27 May 2024, 14:38

Korupsi CSRT, KPK Kantongi Bukti Suap PT Bhumi Prasaja ke Pejabat BIG dan LAPAN

KPK

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengantongi dugaan aliran dana ke sejumlah pejabat Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dari PT Bhumi Prasaja. Diduga suap tersebut terkait pengadaan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) pada BIG bekerja sama dengan LAPAN Tahun Anggaran 2015.

Dugaan aliran dana itu didalami penyidik dengan memeriksa Direktur PT Bhumi Prasaja, Rasjid A Aladdin pada Jumat (22/1/2021). Rasjid saat itu diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Citra Satelit Resolusi Tinggi (CSRT) pada BIG yang bekerjasama dengan LAPAN tahun 2015, untuk tersangka mantan Kepala BIG, Priyadi Kartono (PRK).

“Dikonfirmasi mengenai proses perencanaan, pelaksanaan pengadaan, dan penerimaan pembayaran pekerjaan oleh Lapan serta dugaan adanya pemberian sejumlah uang dalam bentuk ‘fee’ kepada pihak-pihak tertentu di BIG dan Lapan,” ungkap Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, Rabu (10/2/2021).

Selain soal aliran dana, dalam pemeriksaan ini, tim penyidik juga mencecar Rasjid mengenai proses PT Bhumi Prasaja menjadi salah satu rekanan atau penyedia dalam pengadaan CSRT. “Dikonfirmasi juga mengenai proses perencanaan, pelaksanaan pengadaan, dan penerimaan pembayaran pekerjaan oleh LAPAN,” ucap Ali.

Pada Kamis (21/1/2021), tim penyidik juga telah memeriksa dua saksi, yakni Kepala Bidang Pelayanan Teknis dan Promosi Pusfatekgan LAPAN tahun 2015, Henny Sulistyawati; dan Kepala Bidang Pustekdata LAPAN, Ayom Widipaminto. Tim penyidik KPK saat memeriksa Henny menyita barang bukti yang terkait dengan perkara.

“Sementara Ayom Widipaminto digali pengetahuannya terkait dugaan menerima sejumlah uang dan fasilitas khusus dari beberapa pihak rekanan dalam pengadaan CSRT tahun 2015,” ujar Ali.

Diketahui, KPK telah menetapkan Kepala BIG tahun 2014-2016 Priyadi Kardono dan mantan Kepala Pusat Pemanfaatan Teknologi Dirgantara LAPAN periode 2013-2015, Muchamad Muchlis sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan CSRT pada BIG bekerja sama dengan LAPAN Tahun Anggaran 2015. Perbuatan kedua tersangka diduga membuat keuangan negara menderita kerugian hingga Rp 179,1 miliar.

Kasus ini bermula pada 2015, saat BIG bekerjasama dengan LAPAN dalam pengadaan CSRT. Sejak awal proses perencanaan dan penganggaran pengadaan tersebut, Priyadi dan Muchlis diduga telah bersepakat untuk merekayasa proyek yang bertentangan dengan aturan pengadaan barang dan jasa yang di tentukan oleh Pemerintah.

Keduanya telah menggelar pertemuan beberapa kali dengan pihak tertentu dan perusahaan calon rekanan yang telah ditentukan menerima proyek, yakni PT Ametis Indogeo Prakarsa dan PT Bhumi Prasaja, sebelum untuk membahas persiapan pengadaan CSRT.

Atas perintah kedua tersangka, penyusunan berbagai dokumen Kerangka Acuan Kerja (KAK) sebagai dasar pelaksanaan CSRT langsung melibatkan PT Ametis Indogeo Prakarsa dan PT Bhumi Prasaja agar “mengunci” spesifikasi dari peralatan CSRT tersebut.

Untuk proses pembayaran kepada pihak rekanan, para tersangka juga diduga memerintahkan para stafnya untuk melakukan pembayaran setiap termin tanpa dilengkapi dokumen administrasi serah terima dan proses Quality Control (QC).

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Perkara Inkracht, Eks Dirkeu PT Angkasa Pura II Mulai Mendekam di Lapas Cibinong

Read Next

Ada Peluang Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 Digelar Tahun Ini