24 June 2024, 22:37

Komisi X: Terobosan Dibutuhkan Untuk Tingkatkan Literasi di Era Digital

daulat.co – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menjelaskan bahwa tingkat literasi di Indonesia masih kurang memuaskan, tentu ini harus menjadi perhatian serius oleh pihak-pihak terkait. Merujuk pada data Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki tingkat literasi rendah di tahun 2019, di peringkat 62 dari 70 negara. 

Abdul Fikri menyampaikan keprihatiannya dengan serius terkait tingkat literasidi Indonesia yang masih sangat rendah. “Kita baru saja membentuk Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP). Kita sedang menggali kenapa kita selalu tertinggal, apakah dari pemerintah, pemerintah itu dari desa kabupaten, kota atau provinsi atau dari pemerintah pusat atau dari masyarakat,” kata Abdul Fikri baru-baru ini di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

“Kita akan terus menggali, sebabnya apa sehingga tingkat literasi ini sangat rendah. Faktanya kan banyak taman bacaan masyarakat, perpustakaan sekolah, nah ini seperti apa. Pada masa sidang nanti akan kita gali, temuan di Kabupaten Boyolali ternyata tingkat literasinya peringkat 7 terbaik di Indonesia, saya kira best practice nampaknya kalau perlu nanti kita undang juga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Fikri sampaikan bahwa harus ada terobosan-terobosan di era digital ini, karena sekarang eranya anak-anak pakai gadget, semuanya pakai online. “Kita tentu targetnya dalam meningkatkan literasi enggak peduli apakah ini pakai buku secara langsung atau mungkin pakai gawai atau apa saja karena memang eranya berubah, yang terpenting nantinya tingkat literasi bisa meningkat,” ujar Fikri.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Boyolali  Said Hidayat  menyampaikan bahwa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Boyolali dalama meningkatkan literasi atau minat baca yaitu dengan komunikasi dan sosialisasi, komunikasi kepada ruang-ruang lingkup Pendidikan. “Kita dorong, kita bangun kesadaran, kata kuncian adalah membangun kesadaran, kita bangunkan perpustakaan yang baik,” ucapnya.

“Ini bagian juga yang memberikan dorongan anak-anak, karena ini secara rutin dari sekolah-sekolah hadir langsung ke perpustakaan diantar para guru-gurunya juga hadir di perpustakaan untuk apa membaca secara langsung buku-bukunya. Dengan program kita “Boyolali Kaya Cerita”, ini satu langkah yang dilakukan Boyolali dan kita mulai tahun 2022 yang lalu dengan menghasilkan 22 buku tentang kearifan lokal boyolali dan tahun 2023 ini adalah 39 buku yang dapat kita hadirkan sehingga secara keseluruhan sudah ada 61 buku dalam konsep Boyolali Kaya Cerita,” ucapnya.

(Abdurrohman)

Read Previous

Sahroni Dorong Polemik Johanis Tanak Diselesaikan di Hadapan DPR RI

Read Next

Legislator Nilai Guru Harus Diangkat PNS Untuk Kebijakan Jangka Panjang