24 May 2024, 02:05

KPK Duga Politikus PDI-P Utut Adianto Minta Rektor Unila Luluskan Calon Mahasiswa

KPK

KPK

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengantongi bukti dan informasi sejumlah pihak yang menitipkan calon mahasiswa baru untuk diluluskan masuk Universitas Lampung (Unila). Diduga salah satu pihak yang turut menitipkan calon mahasiswa baru melalui mantan Rektor Unila, Karomani (KRM) yakni, Politikus PDI-P, Utut Adianto.

Bukti dan informasi itu didalami penyidik KPK saat memeriksa sejumlah pihak pada hari ini, Jumat (25/11/2022). Salah satu saksi yang diperiksa yakni Utut Adianto.

Dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI tersebut tim penyidik mengonfirmasi soal adanya dugaan permintaan agar calon mahasiswa baru titipannya diluluskan masuk Unila lewat orang kepercayaan Karomani. Selain Utut, penyidik KPK juga memeriksa saksi Mustopa Endu Saputra Hasibuan dan Uum Marlina.

Kamis kemarin, tim penyidik juga memeriksa saksi Rektor Unitirta, Fatah Sulaiman; Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Tamanuri; serta empat orang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Helmy Fitriawan; M Komaruddin; Sulpakar; dan Nizamuddin.

Para saksi lainnya itu juga didalami soal dugaan permintaan pemulusan calon mahasiswa baru masuk Unila. Selain itu, para saksi juga didalami soal dugaan penyerahan uang kepada Karomani.

“Didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan adanya permintaan untuk diluluskan menjadi mahasiswa baru melalui perantaraan orang kepercayaan tersangka KRM,” ucap Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri.

Saat ini KPK sedang mengembangkan kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru. KPK menduga banyak pihak yang ‘menitipkan’ calon mahasiswa baru ke Karomani.

KPK membuka peluang untuk menjerat pihak lain dalam kasus ini jika ditemukan bukti permulaan yang cukup. Namun, sejauh ini KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022.

Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM); Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD).

Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Dalam perkara ini, diduga Karomani mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp 350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Dari tarif yang ditentukan itu, Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp 5 miliar. Diduga uang suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri.

Atas perbuatannya, Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sementara Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

(Rangga)

Read Previous

Hetifah Sjaifudian Nilai Guru Telah Menjadi Sosok Teladan Bangsa

Read Next

Jokowi Beri Ucapan Selamat Kepada PM Malaysia Terpilih Anwar Ibrahim