28 February 2021, 07:04

KPK Bisa Usut Dugaan Bansos untuk Kampanye di Sumbawa

Zulkiflimansyah

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengusut dugaan penyaluran bantuan sosial (bansos) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Kabupaten Sumbawa untuk kepentingan kampanye paslon Mahmud Abdullah-Dewi Noviany. Gubernur NTB Zulkiflimansyah diketahui merupakan kakak kandung Novi.

Demikian diisampaikan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman. Boyamin mendorong dugaan itu diusut lembaga antikorupsi lantaran pemberian bansos bukan untuk kepentingan pihak tertentu, tetapi masyarakat umum.

“Bansos itu kan diberikan kepada masyarakat umum yang membutuhkan, tidak terkait dengan kelompoknya sendiri. Bisa saja KPK memprosesnya sebagai dugaan korupsi. Tergantung KPK mau atau tidak,” ungkap Boyamin, Selasa (22/12/2020).

Sebelumnya dugaan bantuan tersebut sudah diendus oleh Bawaslu RI. Terkait pilkada Sumbawa, saat ini Bawaslu NTB tengah mengusut laporan dugaan pelanggaran Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM) yang dilayangkan tim Paslon Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot–Mokhlis terhadap paslon Mahmud Abdullah–Dewi Noviany.

Salah satu yang disoroti pemohon adalah keterlibatan Gubernur NTB Zulkieflimansyah secara TSM untuk menggiring pemilih memenangkan Mo-Novi melalui program bansos sapi dan kambing.

“Kalau Bawaslu menemukan adanya pelanggaran, segera tuntaskan itu. Kalau memang ditemukan bukti yang cakap, segera masukan ke Gakkumdu untuk diproses oleh kepolisian,” ujar Boyamin.

Diketahui, Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) menemukan ada 3.800 kasus dugaan pelanggaran atau tindak pidana dalam Pemilu yang semuanya telah diproses. Rincian ini merupakan data per 30 November 2020 berdasarkan laporan Ketua Sentra Gakkumdu Ratna Dewi sejak bergulirnya tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

112 Kasus sudah sampai tahap penyidikan. Yang paling tinggi dikenakan Pasal 188 dan 171, yaitu perbuatan menguntungkan dan merugikan pasangan calon. Untuk lima provinsi tertinggi yang sudah penyidikan, Sulsel, Maluku Utara, Papua dan Bengkulu.

Bawaslu RI kini menangani 104 laporan dugaan politik uang yang terjadi di Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020. Bawaslu RI juga menindaklanjuti laporan dugaan politik uang di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada dugaan pelanggaran proses pemilu pada masa tenang di NTB.

“Untuk NTB itu terjadi di Mataram dan Sumbawa. Itu yang sedang ditangani, berdasarkan laporan selama masa tenang,” ucap Anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo.

Di luar laporan yang ditangani Bawaslu, sempat mencuat dugaan politik uang yang memanfaatkan program bantuan kambing di Kabupaten Sumbawa. Lewat akun Facebook pribadinya Gubernur NTB Zulkiflimansyah menampiknya. Zulkiflimansyah mengklaim tidak ada program bagi-bagi kambing. Dia mengklaim bantuan itu dibagikan oleh seorang anggota DPR.

Terkait dengan masalah tersebut, Ratna mengaku sudah mengetahuinya dari bawaslu setempat. “Kami sudah dapat informasi itu. Sudah kami klarifikasi, teman-teman di lapangan sudah mengecek,” ujar dia.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya juga telah mengingatkan agar para kepala daerah tidak menyelewengkan dana bantuan sosial (bansos) untuk kepentingan pilkada. Imbauan ini juga ditujukan kepada Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) di bawah kepemimpinan Gubernur Zulkiflimansyah.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan, pihaknya terus memantau dana bansos untuk menanggulangi pandemi virus Corona atau Covid-19. Dikatakan Alex, sapaan Alexander, KPK tidak segan menjerat kepala daerah petahana jika masih berani menggunakan dana bansos untuk Pilkada Serentak 2020.

“Kami ingatkan bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk penyimpangan APBD, kalau sampai bansos itu ditempeli atribut-atribut dari calon petahana, itu yang kami ingatkan,” tegas Alex.

Diakui Alex, pihaknya sudah menemukan kepala daerah patahana yang menggunakan dana bansos untuk Pilkada. Dia memastikan,  pihaknya terus memantau para kepala daerah petahana dengan menggandeng Bawaslu dan KPU.

“Untuk menyalurkan bansos tetapi ditebengi calon-calon dari petahana. Ada beberapa kejadian kan, seperti yang diketahui, kan, ada yang ditempeli identitas dari kepala daerah dan petahana, dan itu juga salah satu bentuk penyimpangannya,” kata Alex.

“Hal itu yang kami ingatkan secara terus menerus kepada calon kepala daerah yang dari petahana supaya tidak menggunakan anggaran daerah APBD dalam hal ini bansos, untuk pencegahan, semacam itu,” sambungnya.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Istri Edhy Prabowo Diminta Kesaksiannya Soal Suap Benur Lobster

Read Next

Djoko Tjandra dan Anita Kolopaking Divonis 2,5 Tahun, Brigjen Prasetijo 3 Tahun Penjara