satuan Brimob menangkap tersangka dugaan suap dan gratifikasi tersebut.

Ketua KPK, Firli Bahuri mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi bahwa Lukas Enembe akan pergi ke Mamit, Tolikara pada hari ini, Selasa 10 Januari 2023. KPK kemudian menghubungi Wakil Kepala Polisi Daerah (Wakapolda) Papua, Komandan Satuan Brimob, dan Kepala Badan Intelijen Daerah setempat untuk meminta bantuan sejumlah aparat keamanan untuk menangkap Lukas Enembe di Bandara Sentani.

“KPK mendapatkan informasi tersangka LE (Lukas Enembe) akan ke Mamit Tolikara pada hari selasa, tanggal 10 Januari 2023 melalui Bandara Sentani. Karena yang bersangkutan akan keluar Jayapura dan evakuasi ke Jakarta,” kata Firli dalam keterangannya, Selasa (10/1/2023).

Lebih lanjut dikatakan Firli, KPK melakukan upaya paksa terhadap Lukas Enembe sekitar pukul 12.27 WIT atau 10.27 WIB. Tim penyidik dan aparat penegak hukum menangkap Lukas Enembe di daerah Abepura, Papua.

Setelah diamankan, Lukas diboyong ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Lukas tak langsung dibawa ke markas lembaga antikorupsi. Namun, Lukas dibawa lebih dahulu ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta guna menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Pemeriksaan kesehatan di RSPAD,” ujar Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri.

Malam ini, orang nomor satu di Bumi Cenderawasih itu menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan. Pengumuman nasib Lukas usai ditangkap KPK bakal diumumkan besok, 11 Januari 2023.

“Besok baru akan kami sampaikan perkembangannya kepada teman teman semuanya,” kata juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 10 Januari 2023.

Saat penangkapan, kata Ali, dalam pengawasan dokter. KPK membawa dokter untuk mendampingi orang nomor satu di Papua itu selama perjalanan.

“Sekali lagi ini untuk memenuhi hak hak tersangka terkait dengan kesehatannya. Tidak ada terkait pembedaan. Tapi, karena memang alasan kesehatan, tentu terus kita perhatikan,” tutur dia.

Lukas Enembe sebelumnya sudah diumumkan sebagai tersangka oleh KPK secara resmi pada Kamis, 5 Januari. Pengumuman disampaikan bersamaan penetapan dan penahanan Direktur PT Tabi Bangun Papua Rijantono Lakka.

Dalam kasus ini, Rijantono diduga bisa mendapatkan proyek karena kongkalikong dengan beberapa pejabat dan Lukas Enembe sebelum lelang proyek dimulai. Komunikasi diyakini dibarengi pemberian suap.

Kesepakatan dalam kongkalikong Rijantono, Lukas dan pejabat di Papua lainnya yakni pemberian fee 14 persen dari nilai kontrak. Fee harus bersih dari pengurangan pajak.

Setidaknya, ada tiga proyek yang didapatkan Rijantono atas pemufakatan jahat itu. Pertama yakni peningkatan Jalan Entrop-Hamadi dengan nilai proyek Rp 14,8 miliar.

Lalu, rehabilitasi sarana dan prasarana penunjang PAUD Integrasi dengan nilai proyek Rp 13,3 miliar. Terakhir, proyek penataan lingkungan venue menembang outdoor AURI dengan nilai proyek Rp 12,9 miliar.

Setelah proyek itu benar dimenangkan, Rijantono menyerahkan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Lukas. Selain itu, Lukas juga diduga menerima gratifikasi hingga miliaran rupiah. Hanya saja, Lukas ditahan karena dia mengaku sakit. Bahkan, Firli Bahuri bersama tim independen pernah menyambanginya di Jayapura, Papua.

(Rangga)

Read Previous

Wakil Ketua MPR Apresiasi Kemenag Atas Kembalinya Kuota Haji Indonesia Tahun 2023

Read Next

Penangkapan Kombes YBK Jadi Wujud Komitmen Polri ‘Bersih Bersih’ di Korps Bhayangkara