26 May 2024, 06:38

Komisi XI Soroti Soal Akses Pembiayaan UMKM Oleh Perbankan

daulat.co – Anggota Komisi XI DPR RI Hendrawan Supratikno menyoroti soal akes pembiayaan UMKM yang dilakukan pihak perbankan. Hal itu diungkapkan Hendrwan baru-baru ini saat melakukan Kunjungan Spesifik (Kunspek) Komisi XI DPR ke Semarang, Jawa Tengah.

Menurut data yang didapatkan Hendrawan, Net Interest Margin antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan di Indonesia selisihnya sangat tinggi, yakni 4,7 persen. “Selisih antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan di Indonesia itu masih sangat tinggi, dan di Jawa Tengah lebih tinggi lagi, yaitu angkanya 6,6 persen,” ungkap Hendrawan.

Menurut Hendra perbedaan selisih bunga yang cukup tinggi tersebut perbankan secara tidak langsung seperti renternir. “Jadi bank tanpa disadari bermetamorfosa menjadi rentenir. Ini yang menjadi keprihatinan kami,” katanya.

Selain itu, Hendrawan juga menyayangkan soal sistem kredit yang dinilai merugikan nasabah. “Demikian juga kredit usaha rakyat, misalkan 30 juta tapi kenyataan yang diterima oleh nasabah ini hanya sekitar 17 juta. Setelah dipotong biaya administrasi dan biaya angsuran 3 bulan pertama,” ucapnya.

“Nah, kalau seperti ini perbankan tidak bisa menjalankan fungsi intermediary, fungsi perantara dengan efisien, ini berbahaya. Ekonomi kita akan menjadi ekonomi yang tidak efisien, akses rakyat terhadap pembiayaan akan sangat sulit. Itu yang kami soroti,” imbuhnya lagi.

Hendrawan juga mengatakan akan pentingnya ketahanan ekonomi rakyat, karena hal itu bisa menentukan stabilitas politik nasional. “Itu sebabnya, Komisi XI terus menerus mendorong agar seluruh akses, dari rakyat usaha kecil menengah ini kepada sumber-sumber ini harus dibuka. Sebab kalau tidak, ekonomi kita akan menjadi ekonomi yang sangat timpang.” Kata Hendrawan.

Sementara itu, konstruksi Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia mencapai 57 persen dari konsumsi. Hal itu menunjukkan tingkat konsumsi di Indonesia masih sangat tinggi. “Coba anda berikan, begitu anda punya uang, maka konsumsi kita akan meningkat. Itu menunjukkan bahwa Marginal Prospensity to Consume, kecenderungan masyarakat berkonsumsi masih sangat tinggi,” bebernya.

Dia juga meminta masyarakat tidak takut dengan adanya isu resesi yang diramalkan akan terjadi pada tahun mendatang. “Masalahnya, hanya sumber pendapatan saja, jadi itu sebabnya, tidak perlu ditakuti lagi resesi ini,” pungkasnya.

Read Previous

Kemendagri: SIPD RI Jadi Penghubung Antar Pemda dengan Sistem Satu Data Indonesia

Read Next

Kemendagri: SIPD Mampu Menyeragamkan Proses Pengelolaan Keuangan Daerah