23 May 2024, 15:44

Korupsi Jiwasraya Preskom PT TRAM Heru Hidayat untuk Beli Apartemen Anak

Jiwasraya

daulat.co – Hasil dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (PT AJS) oleh Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat mengalir ke anaknya yang bernama Joanne Hidayat. Heru memberikan uang hasil dugaan korupsi dan kemudian digunakan untuk membeli beberapa unit apartemen.

Demikian terungkap dalam surat dakwaan jaksa terhadap terdakwa Heru yang dibacakan di pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (3/6/2020). Dalam surat dakwaan termaktub dua pembelian apartemen dalam rentang waktu berbeda.

“Terdakwa Heru Hidayat menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yaitu melakukan pembelian dengan cara memberikan sejumlah uang kepada Joanne Hidayat yang merupakan anak terdakwa Heru Hidayat kemudian digunakan untuk membeli beberapa unit apartemen :
1 (satu) unit Apartemen Casa de Parco type studio yang dibeli pada tahun 2014;
1 (satu) unit Apartemen Senopati Suite 2 unit lantai 6 type 3 Bedroom, perolehan tahun 2019,” ujar jaksa.

Selain itu, terdakwa Heru melakukan TPPU dengan modus mengakuisisi atau mengambil alih kepemilikan sejumlah perseroan. Salah satunya, mengakuisisi PT SMR Utama Tbk (SMRU).

“Terdakwa Heru Hidayat melalui PT Trada Alam Minera Tbk (PT. TRAM) yang sebelumnya bernama PT. Trada Maritim, Tbk (TRAM), pada tanggal 12 September 2017 melakukan pembelian dengan cara mengakuisisi PT. SMRU sejumlah 6,26 miliar lembar saham SMRU yang dimiliki PT. Lautan Rizki Abadi berdasarkan perjanjian pengikatan jual beli saham (PPJB) pada 8 September 2017,” ujar jaksa.

Pada tanggal 3 Desember 2017, sambung jaksa, PT. TRAM melakukan Right Issue (menambah jumlah saham yang beredar) sesuai pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tanggal 30 November 2017, dengan menerbitkan 3,32 miliar lembar saham baru dengan harga per lembar sahamnya sebesar Rp 150 per saham, sehingga menjadi Rp 5.980.000.000. Selain menerbitkan saham baru, PT. TRAM juga menerbitkan penawaran seri II dengan nilai pelaksanaan sebesar Rp 515.370.000.000.

“Pembelian PT. SMRU merupakan uang yang diperoleh dari investasi PT. AJS melalui pengendalian pengelolaan saham oleh JOKO Hartono Turto
yang terafiliasi dengan Terdakwa Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputra sebagai biaya proses akuisisi anak perusahaan PT. TRAM yakni PT. SMRU,” ungkap jaksa.

Heru juga mengakuisisi dan membeli asset-aset perusahaan atas nama PT. Gunung Bara Utama (PT. GBU).
Dikatakan jaksa, PT. Gunung Bara Utama (GBU) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara terletak di Desa Dempar
Kecamatan Nyuatan Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur.

“Head Office beralamat di Bapindo Plaza Citibank Tower 27th Jl. Jenderal Sudirman Kav 54-55 Senayan, Kebayoran Baru Jakarta Selatan DKI Jakarta, yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian No. 15 tanggal 29 Maret 2007, dibuat dihadapan Notaris BENEDIKTUS ANDY WIDYANTO dan perubahan Anggaran Dasarnya melalui Akta Anggaran Dasar No. 15 tanggal 4 Oktober 2019 jo. Akta No. 35 tanggal 31 Juli 2008,” terang jaksa.

Selain itu, Heru melalui PT Black Diamond Energy dan PT Batu Karya Berkat mengakuisisi PT Gunung Bara Utama dari Tan Drama dan Alfian Permana pada bulan Oktober 2009. Komposisi saham PT GBU pada bulan Oktober 2009 adalah 80% dimiliki oleh PT Black Diamond Energy dan 20 % dimiliki PT Batu Karya Berkat.

Selanjutnya, kata jaksa, setelah mengalami beberapa kali perubahan komposisi pemegang saham, sampai saat ini pemengang saham PT GBU berdasarkan Akta Notaris Benediktus Andi Widyanto, SH No. 23 Tanggal 28 Agustus 2017, yakni PT Batu Karya Berkat 74,81% dan PT Black Diamond Energy 25,19%.

Pada bulan Oktober 2009, lanjut jaksa, terdakwa Heru Hidayat atas nama PT GBU melakukan pembelian berupa aset-aset tidak lancar antara lain tanah dan bangunan, kendaraan bermotor, dan alat-alat berat, sehingga berdasarkan Laporan Keuangan, Audited KAP ANWAR & REKAN per-31 Desember 2018 aset tidak lancar berupa piutang jangka panjang, aset pajak tanggungan, aset tetap, aset tidak berwujud, properti pertambangan, dana yang dibatasi pengunannya, aset keuangan tidak lancar lainnya sebesar Rp 1.770.392.446.409.

Heru juga mengakuisisi PT Batutua Way Kanan Mineral (PT. BWKM). Perusahaan itu merupakan perusahaan tambang mineral dengan luas lahan 5.911,7 hektar di Kabupaten Way Kanan, Lampung dengan Surat Ijin Pertambangan – Operasi Produksi (IUP-OP) Mineral Logam (emas).

“Pada tahun 2018 Terdakwa Heru Hidayat melakukan pembelian perusahaan PT Batutua Way Kanan Mineral melalui PT. ANEKA MINERA INDONESIA (PT.AMI) melalui proses penyertaan modal perusahaan sejumlah Rp 52.000.000.000 kepada PT. BWKM,” ujar jaksa.

Terkait TPPU, terdakwa Heru didakwa dengan Pasal 3 ayat (1) huruf c UU 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas UU 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Heru juga didakwa dengan Pasal 4  UU 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Adapun dalam perkara dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya, Heru didakwa bersama-sama sejumlah pihak. Yakni, eks Dirut PT Asuaransi Jiwasraya Hendrisman Rahim; mantan Dirkeu PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo; mantan Kadiv Investasi PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan; Direktur PT Hanson Internasional Benny Tjokrosaputro; dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto. Perbuatan Heru bersama-sama sejumlah pihak itu merugikan negara senilai Rp 16,8 triliun.

Atas perbuatan itu, Terdakwa Heru Hidayat didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 dan atau Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) UU 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Nama Tahir dan Mayapada Disebut Dalam Dakwaan TPPU Benny Tjokrosaputro

Read Next

KPK Isyaratkan Jerat Eks Sekretaris MA Nurhadi Dengan Pasal Pencucian Uang