16 January 2021, 09:45

Kasus Suap DAK 2018, KPK Jebloskan Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman ke Bui

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman

daulat.co – Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman resmi dijebloskan ke jeruji besi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (23/10/2020). Tersangka kasus dugaan suap terkait dengan pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota Tasikmalaya Tahun Anggaran 2018 itu ditahan di rumah tahanan (Rutan) Gedung ACLC KPK untuk 20 hari pertama.

“KPK melakukan penahanan tersangka BBD (Budi Budiman) selama 20 hari ke depan, sejak hari ini tanggal 23 Oktober 2020 sampai dengan 11 November 2020 di Rutan KPK Cabang Gedung ACLC KPK yaitu di kavling C1,” ucap Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron, di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta.

Sebelum menjalani penahanan, Budi Budiman akan menjalan isolasi mandiri sesuai protokol kesehatan. “Sebagai protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 maka tahanan akan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rutan cabang KPK tersebut,” tutur Ghufron.

Dikatakan Ghufron, setidaknya 33 saksi dan dua ahli telah diperiksa untuk melengkapi berkas perkara penyidikan. Budi adalah tersangka kasus dugaan suap terkait dengan pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota Tasikmalaya TA 2018. Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam pengembangan kasus suap terkait pengurusan DAK ini sejak 26 April 2019. 

Diduga Budi menyuap mantan pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yaya Purnomo sebesar Rp 400 juta. Budi bertemu dengan Yaya para 2017, dalam pertemuan itu, Yaya menawarkan bantuan pengurusan DAK.

Tepatnya Mei 2017, Budi mengajukan usulan DAK Tasikmalaya tahun 2018 di sejumlah bidang mulai dari jalan, irigasi dan rumah sakit. Pada 21 Juli 2017, Budi kembali bertemu dengan Yaya di Kemenkeu.

Pada Oktober 2017, Kota Tasikmalaya diputuskan mendapat DAK Rp 124,38 miliar. Budi pun kembali memberikan uang Rp200 juta ke Yaya pada 3 April 2018. Budi merupakan tersangka ketujuh dalam pusaran kasus dugaan suap terkait pengurusan DAK ini.

Budi dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan itu, Yaya Purnomo telah divonis 6,5 tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta subsider satu bulan dan 15 hari kurungan karena terbukti menerima suap dan gratifikasi dalam pengurusan DAK dan Dana Insentif Daerah (DID) di sembilan kabupaten.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Gema Ormas MKGR Tegaskan Dukung UU Cipta Kerja

Read Next

Penguatan Moderasi Beragama Masuk dalam Manasik Haji