20 May 2024, 22:42

KPK: Azis Syamsuddin Minta Penyelidikan Walkot Tanjungbalai Tak Naik Penyidikan

M Azis Syamsuddin - dok DPR

M Azis Syamsuddin – dok DPR

daulat.co – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri tak membantah dugaan keterlibatan Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin dalam kasus dugaan suap Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial kepada penyidik KPK unsur Polri Stepanus Robin Pattuju (SRP).

Azis Syamsuddin disebut meminta Stepanus Robin Pattuju agar penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungbalai yang diduga merundung Syahrial tidak ditindaklanjuti lembaga antikorupsi.

Permintaan itu terjadi dalam pertemuan di rumah dinas Azis Syamsuddin pada Oktober 2020. Sebelum melayangkan permintaan, Azis memperkenalkan lebih dahulu Syahrial kepada Stepanus. Syahrial merupakan kolega separtai Azis Syamsuddin di Partai Golkar.

“Dalam pertemuan tersebut, AZ (Azis Syamsuddin) memperkenalkan SRP (Stepanus Robin Pattuju) dengan MS (M Syahrial) karena diduga MS memiliki permasalahan terkait penyelidikan di KPK agar tidak naik ke tahap penyidikan dan meminta agar SRP dapat membantu supaya permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK,” ungkap Firli dalam jumpa pers, di kantor KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021) malam.

Usai pertemuan itu, Stepanus Robin kemudian memperkenalkan Syahrial kepada pengacara Maskur Husein untuk membantu. Stepanus dan Maskur selanjutnya sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp 1,5 miliar.

Dari jumlah komitmen itu, Stepanus diduga telah menerima Rp 1,3 miliar. Pemberian uang itu dilakukan secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik Riefka Amalia, teman dari saudara Stepanus.

“MS (Syahrial) menyetujui permintaan SRP (Robin) dan MH (Maskur) tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia) teman dari saudara SRP, dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp 1,3 miliar,” ujar Firli.

Dikatakan Firli, pembuatan rekening Bank atas nama Riefka Amalia dilakukan sejak Juli 2020 atas inisiatif Maskur. Setelah uang diterima, Robin kembali menegaskan kepada Maskur dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemkot Tanjungbalai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK.

“Dari uang yang telah diterima oleh SRP dari MS, lalu diberikan kepada MH sebesar Rp 325 juta dan Rp 200 juta. MH juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp 200 juta sedangkan SRP dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp 438 juta,” ucap Firli.

Dalam kasus ini, KPK menjerat Stepanus Robin, Syahrial, dan Maskur sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan perkara di KPK. Atas perbuatannya, Robin dan Maskur yang diduga penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 dan Pasal 12B UU No. 31 Tahun 1999 UU No. 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Syahrial yang diduga pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 UU No. 20 sebagaimana yang telah diubah dan ditambah UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Polisi Obrak-Abrik Gubuk Yang Diduga Jadi Tempat Prostitusi di Pantai Wisata Blendung

Read Next

Dalami Suap Walkot Tanjungbalai, KPK Isyaratkan Periksa Azis Syamsuddin